mimbaruntan.com, Untan — Pernah nggak sih, kamu ketemu orang yang ngomong, “Aku cuma jujur aja, sih,” padahal ujung-ujungnya malah dilempar pakai batu bata bertuliskan judgment? Atau liat komentar di media sosial yang katanya “cuma bercanda,” tapi rasanya kayak ditusuk pake pisau? Nah, selamat datang di era dimana ketulusan udah bukan lagi nilai sosial, tapi jadi semacam peninggalan sejarah.
Kita hidup di zaman dimana keikhlasan dikubur pelan-pelan oleh filter, likes, dan algoritma. Dan pembunuh berdarah dinginnya? Media sosial. Ironisnya, platform yang dulu katanya ingin menghubungkan dunia ini malah bikin kita saling memamerkan topeng dan saling melempar batu.
Coba deh scroll Instagram atau Tiktok. Kamu bakal disuguhi konten orang nangis sambil selfie, ngasih makan orang miskin tapi pakai drone shot sinematik, atau konten healing yang ujung-ujungnya promosi skincare. Tidak salah sih berbagi. Tapi kadang kesannya tuh bukan lagi soal memberi, tapi soal performa. Empati jadi properti visual. Kebaikan jadi konten.
Dan parahnya lagi, media sosial menciptakan budaya baru, jadi mean biar edgy. Komentar-komentar toxic likenya ribuan. Bercanda rasis, viral. Ngata-ngatain body orang? Trending.
Kalau kita lihat ke dunia hiburan, kondisinya tidak jauh beda. Film-film besar yang dulunya bisa bikin penonton mikir atau merasa sesuatu, sekarang makin terasa seperti konten instan. Ambil contoh Marvel Cinematic Universe (MCU) yang dulu menjadi cerita epik. Tapi makin ke sini, semuanya jadi template, CGI berlebihan, gimmick jenaka, dan ending yang mudah ditebak.
Fenomena ini tidak terbatas pada film. Di dunia reality show, manipulasi emosi peserta untuk meningkatkan rating telah menjadi praktik umum. Contohnya, produser acara seperti MasterChef diketahui menggunakan teknik editing yang disebut Frankenbiting untuk menciptakan narasi dramatis yang sering kali tidak mencerminkan kenyataan.
Muncul juga tren baru di masyarakat, nonchalant. Sikap cuek setengah mati, datar, dan tidak peduli. Dalam konteks tertentu ini bisa empowering, jadi semacam perlawanan terhadap ekspektasi sosial yang toxic. Tapi kalau udah berlebihan, jadinya kayak manusia yang minus emosi.
Terlalu nonchalant bikin kita lupa rasanya peduli. Lupa rasanya ngucapin sesuatu tanpa berpikir dulu. Kita jadi takut terlihat chalant, iya, chalant, bentuk yang jarang dipakai tapi artinya you actually give a damn. Kita takut dibilang lebay, alay, baperan, padahal justru dengan peduli, dengan tulus, kita manusia.
Orang-orang membuang empati untuk terlihat keren dan unik. Nyatanya, di masa kurang kepedulian ini, justru mereka yang masih punya hati, yang benar-benar peduli tanpa pamrih atau pretensi, adalah yang paling menonjol.
Penulis: Aga
Referensi:
https://www.pluggedin.com/blog/on-the-radar-nonchalant-trend-tiktok-meditation-and-senior-assassin/