Toleransi Dalam Beragama Menurut Mahasiswa Udayana

mimbaruntan.com,Untan- Merujuk pada data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 dari penduduk Bali yang berjumlah 3.890.757, penganut Hindu berjumlah 83% dan sisanya penganut agama-agama lain seperti Islam, Kristen, Katolik, Budha, dan Khong Hu Chu. Perbedaan ini memunculkan kekhawatiran akan konflik yang rentan terjadi di dalam masyarakat multikultural. Salah satu cara untuk menangkal hal tersebut adalah dengan menanamkan nilai-nilai toleransi pada setiap individunya.

mimbaruntan.com,Untan- Berbeda dengan daerah lain di Indonesia yang mayoritas beragama Islam, Kristen, atau Katolik, di Bali agama yang paling banyak dianut adalah Hindu. Merujuk pada data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 dari penduduk Bali yang berjumlah 3.890.757, penganut Hindu berjumlah 83% dan sisanya penganut agama-agama lain seperti Islam, Kristen, Katolik, Budha, dan Khong Hu Chu.  Perbedaan ini memunculkan  kekhawatiran akan konflik yang rentan terjadi di dalam masyarakat multikultural. Salah satu cara untuk menangkal hal tersebut  adalah dengan  menanamkan nilai-nilai toleransi pada setiap individunya.  Lalu bagaimana toleransi di Bali menurut mahasiswa Universitas Udayana?

Dewa Ayu Laksmi Ratih Dharmapati, mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Udayanana kelahiran Klungkung yang merupakan satu di antara  penganut agama Hindu ini mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan  antara agama mayoritas dan agama minoritas di Bali.  “Di Bali agama mayoritasnya memang Hindu, cuma di sini nggak ada perbedaaan antara yang Islam atau Hindu dan agama-agama lain,” ungkapnya, Kamis  (16/11).

Wanita yang akrab disapa Laksmi ini mencontohkan salah satu bukti toleransi di Bali adalah pada saat Sholat Jumat berlangsung,  pecalang (petugas keamanan adat) yang merupakan penganut agama Hindu  ikut membantu menertibkan jalan dan membantu proses peribadatan penganut agama Islam.

Senada dengan Laksmi, Izzan Hadiatma Ramadhana, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana yang berasal dari Jember mengaku tidak pernah bermasalah dengan penganut agama lain di Bali, meskipun ia penganut agama minoritas. “Syukur alhamdulillah selama ini masyarakat pendatang (minoritas) terutama yg berada di sekitar Kabupaten Badung dan Kota Denpasar merasa diperhatikan oleh masyarakat yang berlatar belakang agama hindu (mayoritas). Mulai dari pemberian perizinan dalam melaksanakan ibadah besar seperti sholat idul fitri maupun idul adha,” ungkapnya, (16/11)

Ia berharap di Bali tetap memelihara toleransi antar umat beragama. “Menyame Braya, istilah Bali yg artinya hidup rukun berdampingan. Apapun agamanya ataupun sukunya,tetap saling menghargai dan saling menghormati segala perbedaan yang ada,”harapnya.

 

Penulis : Aris Munandar

Editor : Sekar A.M.

Previous Turun ke Jalan Demi Pengharapan Kawan
Next Perbaikan Jalan di Untan Tuai Keluhan

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *