mimbaruntan.com, Untan – Ayahku adalah sebuah benua yang tak pernah sepenuhnya terpetakan. Sejak kecil, aku adalah kartografer cilik yang berusaha menelusuri garis-garis tak kasatmata di telapak tangannya, membaca guratan nasib yang bercampur oli dan tanah. Dunia, bagiku, adalah ruang antara dia dan koran paginya, antara diamnya yang pekat dan dentang palu di bengkel kecilnya.
Aku mengenal kehidupan pertama-tama bukan dari kata, tetapi dari bahasa tubuhnya. Dari caranya mendekap erat setang motor tua kami, menaklukkan jalanan berbatu seolah itu adalah naga yang harus ditundukkan untuk memberiku tumpangan ke sekolah. Dari lekuk punggungnya yang membungkuk di kebun sore hari, sebuah lengkungan yang sabar menanti padi berisi. Dia adalah lelaki yang bicara dengan keringat, dan doanya adalah setiap gerakan pasti yang menghidupi kami.
Baca juga: Sosok Ayah dan Perjalanan Seorang Anak
Namun, di balik kepastian itu, ada samudra yang tak kunjung ku pahami. Terkadang, di malam hari, aku menangkapnya melongo kosong ke arah jendela, matanya menerawang pada suatu titik di masa lalu yang tak pernah diceritakannya. Ada hantu-hantu dalam diamnya; kenangan getir yang hanya bisikannya pada rokok yang membara. Aku belajar bahwa setiap lelaki menyimpan sebuah ruang bawah tanah, dan ayahku adalah penjaga yang paling setia dari ruang miliknya sendiri. Aku mencoba memahami kesedihan dunia dari desahan napasnya yang panjang, dari caranya menggenggam bahu ibuku seolah takut angin akan merebutnya.
Dunia pria, pelan-pelan kuterka, ternyata bukan tentang kekuatan, melainkan tentang menahan. Menahan letih, menahan rindu, menahan kata-kata kasar yang sudah mengganjal di kerongkongan. Ayahku mengajarkanku bahwa cinta yang paling dalam seringkali berwujud kehadiran yang tak banyak menuntut. Cintanya adalah lampu yang selalu menyala di teras rumah, menungguku pulang. Cintanya adalah sepatu yang sudah diolesi poles agar tak kemasukan air hujan. Cintanya adalah teladan tanpa ceramah.
Baca juga: Suara yang Tersisa di Antara Kesunyian Rimbun Sawit
Kini, setelah dewasa, aku menyadari bahwa peta yang kunikan selama ini ternyata adalah kompas. Ayahku tidak memberitahuku jalan, tetapi dia adalah arah utara yang tetap. Dari dialah aku belajar bahwa dunia ini keras, tetapi kita harus lebih keras lagi. Dari caranya memeluk erat setelah aku gagal dalam suatu hal, aku belajar bahwa dunia boleh menghancurkanku, tapi ada satu pelabuhan yang selalu aman untukku pulang.
Ayahku adalah kalimat pertama dalam buku kehidupanku. Sebuah kalimat yang sederhana, kokoh, dan menjadi fondasi bagi semua cerita yang akan kutulis selanjutnya. Dan di sini, aku masih mencoba membacanya, ulang-ulang, menemukan kedalaman makna yang baru setiap kali laut hidupku bergelora.
Penulis : Uiiss