Dela


Dela…
Ini adalah malam kesekian kalinya aku menghabiskan separuh malamku di kedai kopi, sendiri. Kedai ini selalu ramai, namun sejak aku memilih tempat ini untuk menghabiskan separuh malamku, aku tidak pernah merasa tempat ini ramai. Yang ramai hanyalah isi dalam kepalaku. Terhitung mundur sejak kejadian menyakitkan itu, aku mulai merasa banyak yang berbeda dalam hidupku. Mungkin aku tertular virus menyendiri Dela, atau mungkin aku sudah takut untuk berbicara dengan siapa saja. Entahlah, yang jelas aku merasakan sifat introvertku sudah lebih dominan dari sisi ekstrovert. Mendadak aku menjadi anti sosial, mungkin karena terlalu lama bergaul dan bercengkrama dengan kehidupan Dela. Aku tidak menjadi diriku lagi, terkurung dalam kepribadian orang lain dan terlalu sulit rupanya untuk kembali menjadi aku yang dulu.
Malam ini adalah malam minggu, malam tanggal 23. Tujuh bulan yang lalu, persis saat pertama aku menemukan Dela yang berbeda. Biasanya dia selalu menemaniku minum kopi di perempatan jalan sana, tidak jauh dari tempatku berada sekarang. Tempat itu sekarang hanya menjadi kenangan, karena sekarang sosok Dela sudah menghilang. Pergi begitu saja setelah menularkan begitu banyak kebiasaan dalam hidupku, membiarkan aku sendiri melewati masa-masa sulit ini.
Sejak pertama aku mengenalnya, Dela sudah seperti itu dan selalu seperti itu. Mengenakan sweater abu-abu, celana jeans abu-abu, tas selempang abu-abu, semuanya serba abu-abu. Tak ada yang menarik dari kehidupan Dela. Dela yang pendiam, yang lebih senang duduk di pojokan kelas, jarang sekali terdengar suaranya, apalagi senyum manisnya. Berbeda jauh dengan aku yang supel, mudah bergaul dan selalu menjadi perhatian orang-orang disekelilingku. Malam itu entah apa rencana langit sehingga aku dipertemukan dengan Dela dalam moment yang berbeda, seolah melihat sisi lain dari Dela yang tak pernah ku tebak sebelumnya. Dela yang sering terlihat cuek, tidak peduli pada sekelilingnya malam ini terlihat lebih fresh dan bukan Dela gadis abu-abu yang selalu tersingkirkan di tengah kericuhan kelas. Aku bertemu dengan nya di sebuah Cafe, saat Dela sedang asyik bercengkrama dengan teman-temannya yang salah satunya juga temanku. Kemudian aku ikut bergabung dalam kelompok itu, mengamati cara mereka bercengkrama, cara mereka menghargai satu sama lain, membuat ku mengerti ada yang berbeda dari kehidupan Dela.
Kemudian, aku jadi sering memperhatikan Dela. Tidak hanya di kelas, tapi di setiap kesempatan. Rasa penasaran itu juga membuatku sering datang ke Cafe berkumpul bersama Dela dan kelompoknya.
Malam ini aku di ajak ngumpul lagi oleh Raya, teman waktu SMP yang mengenalkanku pada kelompok ini. Tentu saja aku pergi, selain penasaran dengan kehidupan Dela aku juga inigin melepaskan bebanku akhir-akhir ini. Di kejar oleh target setiap hari membuatku bosan. Ku fikir tidak ada salahnya jika keluar malam hanya untuk melepas penat.
Aku dan Raya berjalan menuju bangku di pojokan kedai kopi tempat mereka biasa berkumpul. Dari kejauhan sudah terlihat Dela dan Oki yang tampak sedang asyik mengobrol.
“Hello guys,” sapa Raya pada Dela dan Oki sambil mencium pipi kanan dan pipi kiri keduanya secara bergantian – ritual kelompok ini setiap bertemu. Aku pun terpaksa mengikuti “salam sapa” mereka.
“Hai, Dean ya ? Yang ikut ngumpul waktu di Kemuning kemarin kan?” sapa Oki padaku.
“Iya, ketagihan aku ngumpul bareng kalian. Nggak papa kan,” ucapku setengah tertawa sambil merapikan tempat duduk.
“Haha, it’s okay guys. Aku seneng banget kamu ikut nimbrung, katanya kamu satu sekolahan sama Dela ya ?”
“Iya, Dela beda banget disini sama di kelas. Aku nggak nyangka dia sosialita juga, aku aja jarang banget ngumpul asyik kaya gini.” Dela tersenyum malu-malu mendengar celotehku.
“Haha, kamu nggak tau aja Dela itu senior diantara kita.”
Dela dan Oki serentak tertawa, mengabaikan wajah bingungku pada sebab tertawa mereka, yang kemudian membuatku jadi ikutan tertawa. Sementara itu, Raya menghentikan tawa panjang kami, yang bagiku tak beralasan.
“Oh iya Ki, kamu ikut aku bentar dong ke mini market sebelah. Biarkan mereka ngobrol dulu berdua,” uacap Raya berdiri dan langsung menarik tangan Oki. Memicingkan matanya pada Dela sebentar, sebelum beranjak pergi. Menyisakan aku dan Dela dalam beberapa menit yang hening.
*
“Apa teman-temanmu hanya mereka ?” Aku memecah keheningan, takut-takut bertanya. Dela masih sibuk mengaduk-ngaduk kopinya.
“Iya, dan kau juga temanku.” Kulihat ia tersenyum malu-malu.
“Kau penyuka abu-abu , apa tidak tertarik dengan warna lain ?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku mengutuk diriku sendiri karena terlalu cepat bertanya hal sejauh itu pada Dela, padahal berbicara banyak seperti ini saja jarang. Selang beberapa menit hening, ku fikir Dela akan tersinggung dengan pertanyaanku barusan. Tapi ternyata aku salah, Dela sangat antusias dengan pertanyaanku.
“Aku tidak menyukai apapun, yang aku tau hidupku ini tidak jelas arah dan tujuannya, sama dengan warna abu-abu ini – tidak jelas.” Baru kali ini Dela berpanjang lebar.
“Ah, mungkin kau terlalu serius saja menjalani hidupmu, tapi kalau seperti ini kan terlihat lebih enjoy.” Aku tertawa sambil mencolek Dela, menggodanya untuk ikut tertawa. Dela pun tertawa, baru kali ini ku lihat Dela tertawa lepas begitu.
*
Sejak percakaan panjang untuk pertama kalinya di warung kopi malam itu, aku dan Dela menjadi teman baik. Tidak hanya saat ngumpul bersama di warung kopi, tetapi juga di kelas. Sampai teman-temanku pun bingung dan heran mengapa aku bisa berteman dengan gadis abu-abu itu.
Sebulan berlalu, rutinitas kami masih begitu-begitu saja. Pulang sekolah pergi ke rumah Dela untuk menonton Anime masal sampai sore, dan malam harinya kalau tidak ke warung kopi, atau cafe, kami akan pesta kuliner sampai puas. Aku menemukan kebahagiaan yang berbeda saat menjalani rutinitas seperti ini, tidak ada aku yang selalu dipusingkan dengan tumpukan buku setiap harinya, tidak juga dengan mengeluarkan tenaga habis-habisan untuk latihan bulu tangkis di Gor . Alhasil, aku menjauh dari teman-temanku karena sibuk dengan “Dela and the gank”. Memang, menjadi bebas itu adalah keinginan terbesarku selama ini.
Hari ini kami berencana akan menonton bioskop. Sepulang sekolah aku langsung ke rumah Dela, menunggu Raya dan Oki datang baru kami pergi bersama-sama. Rumah Dela selalu sepi, yang terlihat hanya bik Inah pembantunya yang selalu menjamu kami dengan berbagai makanan dan minuman saat berkumpul di rumah Dela. Sementara keluarganya tidak pernah terlihat batang hidungnya. Cuaca di luar mendung, sementara Raya dan Oki belum menunjukan tanda-tanda kedatangan. Aku masih duduk kalem di ruang tamu Dela yang mewah, ditemani kue bolu dan segelas sirup dari bik Inah. Dan Si tuan rumah sejak tadi belum keluar dari kamarnya.
Dua puluh menit menunggu, akhirnya hujan turun dan keadaan masih tetap sama – Raya dan Oki tak kunjung datang, sementara Dela, kufikir Ia habis-habisan berdandan di kamar atau mungkin sedang sibuk memilih baju.
“Hujan makin deras, Raya dan Oki sepertiny nggak datang,” suara Dela mengejutkanku yang sejak tadi sibuk dengan fikiranku sendiri.
“Eh, aku kira kamu kelamaan dandan dari tadi nggak keluar-keluar,” sapaku pada Dela yang rupanya masih mengenakan baju tidur.
“Filmnya 15 menit lagi, kita batalin aja ya. Hujan nya nggak mungkin berhenti nih.”
“Yah, padahal aku udah semangat banget dari tadi,” aku mengeluh, waktuku sungguh terbuang sia-sia.
