mimbaruntan.com, Untan – Kampung Literasi Selamat (KALISE) yang berlokasi di Pontianak, Kalimantan Barat, hadir sebagai sarana pemberdayaan masyarakat melalui enam komponen literasi dasar baca tulis, numerasi, finansial, teknologi, seni budaya, dan kewarganegaraan untuk melahirkan generasi yang adaptif, kreatif, dan berdaya saing. Tidak hanya berfokus pada pengembangan minat dan pengetahuan, KALISE juga memiliki dampak ekonomi nyata dengan menerapkan sistem penukaran sampah daur ulang sebagai syarat peminjaman buku. Sampah tersebut kemudian diolah dan dijual kembali, sehingga turut mendongkrak perekonomian warga setempat.
Tiara Rachmadani selaku Bendahara menyampaikan bahwa mereka memiliki program bernama Kupi Pali (Kurangi, Pilah, dan Pakai Kembali) dimana sampah yang dibawa pengunjung akan diolah menjadi kerajinan. Selanjutnya, kerajinan tersebut dapat dipajang ditempat tersebut atau dibawa pulang oleh peserta untuk dijual. Menurutnya, para ibu yang mengikuti pelatihan berkesempatan membawa pulang hasil karyanya, namun ada juga yang memilih untuk memajangnya di KALISE.
“Sampah yang dibawa oleh pengunjung selanjutnya akan diolah oleh kami menjadi kerajinan. Kerajinan ini bisa kami pajang atau dibawa pulang oleh peserta untuk dijual. Jadi, ibu-ibu yang datang ke sini untuk mengikuti pelatihan, setelah ada hasilnya, ada yang membawa pulang dan ada juga yang dipajang di sini. Intinya, mereka bisa melanjutkan kegiatan itu untuk usaha mereka sendiri,” ujarnya.
Baca Juga: Bank Sampah: Sebagai Penggerak dan Perubahan di Masyarakat Sekitar
Tiara menjelaskan bahwa olahan produk seperti pia dan roti kap menjadi salah satu penopang ekonomi warga di KALISE, dan produk-produk tersebut dipasarkan secara rutin melalui berbagai kanal, seperti penitipan di warung, penjualan langsung, serta partisipasi dalam acara masyarakat.
“Olahan produk seperti pia dan roti kap juga menjadi salah satu penopang kegiatan ekonomi warga di KALISE. Produk-produk ini kami pasarkan secara rutin, baik melalui penitipan di warung, penjualan langsung, maupun dalam acara yang digelar masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, Tiara menambahkan bahwa KALISE mengolah bahan daur ulang menjadi kerajinan yang dijual di UMKM Center. Mereka juga menyelenggarakan pelatihan gratis untuk pembuatan berbagai produk kerajinan dan makanan, yang seluruhnya merupakan bagian dari proyek penjualan mereka. Menurutnya, pendanaan untuk pelatihan ini bersumber dari donasi, dimana PLN Peduli merupakan donatur utama.
“Selain itu, barang-barang daur ulang kami olah menjadi kerajinan untuk dijual di UMKM Center. Kami juga mengadakan pelatihan gratis membuat hantaran pengantin, pokok telur, kue tradisional, dan roti kap, yang semuanya termasuk dalam proyek penjualan kami. Biaya pelatihan ini ditutup oleh donasi, dengan PLN Peduli sebagai donatur utama,” jelas Tiara.
Yoana selaku pengurus menambahkan bahwa penjualan roti kap saat ini masih difokuskan secara offline setiap hari melalui warung-warung titipan atau pada acara warga. Namun, bagi pemesan dari luar daerah, transaksi dapat dilakukan melalui WhatsApp, mengingat produk mereka bahkan pernah dikirim hingga ke Bali dan Malaysia. Sementara penjualan online secara lebih luas, kami masih dalam tahap pembelajaran
“Untuk saat ini, penjualan roti kap kami lakukan secara offline setiap hari, baik dengan menitipkannya di warung maupun dengan membawanya ke acara-acara warga. Bagi yang dari luar daerah, bisa memesan via WhatsApp, karena produk kami bahkan pernah dikirim sampai ke Bali dan Malaysia. Namun, untuk penjualan online yang lebih luas, kami masih terus mempelajarinya.” ucapnya.
KALISE juga mendukung perekonomian warga dengan menyewakan tempat berjualan kepada seorang ibu bernama Ana. Kebijakan uniknya, biaya sewa tidak dibayar dengan uang tunai, melainkan dengan menyediakan konsumsi makanan untuk anak-anak yang hadir saat acara digelar. Ana menjelaskan bahwa pada setiap acara atau keramaian, ia menyiapkan paket makanan untuk anak-anak dengan harga sangat terjangkau, yaitu lima ribu rupiah per piring.
“Biaya sewanya tidak dibayar dengan uang, tetapi dengan menyediakan makanan untuk anak-anak saat ada acara di sini. Jadi, apabila ada keramaian, saya biasanya menyiapkan paket makanan untuk anak-anak kecil dengan harga lima ribuan per piring,” ujarnya.
Baca Juga: Pernah Dilarang, 4 Buku Ini Bisa Kamu Baca Sekarang
Program literasi yang dikembangkan KALISE terbukti tidak hanya berhasil meningkatkan minat baca, tetapi juga membuka beragam peluang ekonomi baru bagi warga. Tiara berharap, dengan terus mengembangkan program literasi yang terintegrasi ini, KALISE dapat semakin berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas. Harapannya tidak berhenti pada peningkatan kemampuan baca tulis, tetapi juga pada pemberdayaan keterampilan warga yang dapat langsung berkontribusi menambah penghasilan keluarga.
“Program literasi yang kami kembangkan memang dirancang untuk dua hal, meningkatkan minat baca, dan membuka peluang ekonomi. Ke depannya, kami berharap KALISE bisa terus berkembang dengan program-program yang terintegrasi. Target kami bukan hanya sekadar warga bisa baca tulis, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana keterampilan yang diajarkan ini bisa benar-benar membantu menambah penghasilan mereka,” ujar Tiara.
Dengan berbagai kegiatan yang menggabungkan literasi dan ekonomi, KALISE berhasil menumbuhkan minat baca sekaligus meningkatkan penghasilan warga. Mulai dari mengolah sampah menjadi kerajinan, menjual makanan khas, sampai cara-cara kreatif lainnya, semua program dibuat agar warga bisa lebih mandiri. Ke depannya, KALISE akan terus memperbanyak kegiatan yang bermanfaat, agar semakin banyak warga yang terbantu dan bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.
Penulis: Dila, Dwi, Rani
Editor: Uis