mimbaruntan.com, Untan – Masalah yang dihadapi oleh penyintas HIV masih jauh dari selesai. Di balik berbagai kemajuan medis, stigma dan diskriminasi tetap menjadi tembok paling tebal yang menghalangi mereka untuk hidup secara layak. Stigma terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) berakar dari ketidaktahuan dan ketakutan masyarakat. Banyak orang beranggapan bahwa HIV adalah kutukan untuk orang memiliki moralitas yang buruk, sehingga mereka yang terinfeksi merasa terasing, ditolak ,dan terdiskriminasi. Bahaya stigma ini tidak hanya berdampak bagi kesehatan mental individu yang terkena virus melainkan juga menghambat upaya pencegahan penyebaran virus itu sendiri.
Di Indonesia sendiri jumlah kasus HIV positif dari tahun ke tahun semakin meningkat dan sering terjadi pada kelompok dari rentang usia 25-49. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2025, mencatat sebanyak 564 ribu ODHIV yang ada di Indonesia. Dari jumlah tersebut sekitar 356.638 atau 63 persen yang sudah ditemukan. Virus ini dapat melemahkan kekebalan tubuh manusia dan menyerang sel jenis tertentu yaitu sel-sel yang mempunyai antigen permukaan CD4, terutama limfosit T.
Baca Juga: Kenal HIV/AIDS Bersama KBMB Untan
Banyak penyebab dari penularan HIV seperti hubungan sex bebas, pemakaian jarum suntik narkoba, melalui transfusi darah, dan transmisi dari ibu ke anak. HIV menular melalui darah atau cairan tubuh yang tubuh yang sudah terkena virus ini. Sampai saat ini HIV belum ditemukan obatnya tetapi dapat di kontrol dengan terapi antiretroviral (ART). Tanpa pengobatan tepat, HIV dapat berkembang menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).
Penting menyadari HIV bukan “tanda aib” melainkan kondisi medis yang membutuhkan pemahaman, dukungan, dan penanganan yang tepat. Banyak masyarakat cenderung menjauhi dan memandang rendah mereka yang terjangkit virus HIV. Karenanya mereka berusaha menyembunyikan diri dan enggan mencari bantuan. Edukasi yang tepat adalah kunci untuk mengubah perspektif masyarakat.
Menghapus stigma adalah pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Kita perlu meruntuhkan konstruksi sosial yang menyakiti, membungkam, dan membatasi. Dengan melawan stigma, kita tidak hanya menunjukkan kemanusiaan pada ODHA, tetapi juga memperkuat kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Kalau kita tahu stigma begitu merusak, mengapa masih membiarkannya terjadi?
Penulis: Rani