mimbaruntan.com, Untan – Mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura kembali memperingati Hari Tata Ruang (HATARU) melalui gelaran Talkshow Nasional Hari Tata Ruang 2025 bertema Tata Ruang yang Berkeadilan, mengusung judul “Program Transmigrasi sebagai Jalan Mewujudkan Tata Ruang yang Berkeadilan”. Acara berlangsung pada Sabtu (22/11) di Gedung Konferensi, Ruang Teater 1, Universitas Tanjungpura.
Setelah pembukaan dengan pertunjukan Tari Tidayu (Tionghoa, Dayak, dan Melayu). Ketua Panitia, Muhammad Khairil Giat, menyoroti urgensi tata ruang yang berpihak pada semua kelompok masyarakat. Ia menyampaikan bahwa penataan ruang ideal harus memberi ruang berkembang bagi publik tanpa memunculkan ketimpangan manfaat.
“Tata Ruang yang baik adalah tata ruang yang mengedepankan kebebasan pembangunan yang dimana setiap lapisan masyarakat memiliki hak dan manfaat yang sama atas pembangunan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Baca Juga: Dies Natalis PWK Untan: Hijaukan Langkah, Hangatkan Ikatan
Usai sambutan dari panitia, penyampaian beralih kepada Ketua Himpunan Mahasiswa PWK, Syarif Mu’ammar Zacky. Dalam arahannya, ia menekankan bahwa kegiatan ini adalah tempat bertukar gagasan untuk mendorong tata ruang yang lebih partisipatif. Ia juga menyoroti perlunya keterlibatan publik dan pemangku kebijakan agar praktik penataan ruang dapat berjalan optimal.
“Semoga kami dapat mempromosikan praktik terbaik dalam penataan ruang, maka dari itu kami berharap acara ini dapat mengundang partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan,” tuturnya.
Usai sambutan, panitia memberikan plakat serta sertifikat kepada narasumber dan moderator sebagai bentuk apresiasi sekaligus penanda dimulainya talkshow. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi dokumentasi serta ice breaking yang mengajak peserta berinteraksi untuk menciptakan suasana antusias sebelum memasuki diskusi utama.
Talkshow menghadirkan tiga narasumber, yakni Dhio Dhani Shineba (Pengurus Dewan Nasional KPA), Hermanus (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Barat), dan Gusti Zulkifli Mulki (Universitas Panca Bhakti). Diskusi menyoroti konsep keadilan dalam tata ruang, prioritas kebijakan agar keadilan dapat diimplementasikan, serta dinamika sosial dan perspektif masyarakat adat terkait pelaksanaan transmigrasi.
Di tengah jalannya diskusi, peserta juga diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman mereka mengikuti kegiatan. Salah satunya adalah Futri Andini, mahasiswa baru PWK, yang mengaku mendapatkan sudut pandang baru mengenai isu transmigrasi, terutama yang terjadi di Kalimantan Barat.
“Talkshow ini sangat menyenangkan karena saya dapat mengetahui permasalahan seperti transmigrasi terkhusus di Kalimantan Barat sendiri,” ungkapnya.
Setelah testimoni peserta disampaikan, pandangan juga datang dari Ketua Studi PWK, Firsta Rekayasa Hernovianty. Ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa dan narasumber dalam diskusi ini, serta menilai kegiatan seperti talkshow perlu terus dikembangkan agar isu-isu tata ruang tetap relevan dan dekat dengan dunia akademik maupun publik.
“Saya harapkan diadakan kegiatan seperti ini lagi dengan tema yang relevan dan lagi booming bagi tata ruang atau PWK baik di luar ataupun Kalbar sendiri,” ujarnya.
Talkshow Nasional Hari Tata Ruang 2025 menegaskan urgensi pemahaman mengenai keadilan dalam tata ruang melalui pelaksanaan transmigrasi yang inklusif, adaptif, dan berbasis kebutuhan kawasan. Sinergi antara akademisi, pemerintah, serta masyarakat diharapkan mampu menjadikan transmigrasi bukan sekadar distribusi penduduk, tetapi strategi pembangunan ruang yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Press Release Panitia Hari Tata Ruang (HATARU) 2025