mimbaruntan.com, Untan – Dari kejauhan, deretan panitia PKKMB Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tanjungpura tampak kompak dengan rok batik yang mereka kenakan. Nuansa tradisi langsung terasa sejak awal, mengisyaratkan tema besar yang mereka usung tahun ini: Generasi Aksara Citra Nusantara atau “Genastara”.
Gubernur Mahasiswa FEB Untan periode 2025–2026, Rizki Wira Putra, mengatakan tema Genastara lahir dari ide mahasiswa. Menurut Rizki, kata aksara diambil dari bahasa Sanskerta, sementara citra bermakna memperkenalkan.
“Untuk tema kegiatan ini, yaitu Genastara, merupakan singkatan dari Generasi Aksara Citra Nusantara. Penekanannya ada pada kebudayaan. Kita sama-sama tahu, sebagai mahasiswa setidaknya kita harus memperkenalkan atribut-atribut daerah ataupun hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan. Nama Genastara sendiri diambil dari kata aksara yang berasal dari bahasa Sanskerta dan citra yang berarti memperkenalkan. Karena itu, pengusungan nama ini erat kaitannya dengan kebudayaan,” ujarnya.
Sejalan dengan tema, materi yang disampaikan tidak hanya seputar kebudayaan, tetapi juga penguatan karakter. Peserta dibekali sikap anti-radikalisme dan intoleransi, serta wawasan akulturasi budaya yang berpadu dengan teknologi di era Society 5.0.
“Salah satu materi membahas sikap yang harus dimiliki mahasiswa agar menjadi pribadi yang anti-radikalisme dan intoleransi. Hal ini diawali dengan penanaman karakter, yaitu bagaimana mahasiswa dapat mencintai budaya tanpa bersikap radikal. Selanjutnya, materi membahas penyerapan akulturasi budaya yang selaras dengan perkembangan teknologi di era Society 5.0,” tutupnya.
Baca Juga: Warna Baru PKKMB FEB Untan
Tahun ini, PKKMB hadir dengan terobosan segar. Salah satunya parade organisasi kemahasiswaan menghidupkan kembali minat mahasiswa baru untuk berorganisasi, serta penampilan band yang melibatkan mahasiswa baru sendiri.
Ketua Umum PKKMB FEB Untan 2025, Romi Suradi, menyebut jumlah mahasiswa baru yang mengikuti PKKMB tahun ini berkisar 980 orang, meski sebagian masih menunggu verifikasi daftar ulang dan NIM dari pihak universitas.
“Untuk yang mengikuti ini sekitar 980 mahasiswa, walaupun ada beberapa mahasiswa yang belum teridentifikasi karena daftar ulang dan NIM masih didata oleh Untan,” jelasnya.
Romi juga memaparkan bahwa lokasi kegiatan puncak di Gedung Pontianak Convention Center (PCC) dipilih atas pertimbangan efisiensi.
“Kami sebenarnya mencari alternatif lain, tapi melihat peluang di PCC ada keringanan biaya untuk lembaga pendidikan. Kami mendapat diskon harga dari pemerintah daerah, sehingga biaya lebih murah. Jadi kami manfaatkan itu demi efisiensi, sekaligus mendukung program kementerian dan rektor,” ujarnya.
Ketua pelaksana, Rafli Ramadhan, menambahkan bahwa jalur koordinasi berjalan dua arah, di mana BEM memimpin alur ide sementara dosen memastikan materi wajib tetap tersampaikan, namun ia juga mengakui adanya tantangan di lapangan terkait kondisi fisik peserta.
“Sering terjadi di setiap agenda ada yang kelelahan, drop, atau pingsan. Kalau sudah tidak memungkinkan, kami putuskan untuk memulangkan mereka demi kelancaran acara dan kesehatan peserta,” katanya.
Puncak acara di hari keempat yang berlokasi di PCC menjadi momen paling meriah. Melalui seleksi formulir daring, panitia memilih mahasiswa baru berbakat di musik untuk tampil di panggung, mulai dari pemain drum, gitar, hingga vokalis. Lagu penutup dibawakan bersama panitia, menutup rangkaian PKKMB dengan hangat dan penuh energi.
“Pada hari puncak, tepatnya hari ke-4, kami menampilkan pertunjukan dari mahasiswa baru, salah satunya berupa penampilan band. Setiap bagian, termasuk vokal, diisi oleh mahasiswa baru. Lagu terakhir dibawakan bersama oleh panitia untuk memeriahkan acara. Pemilihan penampil dilakukan melalui formulir Google yang menanyakan keahlian mahasiswa baru, sehingga kami dapat memilih pemain drum, gitar, dan vokalis yang memiliki kemampuan di bidangnya,” tutur Rafli.
Baca Juga: Budaya Pemberian Konsumsi di Seminar Skripsi, Antara Terima Kasih atau Gratifikasi?
Bagi peserta, PKKMB tahun ini meninggalkan kesan mendalam. Zikri, salah satu mahasiswa baru, mengenang hari pertama yang diisi sesi daring berisi pengenalan kampus, dekan, dosen, dan sistematika kuliah.
“Di hari pertama, kami mengikuti sesi secara daring yang membahas banyak hal penting mulai dari pengenalan kampus, perkenalan dengan dekan dan para dosen, hingga penjelasan sistematika perkuliahan yang akan dijalani. Sesi ini menjadi bekal awal untuk memahami lingkungan akademik dan tata cara belajar di kampus,” ungkapnya.
Sementara itu, Yolanda mengaku awalnya mengira acara akan menakutkan, namun justru menyenangkan karena ia bisa belajar beradaptasi, diajarkan bekerja sama, dan bertemu orang dari berbagai daerah.
“Pada awalnya saya mengira akan semenakutkan itu, namun ternyata tidak. Justru, acaranya menyenangkan saya belajar beradaptasi, diajarkan bekerja sama, dan berkesempatan mengenal orang dari berbagai daerah yang sebelumnya belum saya kenal,” jelasnya dengan antusias.
Penulis: Wahyu
Editor: Sofia