Hasilkan Madu Hutan Hingga Satu Ton, APDS Terapkan Panen Lestari

mimbaruntan.com, Untan— A.M. Erwanto, mantan presiden APDS mengatakan bahwa cara memanen madu ini dianggap sebagai penemuan yang menguntungkan. “Kita namakan panen lestari, ini sebuah keuntungan.

mimbaruntan.com, Untan—  Demi mendapatkan pengetahuan pengelolaan madu hutan (Apis Dorsata), tiga orang warga Kampung Semanggit, Desa Batu Rawan, Kecamatan Nanga Leboyan, Kabupaten Kapuas Hulu bertandang ke Vietnam pada tahun 2006 lalu.

Pelatihan yang mereka ikuti tersebut berbuah manis, karena dapat mengadopsi cara panen yang berbeda dari apa yang diajarkan oleh nenek moyang kepada petani madu hutan di kampung tersebut. Pada tahun yang sama, para petani madu hutan membentuk Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS). Periau merupakan kumpulan kecil yang beranggotakan lima hingga tujuh orang dalam satu kelompok.

A.M. Erwanto, mantan presiden APDS mengatakan bahwa cara memanen madu ini dianggap sebagai penemuan yang menguntungkan. “Kita namakan panen lestari, ini sebuah keuntungan. Kita panen ambil kepala sarang madu dan dalam dua minggu berikutnya bisa dipanen lagi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pada zaman dahulu proses panen dilakukan secara tradisional. “Dulu kita melihat dari tanda alam misalnya ketika bunga putat sudah layu dan lebah meninggalkan tempat itu berarti kita sudah bisa panen madu,” tambahnya.

Untuk menyediakan sarang bagi lebah hutan, para petani membentuk dahan buatan pada pohon Putat. Dahan buatan ini disebut Tikung, terbuat dari batang kayu yang dibelah berukuran lebar 20 sampai 30 centimeter dengan panjang 1,5 sampai 2 meter.

Hasil dari pengelolaan madu ini cukup menjanjikan dengan kualitas baik pula sehingga harga jualnya terbilang mahal. “Harga madu dijual 120 ribu perkilo,” katanya.

Pada bulan April hingga Oktober adalah proses pembuatan Tikung “Waktu panen ada di bulan September hingga Maret saja tapi biasanya panen besar itu ada di bulan Desember, “ ujar Erwanto.

Menurutnya, dalam kurun waktu selama satu tahun, setiap anggota bisa menghasilkan hingga 1 ton. “Bisa capai 1 ton tapi tergantung dari panennya lagi,” katanya.

Madu hutan dari Kapuas Hulu ini memang dikenal memiliki kualitas baik yaitu nomor dua di dunia setelah India. Hal ini pun diakui oleh Bupati Kapuas Hulu, AM. Nasir. “Alhamdullilah madu kita memang yang terbaik, banyak khasiatnya. Coba saja langsung bereaksi,” pungkasnya ketika menghadiri acara Fesitival Danau Sentarum 2017, Sabtu (28/10).

 

Penulis : Isa Oktaviani

Editor : Umi Tartilawati

Previous Ketua DPM Untan : Kami Selalu Siap
Next Oposisi Rakyat

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *