Pemanfaatan Madu Hutan, Kearifan Lokal Yang Masih Dilestarikan Masyarakat Danau Sentarum

mimbaruntan.com, Untan- Keberadaan lebah hutan (Apis Dorsata) sebagai penghasil madu merupakan hal yang bermanfaat bagi masyarakat di kawasan Danau Sentarum,

mimbaruntan.com, Untan- Keberadaan lebah hutan (Apis Dorsata) sebagai penghasil madu merupakan hal yang bermanfaat bagi masyarakat di kawasan Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Deretan pohon Putat yang menyebar di seluruh kawasan Danau Sentarum menjadi tempat hidup utama lebah hutan. Mereka akan membuat sarang hingga menghasilkan madu dan siap dipanen oleh petani madu hutan. Tidak hanya melulu mengharapkan lebah tersebut membuat sarang sendiri tetapi para petani akan membentuk dahan buatan yang disebut Tikung untuk lebah bersarang.
Namun, Danau Sentarum memilik fase yang unik yakni tergenang air ketika musim penghujan dan kering saat kemarau tiba. Sehingga, populasi dari ekosistem ini dijaga bersama oleh masyarkat lokal. Presiden Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS), Bariswadi mengatakan bahwa saat ini masyarkat bahu membahu agar danau tersebut selalu terjaga agar populasi lebah hutan tidak terganggu. Menurutnya, ancaman terbesar adalah kebakaran hutan ketika kemarau. “Ancaman terbesar adalah kebakaran hutan,” katanya, Jumat (27/10/2017).
Bariswadi mengatakan sempat terjadi kebakaran hebat karena saat kemarau orang bisa berjalan kaki untuk mengelilingi danau bahkan dapat menggunakan sepeda motor maupun mobil. Aktivitas darat ini menyebabkan setitik api yang menyala dapat membakar banyak wilayah. “Pada tahun 1997 sempat kebakaran hutan di sini,” jelasnya pria yang akrab di sapa Uge tersebut. Namun, hal tersebut diharapkan tidak dapat terulang lagi. Keberadaan APDS yang beranggotakan hampir seribu orang tersebut dapat bekerjasama menjaga kawasan danau.

Hal senada dikatakan oleh Erwanto, mantan presiden APDS. Menurutnya masyarkat mulai menyadari untuk menjaga lingkungan. ” Jadi sekarang masyarakat itu sadar, bahwa api itu berbahaya. Terus kalau lingkungan tidak bagus juga berakibat fatal, bukan hanya lebah, ikan juga ikut,” paparnya, Rabu (25/10/2017).
Pengelolaan populasi lebah hutan tersebut diikuti juga dengan perkembangan panen madu. Pada awalnya panen madu dilakukan dengan melihat kode alam dan hanya dapat dilakukan proses panen satu kali dalam setahun. Hal ini membuat anak lebah mati setelah proses panen dilakukan. Diakui oleh Erwanto, proses tersebut merugikan masyarakat karena tidak dapat memanfaatkan lebah secara maksimal.
Hingga pada tahun 2006 mereka menemukan cara baru untuk panen madu. Terobosan tersebut mengadopsi dari Vietnam. “Kami menamakannya panen lestari. Ini lebih menguntungkan karena dalam satu tahun bisa panen sampai tiga kali,” ujar Erwanto.

Sementara untuk menjaga kualitas madu, Internal Control System lah yang memiliki tanggungjawab sehingga tidak ada kerusakan pada madu yang dihasilkan dan tetap memberikan hasil terbaiknya. “ICS itu sangat ketat, sehingga setiap anggota wajib mematuhi aturan agar madu kami tetap pada kualitas baik,” tambah Erwanto sambil tersenyum.

Mulai dari persiapan, proses panen hingga pengolahan diawasi oleh ICS yang telah ditunjuk. Hal tersebut membuat anggota harus disiplin dan tidak berlaku curang. “Panen pun harus sesuai aturan agar tikung tidak rusak,” pungkas Erwanto.
Pasca Panen
Panen lesatari dilakukan hanya dengan memotong kepala sarang. Setelah proses panen selesai maka lebah-lebah tadi akan kembali ke sarangnya. Dalam waktu sekitar dua minggu maka dapat dilakukan panen kembali di sarang yang sama.
Madu segar yang tersimpan dalam wadah mulai mengucur untuk dipindahkan pada wadah yang lain. Hal ini agar anak lebah yang terbawa dalam lilin madu bisa tersaring. “Untuk memisahkannya harus hati-hati agar tidak cacat,” jelas Erwanto.
Proses yang dilakukan pasca panen harus melewati beberapa tahap yaitu memisahkan madu dari anak lebah kemudian menyaring madu tersebut. “Jika sudah selesai kita akan mengambil madu dari lilin ini. Potong dengan pisau yang tajam agar tidak rusak,” lanjut Erwanto.
Apabila proses tersebut selesai maka madu-madu ini akan diolah dalam rumah produksi yang untuk menurunkan kadar air serta proses lainnya.

Sebagai langkah pasti, pemda kapuas hulu bekerja sama dengan berbagai lembaga untuk membuat rumah produksi di area danau sentarum. Pembangunan tsb direncanakan dapat selesai pada bulan desember yang akan berimbas pada pengolahan madu hutan yang lebih efektif dan mensejahterakan masyarakat sekitar.

  • Penulis : Isa Oktavian
    Editor : Umi Tartilawati
Previous Tingkatkan Budaya Literasi Di Kalangan Pemuda
Next Peringati Hari Pahlawan, Mahasiswa PPL Selenggarakan Lomba

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *