mimbaruntan.com, Untan – Pelaksanaan Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemirama) Universitas Tanjungpura pada Selasa (18/11/2025) di Kulber A lantai 3 memunculkan kritik dan pertanyaan dari sejumlah mahasiswa. Proses pemungutan suara dinilai tidak berjalan optimal karena akses sistem e-voting mengalami gangguan dan antisipasi teknis dari panitia juga dianggap belum siap.
Bagi Gufron selaku mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang hadir dalam pemilihan, persoalan Pemirama tidak hanya berkaitan dengan hasil akhir, tetapi ruang mahasiswa untuk terlibat dalam pengawasan penyelenggaraan demokrasi kampus. Ia memandang bahwa pembicaraan mengenai Pemirama tidak seharusnya dibatasi pada pihak tertentu.
“Siapapun boleh berbicara, siapapun boleh berpendapat berkaitan dengan apa yang terjadi di Untan. Bahkan yang bukan orang-orang di dalam Untan, bukan mahasiswa Untan, juga menurut saya boleh membicarakan apa yang terjadi di Untan selama itu punya dasar yang jelas,” ujarnya.
Pendapat itu muncul setelah banyak mahasiswa mengalami kesulitan mengakses sistem e-voting. Gufron melihat bahwa sejumlah peserta harus mencoba login berkali-kali hingga berlangsung berjam-jam, sesuatu yang menurutnya berdampak langsung pada rendahnya partisipasi.
“Kita bahkan kawan-kawan ada yang sampai dua jam. Ada yang sampai bahkan tiga jam baru kemudian bisa login. Kan tidak semua mahasiswa ini mau seperti itu, mau coba terus-coba terus, dia punya kesibukan yang lain,” katanya.
Baca Juga: Pasca Debat Paslon Pemirama Untan Perkuat Komitmen Tangani Isu Kampus
Berdasarkan data yang diterimanya, hanya sekitar 2.600 suara tercatat, jauh lebih sedikit dibanding lebih dari 4.000 suara pada tahun sebelumnya, meskipun saat itu pemilihan berlangsung di masa libur. Saat ini banyak laporan error disertai tangkapan layar yang diterima dari mahasiswa.
“Kawan-kawan sudah mau memilih, tapi server-nya seperti bermasalah. Kita bisa lihat hasilnya. Hasil hari ini 2.600 lebih sedikit suara yang masuk. Dibandingkan tahun lalu, itu 4.000 lebih. Padahal kondisi di tahun lalu itu libur. Hari ini situasi kuliah aktif tapi jauh sekali penurunannya,” tuturnya.
Sikap lainnya juga disampaikan Agung, mahasiswa Fakultas Hukum, yang merasa dirugikan saat melakukan pemilihan, juga melihat persoalan tidak terletak pada minat mahasiswa, melainkan keterbatasan informasi sebelum pelaksanaan. Ia menilai sebagian besar mahasiswa tidak mengetahui adanya pemilihan karena sosialisasi yang tidak merata.
“Sebanyak 36.000 lebih mahasiswa Untan, mungkin setengah atau seperempatnya saja yang tahu bahwa hari ini ada Pemilihan Raya Mahasiswa di Untan. Jadi bukan kesalahan mahasiswanya sendiri. Cuman kesalahan dari Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) karena kurangnya sosialisasi,” ujarnya.
Agung juga menilai kesiapan teknis panitia kurang matang. Ia menceritakan bahwa solusi baru disampaikan setelah rekapitulasi berlangsung berjam-jam, sehingga tidak membantu mahasiswa yang lebih dulu mengalami kendala.
“Mereka mengabari ke saya bahwa kenapa ini server susah masuk dan segala macam. Setelah kami tanya ke KPRM, hampir lima jam rekapitulasi berlalu barulah mereka mengeluarkan panduan cara mengakses link yang error. Itu jelas sudah terlambat,” katanya.
Di sisi lain, ketua KPRM Untan, Salsa, memberikan penjelasan berbeda dalam forum tersebut. Ia menyatakan bahwa panitia telah melakukan pengecekan bersama tim IT Untan dan memastikan gangguan tidak berasal dari server, melainkan kesalahan penggunaan dari peserta.
“Sudah kami pastikan bahwasannya memang dikarenakan human error. Bukan karena server yang error. Maka dari itu kami memastikan bahwa kabar server pemilihan error tidaklah benar, ” ujarnya.
Salsa menambahkan bahwa beberapa peserta menggunakan email yang tidak sesuai atau perangkat yang tidak mendukung akses sistem e-voting, sehingga diminta untuk mengganti perangkat.
“Semua kesalahan yang terjadi itu memang karena human error. Mereka pakai email pribadi, bukan email student. Kalau tampilannya seperti ini berarti device-nya tidak mendukung. Jadi disuruh ganti device,” katanya.
Sebagai penyesuaian, waktu pemungutan suara diperpanjang hingga pukul 17.00. Namun, ia menyebutkan bahwa panitia tidak dapat menambah hari pelaksanaan karena sistem otomatis mengunci suara yang telah masuk.
Baca Juga: KPRM Untan Tutup Akses Debat Presma bagi Mahasiswa dan Media
Di tengah perbedaan pandangan tersebut, situasi sempat memanas pada akhir pekan lalu. Sejumlah mahasiswa yang menolak pernyataan KPRM terlibat adu mulut dan bentrok di area kampus hingga akhirnya pihak birokrat Untan memberikan tindakan membubarkan massa dan kelanjutan pemirama untuk mencegah keributan berlanjut.
Hingga kini belum ada kepastian mengenai tindak lanjut Pemirama, termasuk kemungkinan pemungutan ulang atau validasi hasil. Mahasiswa meminta proses yang lebih transparan dan mudah diakses tanpa hambatan teknis, sementara KPRM tetap menyatakan bahwa sistem tidak mengalami gangguan. Situasi tersebut masih menunggu keputusan resmi dari pihak kampus dan Pemirama tertunda.
Penulis: Judirho
Editor: Aga