Aura Idealis dan Humanis Soe Hok Gie, di Era Milenial dan Nanti


Sumber: Google

“Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda”

Ya, kurang lebih seperti itulah sepenggal kalimat yang saya kutip dalam bukunya Soe Hok Gie “Catatan Seorang Demonstran”. Entah itu sebuah harapan atau malah doa bagi Gie, nyatanya dirinya berpulang menghadap Tuhan pada usia 26 tahun, sehari menjelang ulang tahunnya. Itu memang usia muda dan Gie pemuda jika dilihat dari Undang-undang saat ini, UU Nomor 40 tahun 2009.

Beberapa waktu lalu, merupakan hari ulang tahun Gie yang ke-75, 17 Desember 2017. Jika ia masih hidup, mungkin saja syukurannya digelar di gunung bersama mahasiswa pecinta alam, bisa pula di taman atau tepian jalan bersama aktivis mahasiswa atau bahkan di gelanggang kesenian. Tentu saya akan ikut serta dalam acara tersebut. Namun kalaulah tak ada uang, saya bisa nimbrung dengan mereka yang live streaming di instagram, facebook atau youtube.

Siapa yang tak kenal dengan adik Arief Budiman ini? Tentulah pemuda atau mahasiswa zaman now ada yang tak tahu dengan sosok ini.Namun bagi mahasiswa pecinta alam, aktivis pergerakan mahasiswa dan sebangsanya tentu terasa hambar jika tak kenal dengan Gie.

Karakter dan aura yang dimilikinya bisa menjadi pemantik untuk membangkitkan sikap kritis,idealis dan humanis. Lewat tulisannya yang dibukukan,buku biografinya dan filmyang diperankan Nicholas Saputra kita bisa mengenali Gie lebih dekat.

Begitupula dengan saya yang aktif di salah satu organisasi dalam kampus. Sebuah organisasi yang romantisme sejarahnya pun tak bisa lepas dari sejarah pergerakan mahasiswa pada umumnya. Sebagai organisator, para senior tentu memberi wejangannya agar kami banyak membaca buku. Karya Gie pun terselip dalam rekomendasi bacaan. Disandingkan dengan buku-buku lainnya karya Tan Malaka, Mochtar Lubis bahkan Pramoedya.

Mungkin bukan hanya saya yang pernah mengalami itu.Namun jika saya atau kader nantinya tak bisa tertular atau menyerap tuntas pemikiran dan karakter Gie, setidaknya kami cukup mengenalidan pernah menonton filmnya yang berdurasi lumayan panjang tanpa adegan tembak-tembakan dan sentilan di ranjang itu. Akankah film Gie akan di-remake?

Saat ini, berbagai toko buku dengan idealismedan aliran tertentu masih sering menawarkan buku-buku Soe Hok Gie. Tapi pertanyaannya, seberapa besar peminatnya saat ini, atau bahkan di masa mendatang? Kendatipun ada yang mengatakan, saat ini buku Karl Marx saja masih ada peminatnya, apalagi Gie yang geliatnya setelah kemerdekaan. Ya memang benar, namun seberapa besar peminatnya dikalangan muda ataupun tua? Toko buku atau penerbit tampaknya perlu melakukan survei secara holistik.

Saya memeiliki saran untuk beberapa kalangan.Bagi yang sudah memiliki buku Gie dijaga baik-baik karena saat ini cuaca sedang ekstrim, takut hanyut oleh banjir. Bagi anak kost, simpan buku di tempat aman, takutnya diculik maling atau terbakar. Bagi yang punya versi e-book, salin di berbagai media penyimpanan untuk menghindari rusaknya file oleh virus.

Bagi toko buku, siapkan dengan baik rak untuk buku-buku yang sepi peminat, ataupun nanti buku itu diobral, harganya mohon rasional dengan kualitas buku. Pemikiran dan catatan Gie itu berharga., bisa jadi suplemen saat kita kelelahan idealisme. Baik untuk menjaga kesehatan dan kewarasan.

Data BKKBN memerlihatkan Indonesia itu satu diantara negara yang menanggung beban bonus demografi,tahun 2020–2030. Jumlah usia angkatan kerja (15–64 tahun) meningkat sekitar 70%, sedang 30% penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun).Besaran pemuda pun akan meningkat. 10 orang pemuda bisa mengguncang dunia, jika 10 pemuda lainnya punya semangat yang sama, jadi 20 pemuda bisa mengguncang alam semesta. Why not?

Apakah pemuda dan mahasiswa nantinya masih dibawah bayang-bayang atau terbayang-bayang aura Soe Hok Gie? Saya mencoba membuat sebuah ramalan sederhana. Pertama, pola perjuangan Gie. Perjuangan apa? Mengejar eksistensi? Sebetas seremonial?

Di era perkembangan zaman dan teknologi informasi tentu dapat merubah arah dan pola pergerakan. Kampanye dan aksi pemuda cenderung mengandalkan media sosial dan serupanya. Entah itu untuk kepentingan apapun.

Para youtuber keren, vlogger handal dan pengelola adsenses yang sukses bakal menjadi rujukan. Lha, itu kan bukan substansi konten atau isu. Memang betul. Tapi seiring berjalannya waktu nanti akan ada sosok baru dari segi pemikiran dan kekritisannya yang menjadi panutan. Dia berjuang lewat media daring. Bisa saja.

Tapi semogalah, teriak-teriakan di jalan masih terdengar meski samar. Biar Pak Polisi punya kerjaan jaga jalan. Ingat, menjaga kelancaran lalu lintas, bukannya melakukan tindakan yang semena-mena terhadap peserta aksi.

Kedua, aura Gie yang disuguhkan lewatbuku dan buku yang dibacanya. Ledakan jumlah penduduk produktif akan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan pekerjaan. Tentu perguruan tinggi akan semakin gencar memersiapkan sarjana yang mampu bersaing. Buku-buku Gie akan di kesampingkan, paling samping.

Buku-buka kiat sukses, kisi-kisi tes CPNS dan perusahaan serta panduan menjadi wirausaha di era milenial akan menjadi bacaan utama. Semoga buku Gie masih tersimpan di masing-masing rak buku kita, terjaga di perpustakaan dan penerbit tetap memproduksi.

Ingat di film Gie? Sepintas, terlihat buku apa saja yang dibacanya. Ya, buku Mahatma Ghandi yang saya lihat. Buku lainnya, seperti Kartini, Mochtar Lubis dan lain-lain. Apakah buku yang dibaca Gie dan bukunya sendiri layak jadi bacaan masa mendatang? Apakah buku-buku seperti dibaca pula oleh finalis Duta Baca? Jangan-jangan yang jadi buku bacaan para finalis adalah buku kiat-kiat sukses dan tata cara hijrah. Hehe.. Itu pilihan.

Ketiga, diskusi dan bedahfilm gaya Gie. Bedah film secara kritis memang menjadi hobi Gie dan kawan seperjuangannya. Saya pun ikut tergerak mengikuti hobinya ini. Biasa yang kami bedah adalah film-film lawas yang penuh dengan perjuangan, kerakyatan dan film dokumenter yang punya idealisme.

Di masa nanti, film apa yang akan dibedah? Film tokoh yang sukses di era milenial? Film pengabdi jin atau film romantisme yang penuh dengan ke-alay-an yang diserbu penonton di tiap bioskop? Semoga nanti, rumah produksi tetap merilis film yang berkualitas, berkarakter, sarat akan nilai perjuangan dan kerakyatan. Semoga para penggiat dokumenter terus memproduksi video yang punya idealisme perjuangan.

Keempat, mencari kedamaian di gunung dan alam. Cara Gie menenangkan diri dari problema bangsa yang menjelimat sembari mengumpulkan energi perjuangan ialah dengan menikmati alam dan mendaki gunung. Hidupnya pun berakhir di gunung. Di alam ia tetap merawat pikiran kritis dan menghasilkan karya yang romantis pula.

Sungguh elegan. Apakah hal ini bisa dilakukan para pemuda nantinya? Sedang saat ini gunung meletus disana sini. Lha itu faktor alam, bencana alam. Ya, semoga kondisi gunung nantinya tetap pada zona aman. Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan. Saat ini alam kian tereksploitasi, ekspansi perusahaan menghilangkan teduhnya hutan, illegal logging masih marak, usaha tambang berkembang, alam gersang, lahan terdegradasi.

Misal, nanti gunung dan alam di Jawa telah semakin sakit parah oleh faktor alam dan manusia. Penikmat alam akan pergi ke Papua. Missal alam di Bali telah rusak, haruskah mereka ke Kalimantan? Bisa saja jika itu pilihan.

Tentu biaya tidak sedikit. Oh ya saya lupa, para pemuda usia produktif  kelak akan lebih sibuk berlomba mencari pekerjaan. Tak lagi main ke alam. Kecuali jika pekerjaannya memang di alam atau hutan.

Pilihannya ya mencari kedamaian di caffe, di atas gedung atau bahkan hanya berdiam di sudut kamar diiringi dangdut koplo. Mencari ketenangan dan kedamaian pun bukan karena resah dan jenuh dengan persoalan bangsa dan lingkungan sosial, tapi karena pekerjaan dan kebutuhan hidup. Semoga alam dan hutan Indonesia tetap lesatari. Jadi orang-orang sepi masih punya tempat tujuan bertenang diri.

“Bagai letusan berapi, bangunkanku dari mimpi. Sudah waktunya berdiri, mencari jawaban kegelisahan hati..” (Sepenggal lirik Cahaya Bulan Ost Film Gie)

Ya semua itu pilihan. Sekali lagi, pilihan. Seperti saya yang memilih jalan sunyi, eh itu kata salah seorang senior saya. Saya hanya mengutip. Dia pun tampaknya mengutip. Salam waras!

Penulis: Zuhri Mahasiswa Untan

Previous Konsorsium Perempuan Kalimantan Barat Berdayakan Wanita Tani
Next Rayakan Pergantian Tahun, Santana Objek Wisata Primadona di Sanggau

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *