mimbaruntan.com, Untan – The International Council for Research in Agroforestry (ICRAF) berkolaborasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Kubu Raya, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) menggelar “Lokakarya Penguatan Kapasitas dan Rencana Pengarusutamaan Kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup (Gambut) sebagai Materi Muatan Lokal di Kabupaten Kubu Raya,” pada Senin (08/11) di Hotel Gardenia Resort and Spa.
“Untuk kurikulum gambut ini, sebenarnya bagus sekali karena di Kubu Raya sendiri memiliki lingkungan laut dengan lahan gambut, juga sebagian besar di daerah Rasau Jaya memang banyak lahan gambut. Jadi, saya rasa cocoklah kurikulum gambut untuk dikenalkan, khususnya pada anak sekolah tingkat dasar,” tutur Nuraini, salah satu guru SDN 13 Rasau Jaya.
Nuraini mengakui bahwa kurikulum ini sangat berpotensi di Rasa Jaya, guna menjadi modal awal generasi muda untuk melestarikan tanah gambut. Terlebih daerahnya didominasi oleh penduduk yang bekerja sebagai petani.
“Sebagai pendidik, kami harus siap dengan program yang dilaksanakan Pemerintah. Apalagi kurikulum tersebut sangat cocok dengan lingkungan kami. Dan saya juga berharap dengan diadakannya kurikulum ini anak-anak bisa mengerti manfaat dari lahan gambut itu, serta mampu merawatnya.” tambah Nuraini.
Pelaksanaan Lokakarya ini mendapat pembiayaan dari World Agroforestry (ICRAF) dengan dukungan penuh dari Pemerintah Federal Jerman, khusunya The German Environtent Ministry – The International Climate Initiative (IBMU-IKI). Melalui kegiatan Penelitian Improving the Management of Peatlands and the Capacities of Stakeholders in Indonesia (Peat-IMPACTS Indonesia) yang berfokus pada lahan gambut, dengan menitikberatkan peningkatan kapasitas para stakeholders dalam mengelola lahan gambut di Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Kubu Raya.
Sonya Dewi, selaku Direktur ICRAF Indonesia mengatakan bahwa ICRAF mempunyai mandat untuk melaksanakan kegiatan riset terkait pengelolaan lanskap dan ilmu pengetahuan agar dapat dipakai dan dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di tingkat lokal, regional, dan global. Proyek Peat-IMPACTS memfokuskan diri di lahan gambut, dengan mengetengahkan peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan dalam mengelola lahan gambut.
“Lokakarya ini penting untuk menyasar generasi muda yang keterlibatannya akan dilakukan hari ini, dan dampaknya dirasakan di masa depan nanti. Generasi muda adalah bagian dari stakeholders yang sangat penting untuk memahami muatan lokal untuk menyasar pemanfaatan tata kelola ekosistem gambut dan mangrove yang berperan dalam inisiatif di tingkat global,” pungkas Sonya saat ditemui reporter mimbaruntan.com.
Lokakarya ini dilaksanakan selama dua hari, diisi dengan berbagai materi seperti, Pentingnya Penguatan Karakter dalam Muatan Lokal, oleh Sugeng Hariadi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat. Membedah Fungsi dan Peran Penting Gambut dan Mangrove bagi Kehidupan dan Penghidupan, oleh Robi dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove. Kondisi terkini Gambut dan Mangrove dan pentingnya Muatan Lokal, oleh Dwi Astiani, Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.
Materi Pendidikan Dasar Lingkungan dalam Perspektif Pendidikan Psikologi, oleh Sri Nugroho, selaku Psikolog. Penyampaian tanggapan pemerintah Daerah dan Diskusi terkait Rencana Kurikulum Gambut di Kubu Raya, oleh M. Ayub, selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kubu Raya. Acara lokakarya ditutup dengan rapat pleno dan rencana tindak lanjut dengan memaparkan hasil diskusi kelompok tentang kondisi dan kebutuhan di masing masing daerah terhadap lahan gambut dan mangrove.
Penulis : Gladis Herazati dan Zulfikar Suardi
Editor : Dito