Masa kecil memang lekat dengan permainan. Dunia yang seharusnya terasa bebas dan sederhana itu perlahan diiringi dengan hal-hal yang tidak lagi sesederhana yang terlihat. Anak-anak seusia itu mulai bersentuhan dengan isu keberagaman, bahkan sebelum mereka benar-benar memahami maknanya.
Lewat film Na Willa, kita diajak masuk ke dunia mereka dan melihat dari dekat bagaimana anak-anak memahami banyak hal dengan cara yang polos dan apa adanya. Film yang diadaptasi dari buku karya Reda Gaudiamo ini mengambil latar Surabaya tahun 70-an, tumbuh di sebuah gang kecil menghabiskan hari-hari dengan bermain dan berpetualang. Bersama Dul, Ida dan Bud.
Di tengah keseharian itu, ada satu kalimat sederhana yang diucapkan Willa, “Aku mau besok, besok, besoknya lagi begini terus…” sebuah keinginan polos yang mungkin juga pernah kita rasakan. Keinginan untuk tetap berada di masa dimana semuanya terasa ringan, tanpa batas, dan tanpa beban.
Baca Juga: Parewa, Deru Nafas Perburuan dalam Pergerakan
Di ruang kecil itulah, kehidupan berjalan apa adanya. Tawa, tangis, rasa ingin tahu, dan pertemanan hadir tanpa banyak sekat. Namun di balik kesederhanaan itu, perlahan muncul hal-hal yang mulai membentuk cara pandang mereka, tentang siapa diri mereka, tentang orang lain, dan tentang perbedaan yang sebelumnya tidak pernah benar-benar dipikirkan. Tapi siapa sangka, cara melihat tak selalu datang dengan sendirinya. Ada hal-hal yang tanpa sadar mulai masuk, dari apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan setiap hari. Sampai akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya, tentang siapa yang “sama” dan siapa yang “berbeda”. Dan dari keresahan itulah, cerita ini berangkat.
Reda Gaudiamo sang penulis buku Na Willa lewat wawancaranya di Visinema menceritakan saat pertanyaan sederhana itu datang. Saat berusia sekitar 4 atau 5 tahun dan mulai berinteraksi dengan teman-temannya, tiba-tiba dirinya pulang dengan pertanyaan tentang agama. “Apakah dia beragama ini dan bukan beragama itu. Jadi itu mengejutkan buat saya dan itu menggelisahkan. Kenapa anak-anak tiba-tiba dibebani oleh isu perbedaan, kenapa anak-anak tiba-tiba harus berteman dengan mereka yang segolongan saja atau satu ras saja?” ujar Reda. (Dikutip dari Visinema)
Respon Mak
Hal serupa tergambar dalam salah satu adegan di film. Ketika Farida mengajak Willa ikut mengaji, dengan takut-takut willa meminta izin untuk ikut Farida. Mak tidak langsung melarang. Ia mengizinkan Willa ikut, meski hanya melihat dari belakang. Awalnya Willa hanya memperhatikan, tetapi rasa penasarannya membuatnya ingin mencoba. Ia mengambil sprei yang baru dijemur dan memakainya seperti mukena.
Yang menarik, Mak tidak marah. Ia tidak serta-merta melarang, tetapi tetap memberi batas dengan meminta Willa mencuci kembali sprei yang sudah kotor.
Baca Juga: Seiris Senyum Anak-Anak Ahmadi
Dari momen sederhana itu, mereka hanya melihat dan mencoba, tanpa memberi label apa pun. Tidak ada yang “berbeda”, tidak ada yang harus dijauhkan. Mungkin justru kita yang perlahan mengenalkan itu. Lewat apa yang kita ucapkan, atau bahkan dari hal-hal kecil yang mereka lihat setiap hari.
Di usia yang masih sangat dini, mereka sudah bersentuhan dengan konsep perbedaan yang seharusnya belum perlu mereka pikul. Apa yang tampak sebagai pertanyaan sederhana sebenarnya menunjukkan bahwa anak-anak mulai menangkap realitas sosial di sekitarnya. Bermain yang semestinya bebas, perlahan diiringi dengan pertimbangan-pertimbangan yang tidak sederhana. Dari sanalah terlihat bahwa anak-anak seusia itu sudah mulai bersentuhan dengan isu keberagaman, bahkan sebelum mereka benar-benar memahami maknanya. Hal yang seharusnya sederhana seperti bermain tak lagi sepenuhnya bebas, karena mulai muncul batas-batas yang sebelumnya tidak ada. Perbedaan yang semestinya hadir sebagai sesuatu yang wajar, perlahan berubah menjadi pertimbangan dalam berinteraksi. Dan di titik ini, keberagaman tidak lagi sekadar dikenali, tetapi mulai dirasakan sebagai sesuatu yang membatasi.
Dalam kajian psikologi perkembangan, anak-anak belajar memahami dunia melalui proses meniru dan mengamati lingkungan. Cara orang dewasa bersikap, berbicara, dan merespons sesuatu menjadi acuan bagi mereka dalam membentuk cara pandang, termasuk terhadap perbedaan.
Karena itulah, mengenalkan keberagaman seharusnya tak membuat anak merasa harus memilih atau menjauh. Perbedaan justru bisa dipahami sebagai sesuatu yang wajar dan dihargai. Ada yang disebut toleransi, di mana setiap orang tetap bisa hidup berdampingan tanpa harus menjadi sama.
Pada akhirnya, anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Dari situlah mereka memahami bahwa keberagaman bukanlah batas, melainkan bagian dari kehidupan yang bisa dijalani bersama.
Penulis: WA