Langit Bintang


“Langit.”
Wanita itu masih asik dengan dunianya ketika untuk kesekian kalinya namanya dipanggil.
“Langit. Oh . . . selalu saja.”
Langit masih asik dengan alat lukisnya hingga laki-laki itu sudah berada di sampingnya dan mulai menggerutu “Langit,ayo . . . aku sudah lapar nih.”
Langit tersenyum simpul melihat tingkah laki-laki didepannya,Bintang, laki-laki yang baru setahun terakhir dikenalnya itu begitu lucu jika lapar,ia selaku saja menggerutu,terutama ketika langit berpura-pura tidak mendengar ajakannya untuk makan.
Menurut Langit,Bintang merupakan laki-laki yang baik,ia ramah dan selalu bersemangat,dan terlebih lagi Langit selalu merasa nyaman berada didekatnya. Langit tidak tahu mengapa,tetapi Langit merasa hadirnya Bintang telah mengubah hidupnya yang terasa kosong.
# # #
Udara yang sejuk dan langit mendung menemani waktu makan siang Langit dan Bintang hari itu.
“Langit.”
“Ya,kenapa?”
“Kamu terlihat pucat,kamu sakit?”
“Ngga kok,aku baik-baik aja.Oh ya,tadi kamu ngomongin apa?”
“Hufh . . . kamu ngelamunin apa sih dari tadi?hem . . . sudahlah.Tadi aku bilang,minggu depan aku harus keluar kota,ada kerjaan disana.Aku akan hubungi kamu jika ada waktu kosong.Kamu ngga akan kenapa-kenapa kan aku tinggal?”
“Oh . . . ok.Aku ngga akan kenapa-kenapa kok.”
“Aku tahu,aku hanya berpikir,mungkin kamu akan kangen sama aku.”seru Bintang dengan nada bercanda dan ditanggapi Langit denngan senyum.
Bintang tidak pernah tahu apa yang dirasakannya,ia merasa senang dan tenang setiap melihat senyum wanita dihadapannya saat ini.
# # #
Dunia Langit serasa hancur,rasa sakit yang diabaikannya selama initernyata karena hal yang begitu berbahaya.
“Operasi adalah jalan satu-satunya.” Kalimat itu terus mengiang dikepala Langit. Langit tidak tahu apa yang harus dilakukannya,ia tidak pernah ingin membuat kedua orang tuanya khawatir,dan sekarang ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya kepada kedua orang tuanya.
# # #
Untuk kesekiankalinya Bintang menatap kecewa layar handphone di genggaman tangannya, ia sudah berkalli-kali mencoba menghubungi Langit,tetapi tak sekali pun ditanggapi oleh wanita itu. Sudah seminggu sejak Bintang keluar kota dan kini ia kembali,Langit tidak bisa dihubungi dan sekarang Bintang mulai merasa khawatir dengan wanita itu.
Berita itu begitu mengejutkan dan seolah-olah membuat waktu berhenti sesaat,Bintang hanya dapat terdiam mendengar berita itu.
# # #
Sesampainya Bintang di tempat itu,ia disambut dengan senyum hanyat seorang wanita separuh baya yang mempersilahkannya masuk. Tatapan Bintang langsung jatuh kepada wanita yang sedang berbaring diranjangnya,ia sedang bercengkrama dengan laki-laki separuh baya disebelahnya.
“Langit.”
Langit seperti bermimpi mendengar suara yang begitu dirindukannya,dan sekarang laki-laki itu ada di hadapannya. Bintang,laki-laki yang seminggu terakhir ini tidak dilihat olehnya,sekarang ada dihadapannya.Laki-laki itu terlihat begitu khawatir dan hanya dapat dibalasnya dengan senyum simpulnya.
“Langit,kamu kenapa?”
“Aku tidak apa-apa,Bintang.”
“Tidak apa-apa?tapi kamu malah ada disini?Aku begitu khawatir Langit, mengapa kamu tidak mengangkat telponku?”
“Maaf Bintang,tetapi aku ngga bisa,aku tidak tahu kamu akan begitu khawatir karena itu.”
“Sudahlah,tidak usah dibahas lagi.”
Setelah itu,suasanya berubah menjadi hening sesaat.Keheningan itu terasa begitu lama untuk Langit dan Bintang,hingga akhirnya Bintang berseru “ingin rasanya ku bawa kamu kemanapun aku pergi,aku benar-benar tidak bisa merasa khawatir seperti kemarin lagi,membuatku merasa tidak tenang . . .”
“Apa?maksudmu,bagaimana,Bintang?”
“Langit,dihadapan kedua orangtuamu kini,maukah kau menikah denganku?
# # #
“Bintang,boleh aku bertanya sesuatu?”
“Ya,kamu mau bertanya ap?tanyakan saja.”
“Mengapa kamu mau menjadikan aku istrimu? Tentu saja diluar dari yang kamu katakana saat dirumah sakit waktu itu.”
“Heemm . . . mungkin ini terlalu sederhana,tetapi ketika aku melihat kau tersenyum,aku merasa tenang,aku merasa lengkap dan aku tahu,aku akan bahagia di sampingmu.”aku Bintang sambil mencium kening istrinya.
“Terima kasih,Bintang.Terima kasih karena kau telah menjadikan aku istrimu.Aku mencintaimu karena Dia yang telah menghadirkanmu didalam hidupku.”
Kini hidup Langit tak akan pernah lagi kosong,sekarang ada Bintang yang akan selalu ada menghiasi langitnya.

Nur Riqqah Muharrifa

Previous AKU DAN KOTA BERIAS
Next Seutuhnya Bintang

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *