mimbaruntan.com, Untan – Pengenalan Kampus Kepada Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Tanjungpura (Untan) telah usai, ada satu pemandangan khas yang muncul, yaitu mahasiswa baru yang kepalanya botak berjalan ramai di sekitar kampus. Fenomena ini sudah lama dianggap tradisi, meski tak sedikit yang mempertanyakan, sejak kapan dan mengapa mahasiswa baru masih harus diwajibkan botak?
Jika ditelusuri, tradisi ini tidak muncul begitu saja. Akar sejarahnya bisa dilacak ke masa pendudukan Jepang, yang saat itu kehidupan masyarakat Indonesia kental dengan budaya militerisme. Menurut R. Darmanto Djojodibroto dalam bukunya Tradisi Kehidupan Akademik, pertama kali adanya peraturan penggundulan rambut kepada kalangan pelajar dan mahasiswa dilakukan oleh tentara Jepang, sebagai aturan disiplin ala militer. Orang Jepang menyebut botak dengan istilah Puronko, yang kemudian diplesetkan menjadi Plonco dan dimaknai sebagai “pengenalan lingkungan baru”. Aturan yang diterapkan Jepang tersebut dimaksudkan untuk membentuk kedisiplinan sekaligus menyiapkan para pemuda agar siap bergabung dengan organisasi semi-militer seperti Seinendan dan Keibodan.
Baca Juga: Membentuk Karakter Mahasiswa Baru Melalui PKKMB FH Untan
Setelah Indonesia merdeka, Universitas Indonesia (UI) menjadi kampus pertama yang mengadakan orientasi mahasiswa, lalu diikuti kampus lain. Tujuan awalnya sederhana, membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan kampus, mengenal teman, dan mengetahui kegiatan mahasiswa yang terfasilitasi. Tapi lama-lama muncul praktik perpeloncoan yang menuju ke arah ekstrem, salah satunya mewajibkan mahasiswa baru untuk botak.
Dilansir dari Tirto.id, tidak ada peraturan resmi dari pemerintah atau akademik yang menunjukkan kewajiban mahasiswa baru untuk botak. Ketentuan yang ada hanya sebatas anjuran berpenampilan rapi. Artinya, praktik “wajib botak” lebih merupakan interpretasi panitia atau senior, yang kerap dibungkus alasan solidaritas, “biar sama rata, sama rasa”, atau dalih kedisiplinan agar seragam. Sayangnya, praktik ini sering berubah menjadi ajang iseng, bahkan menjurus pada bentuk penindasan terhadap mahasiswa baru. Dari situlah tradisi ini terus diwariskan antargenerasi, seolah menjadi balas dendam simbolis antar angkatan.
Baca Juga: Batik, Musik, dan Budaya Warnai PKKMB FEB Untan 2025 Bertema “Genastara”
Masa sekarang banyak kampus sudah mengubah konsep PKKMB menjadi lebih ramah dan manusiawi, tanpa merendahkan martabat mahasiswa baru. Namun, soal penggundulan rambut sampai botak masih menjadi isu dan sering jadi perdebatan yang tak kunjung usai. Kalau mengacu pada UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, di mana salah satunya menyebutkan setiap orang berhak menentukan kebebasan pribadi, artinya seseorang bebas memilih bagaimana ia mengekspresikan dirinya, termasuk dalam berpenampilan dan gaya rambut. Jadi, memaksa atau dengan kata halus mewajibkan, mahasiswa baru untuk botak jelas merupakan pembatasan hak kebebasan pribadi dan bisa menimbulkan dampak psikologis bagi mereka yang belum terbiasa.
Karena itu, aturan penggundulan rambut hingga botak sudah tidak relevan lagi dan tidak memberikan manfaat apapun bagi dunia akademik. Beberapa kampus, seperti UI dan UGM, bahkan telah lama meninggalkan praktik tersebut. Meski demikian, masih ada kampus yang tetap mempertahankannya, termasuk Untan, dengan alasan sebagai tradisi penyambutan mahasiswa baru. Padahal, jika ditelusuri tradisi itu berasal dari masa penjajahan Jepang yang kental dengan nuansa militeristik, bukankah janggal jika kita masih terus melestarikannya dan menjadikannya sekadar tradisi belaka?
Penulis: Judirho
Referensi:
R.Darmanto Djojodibroto. (2004). Tradisi Kehidupan Akademik. Galang Press: Yogyakarta.
https://www.historia.id/article/kisah-plonco-sejak-zaman-londo
https://sediksi.com/apakah-ospek-harus-botak/
http://www.aspirasionline.com/2016/08/menyoal-urgensi-dan-wacana-tandingan-rambut-botak/
https://www.hukumonline.com/berita/a/ketika-advokat-mengenang-masa-ospek-lt55e9266b7b0af/
https://mojok.co/liputan/ospek-di-masa-lalu-senior-bajingan-kabeh/#goog_rewarded