“Nggak apa ya, tapi kamu jangan pulang dulu. Kita main aja dulu di kamar aku,” Dela tersenyum sumringah, raut wajahnya memaksaku untuk menerima ajakannya.
*
Empat bulan berlalu, hubungan kami semakin dekat. Tapi aku merasa ada yang aneh dari kedekatan ini. Ada rasa janggal menyusup perlahan menggangu setiap detik yang mengiringi banyak moment yang kami lalui bersama. Perasaan yang ku nikmati, kemudian berubah menjadi nyaman, mengubur semua pertanyaan yang selama ini terus ku abaikan.
Entah sihir apa yang membius fikiranku , empat bulan singkat yang mengubah seluruh aktifitas bahkan kepribadianku. Aku dan Dela bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
*
Aku meneguk kopi yang kesekian kalinya saat sekelibat bayang perempuan lugu nan mempesona itu lewat di depan mataku. Perempuan yang selalu memenuhi isi kepalaku, menguasai seluruh khayalanku. Ku fikir ini hanya mimpi yang kebetulan hadir sebab seluruh hati dan fikiran yang merindu. Ku teguk sekali lagi kopi yang ternyata hanya bersisa ampas, rasanya pahit – seperti kenyataan yang perlahan menghampiri tempat dudukku sekarang ini, mengusik seluruh mimpi yang sejak tadi memang tidak kupercayai.
Perempuan itu datang bersama dengan seorang lelaki yang begitu erat memegang tangannya, mereka tampak menuju ke arah kursiku. Aku yang sejak tadi sibuk dengan fikiranku sendiri, merubah posisi dudukku, berpura-pura tidak menyadari kedatangan mereka yang ternyata benar-benar menghampiri tempat dudukku.
“Hai, sudah lama tidak bertemu. Kenalkan ini pacarku Thomas,” Dela memperkenalkanku pada lelaki disampingnya yang juga langsung mengulurkan tangannya kepadaku.
“Thomas,” katanya sambil tersenyum.
“Dean,” jawabku singkat.
“Kamu apa kabar ? Aku nggak nyangka lo kita bisa bertemu di tempat ini.” Dela benar-benar terlihat berbeda. Dia bukanlah gadis abu-abu yang ku kenal sebelumnya. Dela terlihat lebih anggun dan lebih terbuka, bukan Dela yang dulu – yang selalu menyendiri.
“Aku baik-baik saja,” aku hanya berbicara seperlunya.
“Yasudah, kalau kamu memang masih marah sama aku. Aku pergi saja, semoga kamu bisa menemukan dirimu kembali ya. Aku pergi,” ucap Dela seraya pergi.
*
Malam harinya aku iseng membuka emailku yang telah lama tidak dibuka. Dan betapa terkejutnya aku melihat deretan email Dela yang dikirim sejak beberapa bulan yang lalu. Aku tersentak dan langsung membuka email itu.
“Dean…
Maafin aku ya, udah buat kamu ikut terjerumus ke dalam pergaulan ini. Aku nggak mau kamu jatuh semakin dalam. Aku menyesal telah membuatmu kehilangan jati dirimu. Dean, aku seperti ini bukan tidak beralasan, tentu kau tahu apa penyebabnya. Rumahku yang selalu sepi, dan teman-teman yang selalu menjauhiku karena aku memang tidak pandai bergaul dan tidak pandai mengurus diri. Aku dipertemukan dengan Oki dan Raya yang ternyata bernasib sama sepertiku. Kami sudah berhubungan lama, dan parahnya hanya mereka teman-temanku. Aku tidak ingin masa depanmu hancur Dean, karena hal yang kita lakukan ini tidak lazim di negri ini, aku berharap kamu mengerti, aku ingin normal Dean, tolong jangan cari aku. Aku pergi untuk menjadi Dela yang seharusnya, aku harap kamu bisa jadi Dean yang semestinya juga.”
Aku benar-benar tercengang membaca email Dela, andai saja aku membukanya beberapa bulan yang lalu pasti aku tidak akan separah ini. Aku benar-benar tidak menyagka Dela akan merubahku sejauh ini. Sungguh aku benar-benar merasa dikhianati. Aku mengutuk diriku yang terlalu mudah bergaul dan terlalu mudah terpengaruh. Aku benar-benar menyesal. Aku harap aku bisa keluar dari lingkaran setan ini.
Air mataku mengalir begitu deras, menyesali semua kebodohanku. Aku adalah wanita yang tersakiti oleh wanita yang ku anggap adalah pasanganku. Dan aku ingin bisa mencintai pria seperti yang lainnya.

Karya : Restiana Purwaningrum

Previous On an Sunny Day
Next Akar Tak Berjiwa

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *