Diangkat dari Sastra Lisan, Opera Hnnung Tampil Sukses

mimbaruntan.com, Untan— “memang ini kisah asmara sebenarnya, namun ada pesan lain yang saya tangkap dan menjadi penting khusnya pada tokoh Lawe yang terlalu berhasrat untuk mendapatkan sesuatu

mimbaruntan.com, Untan— Nursalim Yadi Anugrah sebagai peraih dana hibah seni Kelola pentaskan Opera Kamar yang berjudul Hnnung pada Sabtu (25/11). Opera ini dipentaskan secara langsung di Taman Budaya Kalimantan Barat.

“Banyak pihak-pihak yang membantu dalam pementasan Opera ini seperti Frisna Virginia (Soprano), tim Balaan Tumaan Ensemble, Kerubim Choir, dan masih banyak lagi. Didukung juga oleh Canopy Center, Sanggar Anak Budaya, Lantai Empat, Tanjungpura, Swadesi Printing, dan Indra Praja Musik Institute,” ujar pria yang kerap disapa bang Yadi ini.

Hnnung merupakan Opera Kamar yang diangkat dari sastra lisan tradisonal dari masyarakat Kayan Madalam dari Kapuas Hulu Kalimantan Barat (Kalbar), rumpun dari suku Apo Kayan.

Cerita Hnnung merupakan suatu cerita bernuansa romantis yang diperankan oleh dua orang yakni Nyalo dan lawe. Tidak hanya kisah percintaan namun Hnnung memiliki pesan yang tersirat didalamnya.

“memang ini kisah asmara sebenarnya, namun ada pesan lain yang saya tangkap dan menjadi penting khusnya pada tokoh Lawe yang terlalu berhasrat untuk mendapatkan sesuatu. Artinya seperti orang yang gila mengejar hasrat, sementara mereka tau bahwa mereka tidak mampu tapi mehalalkan segala cara hingga lupa dengan kerendahan hati untuk mengakui bahwa dia tidak bisa. Hanya kerendahan hati dan keikhlasan untuk mengakui kalau kita lemah, itulah yang mampu untuk menuntun kita untuk mencapai apa yang diinginkan,” papar Yadi.

Irvan salah satu tim dari Balaan Tumaan Ensemble mengatakan, ia tidak ingin menolak ketika diajak oleh Yadi untuk mementaskan Opera Hnnung. “Karya Hnnung sayang kalau hanya dipentaskan diPontianak, menurut saya karya ini sangat bagus sekali tidak seperti cerita Opera yang pada umumnya kita lihat kan biasa saja, nah bang Yadi ni buat Opera Hnnung sehingga menambah pengetahuan kita ternyata ada cerita Lawe dan Nyalo dari suku Dayak, dan kemasan musiknya pun sesuatu yang baru” tutupnya

Jepri satu diantara penonton yang hadir sanagat mengapresiasi pementasan opera tersebut. “Saya sangat mengapresiasi sekali opera Hnnung ini, saya sendiri belum pernah menonton opera secara langsung, nah ketika saya nonton Opera Hnnung menurut saya sangat keren sekali,” ujarnya.

“Sangat disayangkan sekali jika opera ini dilewatkan untuk ditonton, karena ini sangat langka untuk dipentaskan di Pontianak, namun yang saya lihat tadi penonton cukup ramai hingga ada sekitar 20 orang lebih yang tidak mendapatkan kursi, berarti kan orang juga antusias dalam menyaksikan Opera ini,” pungkasnya.

 

Penulis : Sartika

Editor : Umi

Previous Kiprah Sukses Yadi, Seniman Muda Asal Pontianak
Next dr.Soedarso, Suri Tauladan yang Dirindukan

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *