mimbaruntan.com, Untan – Universitas Tanjungpura menjadi ruang dialog ketika BBC News Indonesia menghadirkan program BBC Goes to Kampus pada 18 November 2025. Mengusung tema “BBC Inside: Cerita di Balik Layar Dunia Berita,” kegiatan ini menghadirkan ruang diskusi yang inspiratif dan edukatif, mempertemukan mahasiswa dengan jurnalis serta editor profesional BBC Indonesia. Melalui program ini, peserta mendapatkan pemahaman tentang proses kerja jurnalistik internasional yang tersusun melalui tahapan panjang mulai dari perencanaan, pengumpulan data, verifikasi, hingga penyajian berita yang akurat dan bertanggung jawab kepada publik.
Kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi calon jurnalis, BBC hadir untuk memperkuat literasi media, membekali peserta dengan pemahaman mengenai bagaimana berita diproduksi di ruang redaksi profesional, serta mengajak publik untuk menjadi pembaca yang kritis di tengah derasnya arus informasi digital.
Agung Nugraha salah satu dosen ilmu komunikasi sekaligus penyelenggara kegiatan, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan ruang edukasi yang inklusif bagi siapa saja yang ingin memahami proses jurnalistik secara lebih komprehensif. Ia menegaskan bahwa tujuan kegiatan tidak hanya berfokus pada calon jurnalis, tetapi juga mendorong masyarakat untuk semakin melek media.
Baca Juga: Mengupas Jurnalistik di Era Digital Bersama Praktisi
“Acara ini tidak hanya kami fokuskan kepada calon jurnalis, tetapi juga ingin masyarakat menjadi lebih bisa melek media. Mereka perlu memahami proses pembuatan berita dan juga bahkan dapat ikut berpartisipasi dalam menganalisis berita yang telah kita publikasikan ke Masyarakat sehingga tidak langsung memberi penilaian tanpa mengetahui proses yang mendasarinya” ujarnya.
Agung Nugraha juga menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa, baik dari program studi ilmu komunikasi maupun non komunikasi agar mereka dapat memahami behind the scene dari kerja jurnalistik dan lebih peka terhadap isu-isu yang ada.
“Yang pertama sih mahasiswa Ikom. Semoga dengan ini, mahasiswa Ikom dapat paham behind the scene dari kerja jurnalistik, khususnya tingkat nasional bahkan sampai tingkat internasional. Kami juga berharap peserta non-komunikasi bisa menjadi melek media juga peka terhadap berita-berita yang ada saat ini dan bisa menjadi penggerak juga membantu para jurnalis untuk mencari isu-isu yang sebenarnya perlu kita perhatikan dalam hal-hal yang umum,” ujarnya.
Di era teknologi informasi yang berkembang pesat, media dituntut untuk mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan, termasuk hadirnya kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih. Kondisi ini tidak hanya membuka peluang, tetapi juga menimbulkan tantangan besar, terutama dalam menjaga akurasi dan kredibilitas informasi.
Jerome Wirawan selaku Editor BBC News Indonesia mengatakan bahwa salah satu tantangan utama yang dihadapi media saat ini adalah proses verifikasi berita. Perkembangan AI dan maraknya penggunaan media sosial membuat arus informasi semakin cepat dan tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan, sehingga proses verifikasi menjadi semakin krusial guna memastikan bahwa berita yang disajikan benar-benar akurat dan terpercaya.
“Verifikasi akan selalu menjadi tantangan jurnalistik dimana-mana, baik untuk berita ringan maupun breaking news. Apalagi di zaman AI, di zaman media sosial, ada orang bilang ‘eh terjadi kejadian di sini’ tapi kan belum tentu itu benar dan harus diverifikasi,” jelasnya.
Baca Juga: Hari Tata Ruang 2025: PWK Untan Soroti Isu Transmigrasi
Selain verifikasi, Jerome juga menyoroti pentingnya editorial judgment dan perencanaan merupakan tahapan paling kritis dalam produksi berita karena tahapan itulah yang akan menentukan apakah sebuah isu layak diangkat, serta bagaimana penyajiannya agar tetap akurat.
“Editorial judgment atau penilaian editorial adalah bagaimana kita merencanakan untuk membuat suatu berita. Kalau misalnya kayak ada ledakan. Bisa saja saya bilang ini nggak usah diliput, tapi diliput dengan kehatian-kehatian. Itu paling kritis karena disitulah saya bisa menentukan, atau kami bisa menentukan ini diliput atau nggak. Ya saya rasa itu perencanaan juga penting.”
Salah satu Mahasiswa ilmu komunikasi, Benediktus Ryan mengaku kegiatan ini mempertegas pengetahuan yang telah ia pelajari sebelumnya. Dengan adanya BBC Goes to Kampus mengingatkannya ketika ingin memproduksi sebuah konten atau pun berita maka harus memperhatikan detail-detail tertentu dan juga kode etik jurnalistik.
”Sebetulnya, apa yang sudah ada dijelaskan hari ini, saya sudah ada ilmunya dan materi yang saya dapat sebelumnya. Tapi dengan kegiatan hari ini mempertegas dan mengingatkan saya kembali bahwa ketika ingin memproduksi konten itu harus memperhatikan detail-detail tertentu atau etika-etika jurnalistik tertentu, gitu,” ujarnya.
Melalui diskusi interaktif, pemaparan pengalaman lapangan, serta pembahasan langsung tentang proses produksi berita, kegiatan ini menjadi jembatan antara dunia akademik dan industri media. Mahasiswa diajak memahami bahwa sebuah berita tidak lahir begitu saja, melainkan melalui proses panjang yang menuntut kepekaan, kecermatan, dan tanggung jawab etis.
Seminar BBC Goes to Kampus ini diharapkan dapat menanamkan kesadaran kritis, terutama di kalangan mahasiswa Universitas Tanjungpura agar mereka dapat melihat berita bukan hanya sebagai produk akhir, melainkan sebagai hasil dari proses jurnalistik yang panjang, menuntut kepekaan, verifikasi ketat, dan tanggung jawab yang etis. Lebih lanjut, tulisan ini juga diharapkan mampu memicu semangat para calon jurnalis muda untuk mulai mengasah dan mengembangkan skill yang relevan, serta mendorong seluruh pembaca untuk menjadi masyarakat yang lebih melek media, sehingga mampu menganalisis berita secara komprehensif dan kritis di tengah arus informasi digital yang semakin deras.
Agung Nughraha berharap agar masyarakat bisa melihat berita itu tidak hanya sekedar sebuah video atau sebuah isu, tetapi juga dapat memahami bahwa berita ini muncul karena ada sebuah proses, dan juga beliau berharap agar calon-calon jurnalis sudah dapat mengetahui dan memahami skill apa saja yang dibutuhkan ke depannya untuk dikembangkan.
“Untuk mahasiswa dan juga calon jurnalis muda, saya berharap agar masyarakat dapat melihat berita itu bukan sekedar sebuah video atau sebuah isu, tetapi dapat memahami bahwa berita ini muncul karena ada sebuah proses, dan kami juga berharap agar calon-calon jurnalis sudah dapat memahami skill apa yang dibutuhkan ke depannya untuk dikembangkan,” ujarnya.
Penulis: Rani, Dwi
Editor: Wahyu