Masyarakat Galing Sambas : Adat Berbagi Setelah “Beranyi” yang Termakan Zaman


Jailani bersama keluarga sedang membacakan dan menceritakan perihal budaya makan nasi baru di galing.

Gelap dan sunyi mendominasi suasana saat itu. Tidak satupun aktivitas terdengar. Hanya jangkrik dan binatang malam lainnya bersahutan dengan suara khasnya masing-masing. Sementara itu, jarum pendek jam telah menunjukan angka 8, bersertaan dengan waktu istirahat bagi  penduduk Kampung Sagang, Tri Kembang, Galing, Sambas pada Jumat (30/11/2012), setelah sibuk beraktifitas. Di sebuah rumah yang terang oleh lampu putih, tampak dari kaca depan rumah tersebut,  Jailani, seorang tokoh masyarakat yang juga sebagai dukun kampung di Sagang sedang duduk bersantai bersama keluarga di ruang tamunya saat saya temui untuk wawancara perihal budaya Ruahan yang ada di daerah tersebut.

Jailani memakai baju putih bersatukan warna merah di lengannya dan mengenkan sarung puith bercorak batik. Di Usia paruh bayanya itu, ia masih kelihatan segar meski agak kurus. Rambutnya keputihan dan beberapa tidak lagi  tumbuh rambut di atas ubunnya. Beliau sangat antusias saat saya temui untuk diwawancara.

“Telah banyak adat menanam padi yang tidak lagi di laksanakan di desa ini” ujar Jailani.

Menurut Jailani, banyak hal yang mengenai adat menanam padi yang telah hilang di di Sagang. Termasuk juga adat Ruahan, Makan Nasi Baru, Ninggerkan yang dulunya tiap rumah di sagang melakukannya tiap tahun tepatnya setelah Beranyi (panen padi).

Ninggerkan  (makan nasi baru) dilakukan  setelah padi dipanen, akan ada budaya makan nasi baru di masyarakat. Ini dilakukan agar padi yang kita dapatkan tahun depan setelah di sedekahkan akan bertambah banyak. Di saat inilah warga yang telah memanen padinya untuk berbagi hasil panennya melalui makan-makan dengan masyarakat sekitar.

“ Kamilah yang di undang dan membacakan doa dalam acara tersebut” ujar Jailani.

Menurut Jailani ada beberapa mantra yang di baca di saat acara ruahan ini. Adapaun mantra dalam acara ini adalah:

Allahuma inni aulie

Tingkaseh allah akan die

Sifat kodrat dijadikan allah

Naik haji ke baitullah muhaaram

Dari makkah ke mahdinah

Dari kampong ke kampong

Nabi muhammad SAW

Akamane di dalam dunie yang tarrang

Intak jaohkan balla dari dunie sampai aherat

Tetutup pintu najis

Tebukak pintu yang kaye

Lahawala watailla illa ilazim amin.

Mantra tersebut dibacakan saat memulai ruahan. Pada acara tersebut para masyarakat akan berdoa bersama. Menurut Jailani acara tersebut adalah bersyukur dan berbagi hasil padi pada masyrakat. Dari berbagilah diharapkan hasil panen yang akan datang dapat memuaskan dan lebih banyak dari sebelumnya.

“ Jika hasil padi memuaskan maka orang diharapkan dapat membagi hasil padinya” ujar Jailani.

Jailani menjelaskan bahwa orang yang akan beruah  haruslah orang yang mendapatkan hasil padi yang memuaskan. Dan apabil tidak di lakukan hal tersebut maka hasil padi akan datang akan tidak seperti biasanya.

Begitulah kearifan lokal masyarakat yang ada saat dulu. Di masa yang modern ini hal tersebut telah termakan zaman. Tiada lagi adat memberi dan berbagi dilakukan oleh masyarakat. Ini disebabkan oleh kurangnya hasil padi dan kurangnya perhatian dari masyarakat terhadap budaya yang semakin lama semakin habis termakan zaman. Apakah budaya modern tidak mengajarkan berbagi dan memberi? (Oleh : Mariyadi)

 

 

 

 

Previous Dasar vs Permukaan
Next Akan Ada France Corner di Untan

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *