Masyarakat Galing Buat Kubur di Jalan


1450066_248911128598875_2013474637_nOleh Mariyadi

mimbaruntan.com, Sambas–Jalan Raya Galing, Kab. Sambas, yang menjadi satu-satunya jalan menuju perbatasan antara Malaysia Indonesia di sajingan dalam keadaannya rusak parah. Kondisi tersebut memancing beberapa oknum masyarakat untuk membuat sebuah kuburan yang dilengkapi dengan beberapa tumbuhan dan payung di jalan yang rusak. Kondisi terparah adalah di Desa Tri Kembang Kecamatan Galing.

Muslimin (25), satu diantara masyarakat Desa Trikembang mengatakan,  beberapa oknum masyarakat yang membuat kuburan di jalan tersebut merupakan bentuk protes terhadap perbaikan jalan yang lamban dari pemerintah. Sebelumnya masyarakat memang hanya diam-diam saja.  Namun, kali ini setelah beberapa tahun, masyarakat sepertinya sudah bosan dengan keadaan jalan yang seperti ini. “Jalan kita semakin parah. Saking kesalnya, masyarakat membuat tiruan kubur di jalan yang rusak,” jelasnya, Minggu, (10/11).

Menurut Muslimin, ketika memasuki musim hujan, Jl. raya Galing,  hampir tidak bisa dilewati oleh kendaraan bermotor. Mereka harus berhati-hati bahkan harus mendorong motor mereka agar tidak terjatuh di jalan.  “Di depan rumah, sering mobil truck yang Amblas bahkan tumbang. Sudah dari tahun 2004 kondisi seperti ini,” tambahnya.

Hal tersebut dialami oleh Iin, satu diantara mahasiswa yang saat itu pulang ke kampungnya, Ia harus berjalan kaki saat melewati beberapa jalan yang rusak parah disepanjang jalan. “Saya sampai berjalan kaki seperti ini karena motor yang kami kendarai hampir tumbang tadi,” ungkap Iin, Minggu, (10/11).

Menurut Inn, ketika ia melewati jalan tersebut,  ia harus sering turun untuk berjalan kaki karena jarak antara jalan yang rusak parah sangatlah dekat khusus di daerah Desa Trikembang. “Bentar-bentar turun saat mengarungi jalan di sini,” jelas Iin.

Hampir dari awal Kecamatan Galing hingga akhir Kecamatan tersebut jalannya tanah, hanya saja terdapat sedikit aspal di daerah pasar galing, dan itu hanya beberapa kilo meter saja. Kondisi tersebut telah berlangsung sekitar 9 tahun. Sampai saat ini masih belum ada kejelasannya. Kondisi jalan akan rusak parah apabila hujan melanda dan berdebu ababila musim panas hingga masyarakat mengeluhkan debu yang setiap hari masuk kerumahnya.

Previous Technikal Meeting Sebagai Bekal Awal Kegiatan PAB XV
Next Mari Kunjungi Museum Provinsi Kalimantan Barat

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *