Sawitku Lanjut, Lingkunganku Aman


kebun sawitOleh Nabu

Perkebunan kelapa sawit mungkin tidak lagi asing didengar saat ini. Perkebunan kelapa sawit sekarang sudah menjadi primadona dan salah satu penyumbang terbesar pendapatan negara di sektor perkebunan. Perkebunan kelapa sawit ini juga sudah banyak dibuka didaerah-daerah perdalaman. Jadi dengan itu, diharapkan bisa memberikan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan  didaerah tersebut.

Tapi, hal ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi di masa ini. Kelapa sawit menjadi sosok yang menyerampkan bagi sebagian pihak dan membuat sebagian orang berpikiran negatif. Disinilah penulis memberi pengertian kepada pembaca, bahwa perkebunan sawit tidaklah seburuk yang dipikirkan.

Dalam perekonomian Indonesia, kelapa sawit (dalam hal ini minyaknya) mempunyai peran yang cukup strategis, karena : (1) Sawit merupakan bahan baku utama minyak goreng, sehingga pasokan yang berkelanjutan ikut menjaga kestabilan harga dari minyak goreng tersebut. Ini penting sebab minyak goreng merupakan salah satu dari 9 bahan pokok kebutuhan masyarakat sehinga harganya harus terjangkau oleh seluruh lapisan masarakat. (2) Sebagai salah satu komoditas pertanian andalan ekspor non migas, komoditi ini mempunyai prospek yang baik sebagai sumber dalam perolehan devisa maupun pajak. (3) Dalam proses produksi maupun pengolahan juga mampu menciptakan kesempatan kerja dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Minyak sawit digunakan selain sebagai bahan baku minyak makan, juga sebagai bahan baku margarinsabun, kosmetika, industri bajakawatradiokulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.

Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.

Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak gorengsabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan pakan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang. Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.

Pengembangan perkebunan di Indonesia, yang berupa kelapa sawit, ditujukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, meningkatkan penerimaan dan devisa negara, menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan daya saing, memenuhi kebutuhan konsumsi dan bahan baku dalam negeri, mendorong pengembangan wilayah serta mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Kelapa sawit merupakan tanaman daerah tropis yang membutuhkan curah hujan yang cukup. Bagi Indonesia, selain kesesuaian agroklimat tanaman ini juga mempunyai tingkat produktivitas yang tinggi dan biaya produksi yang relatif rendah dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lain seperti minyak kedelai, rape seed maupun bunga matahari.

Nah, seperti kita ketahui paparan tentang sawit diatas. Banyak sekali kegunanan dari tanaman sawit ini bila kita bisa memanfaatkanya dengan maksimal. Tetapi perlu kita kaji lagi apakah ada dampaknya terhadap lingkungan?

Baiklah penulis sedikit memberikan contoh yang didapat dari sumber media lokal. Dimana diadakan pelatihan tentang Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT-High Conservation Value Area) di kawasan Jantung Borneo (Heart of Borneo/HoB). Pelatihan diselenggarakan di Samarinda dan merupakan kerjasama antara Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur, Pokja HoB Kalimantan Timur, dan WWF-Indonesia.

Selama tiga hari, para peserta mendapatkan materi tentang kawasan bernilai konservasi tinggi, mitigasi konflik manusia dengan satwa liar, serta praktik lapangan. KBKT sendiri sudah ditetapkan sebagai salah satu instrumen yang wajib dilakukan dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 19 Tahun 2011 tentang Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia. KBKT tidak hanya diterapkanuntuk perusahaan, tetapi juga direncanakan untuk dilakukan oleh perkebunan skala kecil yang dikelola petani kelapa sawit. Selain itu, dalam forum multi pihak untuk mendorong pertumbuhan dan penggunaan minyak sawit yang lestari atau RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), KBKT juga merupakan salah satu instrumen yang dilakukan dalam pengelolaan kebun kelapa sawit.

Peserta juga melakukan praktik identifikasi kawasan bernilai konservasi tinggi (HCV) di Hutan Pendidikan Universitas Mulawarman (Unmul, Samarinda). Disana peserta penyuluh dan petani sawit masuk kedalam hutan dan mengidentifikasi tumbuhan, satwa dan tanda-tanda keberadaan satwa yang ada yang ada di dalam hutan sebagai indikasi dari HCV, termasuk keberadaan sungai sebagai sumber air.

Peraturan Menteri tentang perkebunan kelapa sawit berkelanjutan Indonesia merupakan upaya pemerintah untuk mendorong implementasi kaidah-kaidah sawit berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek ekologi, jasa lingkungan, dan sosial budaya.

Koordinator WWF Kalimantan Timur juga sangat setuju dengan hal ini. Karena melalui pelatihan ini, diharapkan para penyuluh perkebunan dapat menjadi fasilitator di masing-masing Kabupaten dalam mendampingi para petani kelapa sawit menerapkan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Tidak hanya itu, mereka nantinya juga mendapat pengetahuan tentang penanganan konflik satwa liar, sehingga satwa tidak lagi dianggap sebagai hama tetapi bagian dari perkebunan yang harus dikelola.

Ya, seperti yang sudah dipaparkan diatas. Ternyata perkebunan sawit bisa berteman dengan alam dan lingkungan, apabila kita sudah mengetahui bagaimana megelolahnya dengan baik. Satwa yang tinggal didalamnya pun tidak merasa terganggu dan kita bisa melestarikan alam. Masyarakat disekitar juga aman dan tentram dan perusahaan mendapat untung.

Jadi penulis ingin memberikan masukan, coba pemerintah di Kalimantan Barat mengikuti jejak pemerintah Kalimantan Timur, yang dimana mengelola perkebunan kelapa sawit berkelanjutan dengan memperhatikan lingkungan sekitar dan menjaga satwa supaya tetap hidup didalamnya. Untuk pembaca juga, ternyata Perkebunan kelapa sawit tidaklah semuanya memberikan dampa yang negatif. Cuma bagaimana lagi kita mengolahnya dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang sudah diatur sebelumnya.

Previous LPM Untan Cetak Jurnalis Kiri
Next Meneruskan semangat masa lalu

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *