Malaysia dan Petani Perbatasan


 

Oleh Dodoy 

mimbaruntan.com, Entikong – Kecamatan Entikong khususnya Desa Nekan memiliki hasil pertanian yang melimpah seperti karet, kacang tanah, padi, dan lada. Lada merupakan hasil pertanian andalannya. Hampir disetiap halaman rumah warga terdapat jemuran-jemuran lada. Lada memiliki nilai jual yang cukup tinggi, hal ini juga didukung oleh kondisi geografis wilayahnya yang bagus.

“Masyarakat disini rata-rata memiliki kebun lada karena harga jual yang lumayan bagus,” ujar Sanusi, salah seorang warga Desa NeLada, salah satu hasil pertanian di desa Nekan, Kecamatan Entikongkan, Minggu (12/5). Selain memiliki kebun lada, Sanusi juga memiliki kebun karet yang saat ini menjadi andalan perkebunannya. ”Selama ini hasil-hasil pertanian yang ada semua di jual ke Malaysia jadi setiap panen semuanya dijual ke Malaysia,” tambah Sanusi. Sanusi mengatakan, yang menjadi persolalan saat ini adalah kapan pasar Indonesia dilirik oleh petani untuk dapat menjual hasil pertanian dan perkebunan mereka. Selain itu pemerintah juga harus menyikapi serius mengenai hasil pertanian yang benyak dijual ke Malaysia.

Pasar Malaysia sangat potensial bagi pertanian di perbatasan, selain akses mudah bagi petani untuk menjual hasil pertaniannya, juga diikuti dengan nilai jual yang sangat tinggi jika dibandingkan pasar dalam negeri. ”Harga pasar di Malaysia lebih kompetitif, lebih mahal dalam hal membeli hasil pertanian masyarakat di perbatasan, atau lebih bagus bagi hasil pertanian masyarakat, sehingga tidak heran jika kita lihat banyak masyarakat tani yang menjualkan hasil pertanian dan perkebunannya ke seberang (Malaysia) seperti lada, kacang tanah, karet serta komoditas lainnya,” ujar Sanusi. Menurut Sanusi, jika memang di perbatasan ini ada tempat untuk menjual hasil pertanian yang melimpah, tentu masyarakat tidak akan menjual hasi pertanian nya keluar negeri. ”Pemerintah selalu menggalakkan petani untuk mengembangkan pertaniannya, namun ketika panen melimpah petani kebingungan untuk menjual hasil pertaniannya. Jika keadaan sebaliknya terjadi tentu masyarakat lebih memilih menjual hasil pertaniannya di dalam negeri, dan tanpa disuruh juga petani akan terus meningkatkan pertaniannya. Bagi mereka market adalah sangat penting untuk hasil pertaninan. Kadang juga menjadi kendala namun itu adalah solusi bagi petani perbatasan saat ini, karena pasar didalam negeri sendiri masih belum mampu untuk mengakomodir hasil pertanian wilayah perbatasan,” tambah Sanusi. Sanusi mengungkapkan, padahal banyak lahan-lahan yang berpotensi untuk terus dikembangkan menjadi lahan pertanian berskala besar, namun hal tersebut belum dapat dikelola secara optimal oleh masyarakat, mengingat akses penjualan serta perhatian dari pemerintah dinilai belum memberi angin segar bagi masyarakat tani disini. ”Potensi di Nekan sendiri hingga hari ini belum terkelola secara optimal, padahal kita lihat lahan-lahan yang dimiliki sangat luas, kapan lagi masayarkat dibantu oleh pemerintah untuk mengelola lahan-lahan ini,” tambah Sanusi.

Nekan kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) tapi dalam pengembangan masih belum begitu optimal, sehingga peran pemerintah dirasakan perlu untuk andil dalam pemberdayaan sumber alam itu. “Pemanfaatan lahan kosong oleh pemerintah juga menjadi hal penting untuk terus diperhatikan, selain pemberdayaan terhadap masyarakatnya,“ ujar Sanusi. Sanusi mengatakan, Wilayah yang subur ini sangat cocok untuk dikembangkan barbagai komoditi pertanian seperti yang telah dilakukan oleh masyarakat. Dengan kondisi seperti ini tidak sulit jika ingin mengembangkan jenis komoditi apa saja, termasuk semangkan yang sempat ditanam. ”Untuk itu saya berharap jika ada bantuan-bantuan yang datang agar dapat dimanfaatkan dan memberi dampak positif bagi petani Nekan. Sebagai daerah yang memiliki tanah yang subur maka sangat disayangkan jika potensi tersebut tidak diberdayakan, namun jika di manfaatkan dengan melakukan pembukaan lahan pertanian, maka potensi tersebut sangat membantu perkonomian masyarakat setempat,” tambah Sanusi.

Sanusi mengungkapkan, kendala yang dihadapi oleh petani saat ini adalah hama tikus yang merusak tanaman tentunya sangat merugikan petani dan terancam gagal. Oleh karena itu mohon pemerintah untuk dapat membantu petani baik dalam pemasaran maupun pemberantasan hama agar hasil pertanian menjadi tidak gagal panen dan dapat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak terutama untuk memenuhi persediaan pangan dalam negeri, pungkasnya. []

 

Previous Persipon Kalah Elka Kecewa
Next Ruangan Kurang, Untan Akan Bangun Gedung di Samping Rektorat

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *