mimbaruntan.com, Untan – Di Bulan Mei ini, kita tau bahwa ingatan sejarah sekalu menjadi bahan diskusi dan pembicaraan terus menerus apasih yang terjadi bulan itu. Karena ia membawa selalu datang ingatan yang tidak pernah pudar meski rezim masih mencoba untuk melupakannya. Karena itu bagi rakyat Indonesia, bulan Mei adalah ruang sejarah yang dipenuhi luka, keberanian, air mata, dan perlawanan.
Suara-suara yang lama di bungkam pernah bangkit bersama. Mahasiswa turun ke jalan, buruh menyuarakan haknya, rakyat kecil menolak ketidakadilan, dan rezim kekuasaan yang tampak begitu kuat akhirnya bisa diruntuhkan oleh gelombang amarah rakyat.
Bukan tanpa alasan, hampir setiap tanggal penting di bulan Mei menyimpan cerita perjuangan rakyat untuk melawan penindasan, ketimpangan, pembungkaman, dan kekuasaan yang sewenang-wenang.
Kita mulai di tanggal 1 Mei yang diperingati sebagai Hari Buruh Internasional atau kerap dikenal May Day. Yang menjadi simbol perjuangan kaum buruh pekerja di seluruh dunia, karena berawal dari 400.000 buruh di berbagai penjuru Amerika Serikat yang tergabung dalam Federasi Serikat Buruh dan Perdagangan Amerika Serikat (AFL) pada 1 Mei 1886, dengan menuntut pembatasan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam rekreasi. Jadi bisa dilihat bahwa buruh bukan hanya roda penggerak ekonomi, tetapi juga kelompok yang rentan mengalami penindasan berupa pemberian upah murah, jam kerja panjang, hingga hilangnya hak-hak dasar.
Di Indonesia, perjuangan buruh telah berlangsung sejak masa kolonial hingga hari ini. Demonstrasi, mogok kerja, dan aksi massa menjadi cara untuk menuntut kehidupan lebih layak. Meski represif dari aparat keamanan seringkali terjadi untuk menggagalkan solidaritas dan perjuangan para buruh. Tetapi 8 jam kerja sehari, hak cuti, jaminan kesehatan, hingga upah minimum adalah hasil perjuangan kolektif rakyat pekerja Indonesia.
Kemudian pada 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional karena itu adalah tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889). Tanggal ini bukan tentang memperingati sekolah ataupun kuliah. Melainkan tentang kesadaran bahwa pendidikan adalah alat pembebasan. Karena pendidikan membuat rakyat mampu berpikir kritis, memahami haknya, dan berani mempertanyakan ketidakadilan. Sungguh jika kita mengenal sebuah quotes “Bangsa yang terdidik adalah bangsa yang sulit dibodohi dan ditindas”, rasanya untuk negara ini masih tidak sesuai. Karena apa, negara masih mengabaikan hak pendidikan, lebih mementingkan ambisi rezim yaitu memberi racun ehh maksudnya makan bergizi gratis.
Miris rasanya apalagi Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan bahwa pendidikan bertujuan memerdekakan manusia. Kalimat itu masih terus relevan hingga sekarang. Hingga saat ini kekuasaan yang otoriter lebih takut kepada rakyat yang berpikir kritis, karena sejak zaman kolonial, kesadaran adalah awal dari perlawanan. Maka, pendidikan dan perjuangan rakyat tidak pernah bisa dipisahkan.
Beralih pada tanggal 3 Mei yang diperingati sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia. Pers memiliki peran penting dalam menjaga demokrasi, karena tertera bahwa Pers adalah Pilar Keempat Demokrasi. Maka jika media dibungkam, Kebenaran menjadi sulit ditemukan. Dalam sejarah Indonesia, kita sudah melihat bagaimana Orde Baru dengan lantangnya membredel media-media yang dianggap mengancam kekuasaan. Sehingga wartawan diawasi, kritik dibatasi, dan informasi kerap dikendalikan oleh negara atau individu lainnya.
Namun, suara kebenaran tidak mudah dimatikan, Pers tetap menjadi salah satu kekuatan penting dalam mengungkap ketidakadilan, korupsi, perusakan alam, penindasan, dan kekerasan negara. Kebebasan Pers adalah bagian dari perjuangan rakyat untuk memperoleh hak berbicara dan mengetahui kebenarannya.
Bulan Mei juga mengingatkan bangsa Indonesia pada sosok Marsinah. Seorang buruh perempuan yang menjadi simbol keberanian melawan ketidakadilan. Marsinah memperjuangkan hak-hak buruh di pabrik tempat ia bekerja. Namun perjuangan itu harus dibayar mahal, pada 8 Mei 1993, ia ditemukan meninggal dunia dan diketahui mengalami penyiksaan. Hingga hari ini, meski sekalipun Prabowo mengumumkan Marsinah sebagai Pahlawan dan ada pembangunan Museum untuk jasa-jasa Marsinah, tetapi kematian Marsinah masih menyisakan pertanyaan besar tentang keadilan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia.
Memasuki pertengahan Mei, sejarah Indonesia berubah sejarah drastis. Tahun 1998 menjadi titik penting dalam perjalanan bangsa. Krisis ekonomi yang menghancurkan kehidupan rakyat membuat kemarahan sosial semakin besar. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi, pengganguran meningkat, dan rakyat hidup dalam kesulitan. Di tengah situasi itu, mahasiswa di berbagai daerah mulai bergerak menuntut reformasi.
Salah satu peristiwa penting terjadi di Gejayan, Yogyakarta. Pada 8 Mei 1998, Mahasiswa dan elemen masyarakat turun ke jalan membawa tuntutan perubahan. Tetapi bentrokan brutal antara mahasiswa dan aparat keamanan di Jalan Gejayan semakin mencekam, sehingga peristiwa ini menewaskan seorang warga sipil yang lewat yaitu Mozes Gatotkaca. Karena itu menjadi titik balik bahwa demonstrasi semakin menyebar ke berbagai kota di Indonesia dan rasa takut terhadap kekuasaan yang otoriter telah hilang.
Baca Juga: 26 Tahun Reformasi: Ancaman Demokrasi Semakin Nyata di Depan Mata
Puncak kemarahan rakyat terjadi pada 12 Mei 1998, empat Mahasiswa Universitas Trisakti ditembak mati saat melakukan aksi demonstrasi damai. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Penembakan ini mengguncang seluruh Indonesia, tangisan berubah menjadi kemarahan sehingga duka menjadi perlawanan. Tragedi Trisakti menjadi pemicu terhadap runtuhnya Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 Tahun. Setelah penembakan itu, gelombang demonstrasi semakin besar. Mahasiswa dari berbagai Universitas turun ke jalan untuk menuntut Soeharto mundur dan menyerukan Reformasi.
Akan tetapi disamping Tragedi Trisakti, terjadi peristiwa yang cukup memilukan yaitu Kerusuhan Rasial 13-15 Mei. Banyak toko-toko milik masyarakat etnis Tionghoa dibakar, kekerasan terjadi di berbagai sudut kota Jakarta, dan ratusan nyawa melayang. perempuan Tionghoa menjadi korban kekerasan seksual dalam tragedi yang hingga kini masih belum sepenuhnya diselesaikan negara.
Bahkan Ita Martadinata yang sekalipun ingin bersaksi atas pemerkosaan massa terhadap dirinya dan perempuan lainnya dibungkam, ia dibunuh secara keji. Tetapi di saat ini, terdapat pernyataan Fadli Zon bahwa pemerkosaan massal saat itu “tidak pernah terjadi”. Sebuah statement seorang mantan aktivis 98 yang sekarang telah duduk begitu nyaman di lingkaran kekuasaan, seolah-olah kejadian tersebut tidak ada dan sekali lagi negara mencoba melupakannya.
Kita tarik ke belakang tepatnya 118 tahun yang lalu, di mana ada organisasi para pemuda yang bernama Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Organisasi ini didirikan oleh para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia (Jakarta), dengan tokoh penting seperti dr. Soetomo dan terinspirasi oleh gagasan dr. Wahidin Sudirohusodo, bahwa rakyat di detik ini sudah mulai sadar bahwa penjajahan hanya didapat dilawan melalui persatuan, pendidikan, dan organisasi.
Kelahiran Budi Utomo menjadi penanda hari yang kita kenal sebagai “Kebangkitan Nasional” yang menjadi awal lahirnya organisasi modern yang bergerak untuk kemajuan rakyat Indonesia melalui pendidikan dan kesadaran atas rasa sepenanggungan yang ditindas dan diperas habis-habisan oleh kolonialis.
Dari Budi Utomo sudah mengajarkan bahwa perlawanan tidak diharuskan untuk mengangkat senjata dan saling membunuh. Hal ini kemudian hari dibuktikan pada 19 Mei 1998, Mahasiswa berhasil menduduki gedung MPR/DPR RI. Pemandangan ribuan mahasiswa memenuhi gedung parlemen menjadi simbol runtuhnya rasa takut rakyat terhadap rezim Orde Baru yang dikenal pembunuh. Gedung yang sebelumnya terasa jauh dari rakyat akhirnya dipenuhi suara mahasiswa yang menuntut reformasi total.
Akhirnya, pada 21 Mei 1998, Soeharto menyatakan mundur dari jabatan Presidennya setelah berkuasa selama 32 Tahun atas darah pembantaian dan kekerasan yang dilakukannya untuk memuluskan kekuasaan yang begitu lama dan otoriter. Kejatuhan Soeharto bukan semata-mata peristiwa politik biasa. Itu adalah hasil perjuangan panjang rakyat Indonesia, di mana Mahasiswa, Buruh, Aktivis, Wartawan, dan Masyarakat Sipil yang terus melawan.
Baca Juga:Sudah Waktunya Kita Merenung Apa Tujuan dari Pendidikan Sebenarnya
Namun, perjuangan belum selesai, Ketidakadilan masih terus ada, represif aparat terhadap masyarakat sipil semakin menjadi, korupsi yang terus terjadi, para penguasa mulai tidak tau diri dan pelanggaran hak asasi manusia masih menyisakan luka. Karena itu semangat Melawan tidak boleh berhenti hanya sebagai kenangan sejarah belaka.
Saya jadi mengingat kutipan dari George Santayana seorang penulis asal Spanyol yang bilang “Mereka yang tidak mengingat masa lalu akan terkutuk untuk mengulanginya”.
Saat ini rasanya kutipan itu terasa nyata di Indonesia, sejarah semakin dikaburkan dan dibutakan, sehingga akan mudah mengulangi kesalahan yang sama. Maka dari itu Meilawan adakah tanda bahwa hak-hak yang telah diraih bukanlah hadiah dari rezim, tetapi hasil perjuangan panjang. Sehingga menjaga ingatan agar bangsa ini tidak melupakan sejarahnya sendiri.
Penulis: Judirho