On an Sunny Day


This might be the last time we say goodbye
This might be the last time we say goodnight
Rainy window rainy window
On a sunny day, it suddenly rains on this window

Tok tok tok. KLIK.
“Abang sudah tidur?” kepala adikku sudah melongok dari pintu ketika kubuka.
Aku mencopot headphone dan lagu berhenti. Sekarang aku baru sadar bahwa diluar sedang hujan. Kilat dan guntur saling sambar-menyambar. Ternyata volume musiknya terlalu keras.
“Ada apa?” tanyaku ketus pada adikku sambil menahan pintu kamar. Aku khawatir dia bakalan masuk ke dalam dan mengobrak-abrik barang-barangku.
Wajahnya memelas seperti kucing, inilah dia muslihat si licik yang bisa mengalahkan kancil. “Tadi Teddy bilang kalau Nanny akan datang.”
Kuawasi ruangan sekitar. Gelap. Paman dan bibi memang pergi ke acara tetangga di komplek sebelah beberapa jam lalu, sedangkan si kecil ini masih bermain dengan Teddy, boneka beruangnya yang besar di ruang tengah tadi. Aku menghela panjang. Dari pada menyuruhnya masuk ke kamarku, lebih baik aku yang menemaninya di luar sekarang. Jadi aku menghidupkan kotak speaker di atas tv dan mencolokkan flasdisk-ku ke lubang usb. Lagu mulai berjalan dan volumenya sengaja kuperbesar biar mengalahkan hujan deras di luar. Sebenarnya aku juga takut, karena bagiku yang baru tinggal sebulan di sini, rumah ini terlalu besar. Oleh karena itu aku selalu mengurung diri di kamarku. Hih, apakah paman dan bibi tidak capek membereskan debu-debunya?
“Bang, aku lapar…” adikku mengeluh, memegang perutnya.
Aku beranjak ke dapur dan memeriksa lemari makan. Biasanya bibi selalu meninggalkan kue di sini.
“Tidak mau, aku mau yang masih panas,” kata si iblis cilik satu itu, menggeleng-geleng ketika kusodorkan bolu.
“Ya sudah kalau begitu. Sekarang kan memang bukan jam makan,” tukasku kesal dan menaruh kembali kue itu ke lemari.
“Eeehh? Tapi Teddy bilang Nanny suka bolu, jadi letakkan di atas meja saja,”
Aku menatapnya bingung sekaligus jengkel. Sudahlah, tak ada salahnya hanya menaruh kue di atas meja. Namun begitu aku berbalik ke ruang tengah, aku baru sadar kalau laguku berhenti. Kuperiksa kotak itu dan menekan tombol on. Lagu berputar. Adikku memandangku dengan ngeri. Tatapannya membiusku dan aku jadi ikutan ngeri. Jantungku berdegup cepat sementara keringat dingin mulai membasahi punggungku.
“Kita nonton saja,” kuputuskan secara spontan dan mengambil remote tv.
JLEP. Listrik mati. Rumah itu jadi semakin gelap. Hanya bias-bias cahaya matahari di luar saja yang sedikit menyinari di balik gorden, karena sekarang hujan panas. Dan sekelebat bayangan terlihat dari gorden yang tertutup.
Aku menarik nafas, tercekat, terperangah. Adikku menggenggam bajuku erat-erat dan berbisik.
“Bang… itu dia… itu Nanny…”
“Ayo ke kamar!” aku berlari membawa adikku ke kamar. Tapi begitu sampai di depan pintu, dia malah menggeleng dan mendorongku masuk ke kamar sementara dirinya masih berada di luar. “Kenapa? Ayo cepat masuk!” kataku panik.
Tiba-tiba aku merasakan bulu kudukku merinding. Adikku mengangkat kepalanya perlahan-lahan dan wajah itu bukan wajahnya. Itu wajah seorang wanita tua yang jelek dan terlihat sangat jahat. Tangannya yang panjang dan berkuku tajam meraih leherku.
“UWAAAA!!!!”
Aku terbangun. Seprai sudah jatuh ke lantai, dan jarum jam berdetak pelan. Rintik-rintik hujan membasahi jendela kamar. Adikku berdiri di dekat bonekanya dengan penuh tanya. Aku mendesah lega dan kembali tidur, ditemani alunan musik… this might be the last time… this might be the last time… rainy window rainy window … on a sunny day, it suddenly rains on this window.
Pikiranku mulai berjalan lagi…
“Wah, bibi, boneka siapa ini?” aku memperhatikan boneka besar yang terletak di sudut tempat tidur.
Bibi menatapnya sendu. “Boneka adikmu, sayang.” Aku hendak bertanya lagi, tapi bibi keburu keluar karena dipanggil paman. Dia hanya tersenyum dan menyuruhku mengemasi barang-barang yang tak kuperlukan, lalu aku harus bergegas ke dapur untuk makan.
Kuperhatikan sekeliling. Kamar yang menjadi kamarku hingga beberapa tahun ke depan. Aku mengeluarkan minispeaker kesayanganku dan memutar lagu. Sambil berjingkrak-jingkrak aku merapikan kamar itu dan tanpa sadar kalau seorang bocah kecil masuk ke dalam.
“Nama boneka itu Teddy.”
Aku terperanjat dan jantungku seolah jatuh ke lantai, hancur berserakan. Cepat-cepat kukecilkan volume dan memperhatikan anak laki-laki itu.
“Kamu adik baruku, ya?” kataku ramah dan menyalaminya.
Dia mengangguk, lalu berkata, “Kalau abang mau tinggal di sini, lebih baik turuti apa kataku.”
Aku melongo. Dasar licik. Kecil-kecil pandai ngancam. Aku hanya tersenyum getir dan mengangguk-angguk.
“Memangnya kenapa harus begitu?”
“Karena ada Nanny…”
“Siapa Nanny?”
Lagu di speaker berhenti. Tapi aku lebih tertarik pada “Nanny”. Adik itu berlari keluar dan kulihat seorang wanita tua berseragam maid merah tua, berdiri di ambang pintu. Wajahnya tak terlihat karena gelap. Namun bisa kutebak dia adalah pengasuh si bocah. Dan entah mengapa, keringat dingin membuat tanganku basah. Perlahan-lahan pengasuh itu membawa si bocah menjauhi kamarku hingga aku tersadar bahwa laguku kembali berputar, menyala.
Bibi muncul membawa beberapa kue. Lantas, aku segera bertanya.
“Bi, adik ke mana sama Nanny?”
Kue itu hampir terjatuh dari nampan dan beruntung bisa kutangkap. “Apa saja yang kamu lihat barusan?” bibi bertanya, kaget.
“Adik baruku, dia dibawa oleh wanita berseragam maid merah tua. Katanya, namanya Nanny, tapi aku tak bisa melihat wajahnya,” jelasku.
Lama bibi merenung. Kemudian ia mengambil boneka beruang dan mengelusnya.
“Nanny terlalu menyayangi adikmu karena dia tak punya anak. Kamu tahu sayang, mereka datang dan pergi saat hujan panas. Karena itu tolong berbaik hati pada adikmu, ya, meskipun dia itu sangat nakal. Turuti saja apa katanya, sayang, dia sepertinya menyukaimu.”
Pundakku terasa berat. Tapi aku memaksakan senyum menenangkan. Hanya beberapa tahun…beberapa tahun… dan laguku berdendang lembut, merasakan kesedihanku tinggal di sini. Bersama paman, bibi, adikku yang tak ada, Teddy si beruang dan Nanny si pengasuh.

Strangely, I know better about the end so I’m sad, I’m sadder
When I look at you when I look at you
On a sunny day, it suddenly rains on this window
Rainy window (Rainy window)
This might be the last time we say goodbye
This might be the last time we say goodnight
This might be the last time
This might be the last time

Karya : Luffy

Sabtu, 3 Januari 2014
Pontianak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous Mengedukasi Calon Guru Untuk Hadapi MEA
Next Dela

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *