Selendang Dara Terigas


Beberapa bulan ini, kau sering melamun di atas peranginan depan istana yang menghadap sungai bercabang tiga, Muara Ulakan. Hari ini kau juga melewatkan sore di tepian sungai. Sesekali kau turun dan duduk di tupakan tangga yang basah oleh air. Kau membelai air seperti membelai baju Melayumu. Jemari yang lentik itu telah kau tenggelamkan, merasakan nikmatnya air yang melintasi pori-pori kulitmu. Lengan bajumu ikut basah, kau menyunggingkan senyum. Kau masih ingin bermain, mengangkat songketmu sampai betis dan mengayunkan kakimu yang mulus itu dalam air. Senyummu semakin mengembang ketika air-air itu menyegarkan pori-pori kulitmu. Semua itu cukup menghapus kesedihan yang hanya dipahami hatimu dan kau tak akan pulang sampai senja benar-benar tiba.

Ibumu telah menyambut di depan lawang, membawakanmu kain agar kau mengganti songketmu yang hampir basah dari sisa-sisa air di kakimu. Tampaknya ia sudah hafal dengan kebiasaan barumu menikmati bahari muara ulakan yang sebelumnya tak separah ini. Membiarkanmu memeluknya lama dengan linangan air mata yang mengucur duka. Tanpa isak, kau menyelesaikan tangisanmu dengan anggun karena kau tahu, apabila ayahmu mendengarnya, ia akan melarangmu ke sungai lagi, dan kau diperintahnya untuk bepalam, karena dua minggu lagi kau akan dikawinkan dengan sultan sebagai selir ketiga.

Sore ini kau berjalan sendiri di gerbang istana, mengenakan baju Melayu kuning emas yang sepadan dengan songket dan selendangmu. Dalam selendang, sanggulan rambutmu yang hitam itu kau tata dengan kemas. Sebenarnya aku tahu, siapa yang selama ini kau cari. Kau telusuri tepian sungai berharap-harap cemas agar ia tiba dari hulu sungai Subah dengan kapal kuningnya, seperti yang selalu orang katakan, dia membangun kerajaan di hulu sungai. Hatimu bergejolak hendak keluar dari keratuan ini, mencari sepupumu yang tidak lain tidak bukan adalah kekasih yang tak direstui ayahmu. Kau dan dia masih sepupu, walau tak sesusu tak sedarah, ayahmu dan ayahnya enggan jodoh yang terlalu dekat.

Setelah kehilangannya setahun lalu, sampai kini kau masih berwajah duka. Sandi namanya, aku tahu dari abangku sebelum dia lenyap dari dunia yang sama denganmu. Sebenarnya dia sedang bersamaku memperhatikanmu dari istana kami. Bukan seperti yang orang ceritakan, membangun kerajaan di hulu sungai. Tapi, ia menyerahkan dirinya pada abangku di Negeri Kebenaran yang dikunjunginya di Paloh beberapa waktu lalu tanpa sengaja. Abangku memperlihatkan dalam mata Sandi, sebuah negeri yang terlampau maju dengan pusat keramaian yang melebihi Sambas tempatnya bernaung. Sandi terpukau dengan dermaga dan bandar udara yang sibuk dan pasar yang ramai di negeri itu. Abangku pun mengajaknya berkenalan, dan memberinya kartu nama agar mudah dicari.

“Datanglah ke sini, insanak, jika kau ingin menghibur dirimu dari urusan kerajaan di sana, negeri ini akan terbuka untukmu kapanpun, kartu nama ini hanya berfungsi ketika kau sudah mendekati wilayah ini,” begitu kata abangku.

“Terima kasih, saya pasti akan ke sini lagi,” kata Sandi dengan wajah takjub.
Ketika niat Sandi mengawinimu ditolak mentah-mentah oleh ayahmu dan ayahnya, juga ketika ayahmu menyabdakan kau akan dikawinkan dengan sultan berbini tiga, semua itu membuat hati Sandi retak seribu. Ia sempat jatuh sakit karena dilanda patah hati. Sebulan setelah kejadian itu, ia pamit kepada ayahnya untuk menenangkan diri di hulu sungai Subah, padahal sebenarnya yang terjadi ia mencari abangku di Negeri Kebenaran.

Tak perlu waktu lama, abangku mewujudkan negerinya dalam mata Sandi untuk yang kedua kali. Dengan hati yang patah, Sandi mengatakan ingin tinggal di negeri itu selamanya. Ia tak sanggup melihat Dewi Kusuma, yang kutahu bahwa itulah namamu, akan menikah sebagai selir ketiga sultan. Abangku mengizinkannya tinggal di negeri kami, tapi dengan syarat Sandi tak akan bisa kembali ke kerajaannya dahulu. Hati Sandi terlalu berderai, ia mengiyakan syarat abangku tanpa pikir panjang. Semula ia terpukau memasuki negeri kami. Tapi, beberapa saat setelah itu, ia menyadari bahwa di antara kami tidak ada yang memiliki garis antara hidung dan bibir seperti manusia biasa. Kami memiliki alis yang bertemu, dan telinga yang jenjeng. Sandi perlahan paham, bahwa kerajaan yang sekarang dimasukinya, bukanlah kerajaan manusia seperti ia dahulu. Nasi sudah menjadi bubur, semenjak ia menyetujui syarat dari abangku, ia tidak akan bisa kembali menjadi manusia biasa.

Kau tak tahu, Sandi di sini membiasakan diri melupakanmu walau dengan hati yang berat. Abangku sengaja memberinya tampuk kerajaan sebagai panglima agar tidak terlalu memikirkanmu lagi. Tapi, diam-diam aku jatuh cinta padanya karena dia begitu mencintaimu. Dia sering bercerita tentangmu, itu membuatku ingin dicintai seperti Sandi mencintaimu, Dewi. Aku cemburu pada kegadismelayuanmu, yang membuat Sandi tak bisa melupakanmu barang sedetik pun. Tutur katamu, baju Melayumu, langkahmu, dan garis antara hidung dan bibirmu, yang tak kami miliki membuatku iri sekaligus cemburu.

Kau sepertinya masih berharap Sandi akan pulang dengan kapal kuning dari hulu sungai, lalu membawamu untuk hidup bersama. Terlalu menyiksa diri, Dewi. Bukankah kau sebentar lagi akan dikawinkan dengan sultan tua bangka itu?

Langit terigas seminggu ini sering menangis, masyarakat tidak dapat bercocok tanam dan panen gagal karena hujan tiada berhenti. Sebagian masyarakat meminta bantuan ke keratuan. Kulihat kau sudah dalam masa bepalam dan tidak akan keluar dari wilayah istana. Aku sengaja mengajak Sandi berjalan mendekati keratuan karena aku ingin tahu banyak tentang wilayah kerajaannya dahulu dan membiarkan beberapa orang mengenali Sandi telah berjalan dengan gadis lain agar nanti terdengar olehmu.

Dugaanku tak pernah salah, secepat mengedipkan mata, desas-desus Sandi telah menikah dengan gadis lain telah menjamur di lingkungan para dayangmu. Kau mendengar mereka bercengkrama ketika mengantar makan minum. Aku tahu, hatimu hancur melebur seumpama bubur. Aku hanya ingin membantumu, Dewi, agar kau menerima kenyataan. Kau akan menikah beberapa hari lagi dan Sandi tak akan kembali seperti dahulu.

Tak kusangka, kau begitu pilu setelah mendengar desas-desus itu. Kau tak berani mencari tahu siapa yang melihat kami. Satu dayangmu yang sudah lama mengabdi pada kerajaan menyadari kehadiranku dan Sandi waktu itu. Ia mengatakan kepadamu, bahwa Sandi telah bersatu dengan insanak, kaum bunian, bangsa kami. Dayangmu menjelaskan bahwa Sandi telah berbeda alam denganmu.

Kau semakin penasaran dan bertanya panjang lebar tantang bangsa kami pada dayangmu serta cara mengembalikan Sandi yang tidak diyakini berhasil. Negeri Kebenaran, kerajaan kami masih memiliki jalur dari Muara Ulakan depan keratuanmu, semua jalur itu dibangun untuk menjaga Bumi Terigas dari kehancuran. Kaummu dan kaumku tak akan saling mengganggu satu sama lain sesuai perjanjian sultan-sultan terdahulu. Bangsamu dan bangsaku telah ribuan tahun menjalin hubungan baik demi kemakmuran negeri nyatamu itu.

Beberapa menit yang lalu, kulihat kau masih berbaju Melayu kuning emas lengkap dengan selendangnya. Kau tergugu di depan muara cabang tiga sungai. Tapi, setelah beberapa saat kualihkan pandangan, rakyatmu sudah memenuhi peranginan. Terlihat selendang kuning emasmu perlahan tenggelam masuk dalam pusaran Muara Ulakan. Apakah kau akan mengikuti jejak Sandi? Apakah kau akan menyerahkan dirimu pada Negeri Kebenaran juga? Tapi kulihat di sana kau sedang berjalan di samping Sandi dengan bahagia. Baru kusadari kau telah menukar Sandiku dengan selendang dara terigas dari leluhurmu. Pusaran air pun semakin cepat menggulung selendang itu bersamaan dengan air mata langit yang turun deras membasahi istanamu. Begitu pula dengan airmataku, aku patah hati, Dewi.
Keterangan:
Tupakan : Undakan tangga
Songket : Kain tenun
Bahari : Sore
Bepalam : Mengurung diri/pingitan
Negeri Kebenaran : Negeri Kaum Bunian/Negeri Ghaib
Insanak : Keluarga/ masih memiliki hubungan kekerabatan
Jenjeng : Daun telinga yang terlalu lebar dan panjang

Karya : Siwi Annisa
Mahasiswa FKIP Untan prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2013 

 

 

Previous Raga
Next Karangan Bunga Duka

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *