mimbaruntan.com, Untan – Sampah merupakan masalah yang tidak pernah terselesaikan. Sebagai upaya pengurangannya Bank Sampah Rosella, yang bertempat di Jl. Purnama Agung VII, mengajak masyarakat untuk memilah sampah sejak tahun 2013, tidak hanya untuk mengurangi pencemaran lingkungan tetapi juga memberikan manfaat bagi ekonomi.
Pendiri Bank Sampah Rosella, Jerimin, menjadi sosok penting yang menginisiasikan kepada masyarakat untuk mengolah limbah sampah, Bank Sampah ini hadir karena keprihatinannya terhadap lingkungan sekitar yang tercemar oleh sampah. Jerimin juga menyebutkan bahwa pengelolaan Bank Sampah ini tidak hanya bersumber dari masyarakat sekitar, tetapi juga dari beberapa sekolah ikut serta berpartisipasi dalam pengumpulan dan pengelolaan sampah.
“Fokus utama dari pengelolaan limbah sampah ini yaitu sebagai pengurangan, terutama pada limbah rumah tangga di lingkungan sekitar. Ada juga yang dari luar, misalnya sekolah-sekolah,” jelasnya.
Dilansir dari disperkimta.bulelengkab.go.id, permasalahan sampah yang tak tertangani dengan baik menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari pencemaran air, tanah, hingga udara. Sampah yang menumpuk di lingkungan, apalagi di sekitar pemukiman dan tempat usaha warga, menjadi sarang berkembangbiaknya lalat dan nyamuk yang dapat menyebarkan penyakit seperti tifus, disentri, hingga gangguan pencernaan.
Baca Juga: Bank Sampah Pontianak: Solusi Lingkungan, Pemberdayaan Ekonomi, dan Kreativitas Masyarakat
Jerimin juga menjelaskan bahwa tidak selamanya inovasi yang dibuat di Bank Sampah itu menggunakan bahan bekas, melainkan barang sisa pakai yang diolah kembali agar memiliki manfaat dan nilai ekonomi yang tinggi.
“Bukan barang bekas, melainkan sisa. misalnya kerajinan yang dibuat dari kain, kain yang digunakan bukan kain bekas pakaian orang lain, tetapi potongan sisa dari kain baru yang dibeli untuk di jahit,” ungkap Jerimin.
Namun, usaha yang dijalankan tidak selamanya mulus, salah satu kendalanya mungkin dari kesadaran masyarakat yang rendah untuk lebih memperhatikan tentang pemilahan sampah sebelum diserahkan ke Bank Sampah.
“Tantangan mungkin dari kesadaran masyarakatnya sendiri, padahal dari kita sudah mensosialisasikannya. Namun terkadang banyak yang tidak memiliki waktu luang untuk memilah sampah, jadinya kami harus memilah sampahnya lagi agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” jelas Jerimin.
Budi, salah satu warga sekitar Bank Sampah Rosella mengakui bahwa pengelolaan dari limbah sampah ini masih menjadi pekerjaan rumah, karena juga biaya yang dibutuhkan untuk pengelolaan limbah sampah yang tidak sedikit, dan bisa dibilang cukup memakan banyak biaya.
“Sampah yang kita hasilkan selama ini sebenarnya masih bisa dimanfaatkan, namun memang biaya dalam pengelolaannya terlalu tinggi,” ucap Budi.
Baca Juga: Monster Plastik, Metafora Ancaman Sampah Plastik
Budi merasa dengan adanya Bank Sampah Rosella sangat membantu masyarakat sekitar dengan sosialisasi dan penyuluhan yang diberikan, sehingga masyarakat menjadi lebih peduli terhadap sampah yang akan dibuang dan paham untuk mengelola sampah rumah tangga secara mandiri. Selain itu Bank Sampah Rosella juga membantu para nasabah untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari hasil sampah yang dikelola.
Budi juga menjelaskan, walaupun ia tidak terjun langsung dalam penggunaan Bank Sampah Rosella, ia lebih memilih untuk mengelola nya sendiri dengan menjadikan limbah dapur menjadi pupuk organik, dan juga karena keterbatasan waktu dan juga pekerjaan, Budi lebih memilih untuk mengumpulkan sampah nya sendiri untuk diambil oleh petugas sampah terdekat.
“Saya sendiri mengelola sampah dapur menjadi pupuk organik, dan sampah lainnya saya kumpulkan nanti ada petugas yang ambil,” ujar Budi.
Penulis: Dina, Munawar, Belqis
Editor: Fitri
Referensi: