mimbaruntan.com, Untan – Murah, mudah dibeli, dan selalu mengikuti tren. Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan industri fesyen modern, terdapat persoalan lingkungan yang kerap luput dari perhatian publik. Mulai dari limbah tekstil yang terus menumpuk hingga ancaman mikroplastik yang mencemari lingkungan dan berpotensi berdampak pada kesehatan manusia.
Persoalan tersebut menjadi fokus dalam kegiatan nonton bareng dan diskusi film dokumenter Menolak Punah: Saat Semua Semakin Mudah dan Murah yang digelar di Simula Space Cafe, Sabtu (13/6). Kegiatan ini diselenggarakan melalui kolaborasi Suara Naraya, Siklus Bijak, Yayasan Konservasi Laut Khatulistiwa, Dompet Ummat, dan IYALE Kalimantan Barat sebagai upaya membuka ruang diskusi publik mengenai dampak konsumsi tekstil terhadap lingkungan.
Film Menolak Punah merupakan dokumenter karya sutradara Dandhy Laksono dan Aji Yahuti yang diproduksi melalui kolaborasi Ekspedisi Indonesia Baru, The Body Shop Indonesia, Sunspirit, dan Sejauh Mata Memandang. Dokumenter berdurasi lebih dari satu jam tersebut berangkat dari fenomena meningkatnya budaya fast fashion, yakni produksi dan konsumsi pakaian secara massal dengan harga murah yang mendorong masyarakat membeli lebih banyak pakaian dalam waktu singkat.
Baca Juga: Review Film Beautiful Boy: Orang Yang Sama Tetapi Terasa Berbeda
Melalui kisah komunitas pengelola pakaian bekas hingga penelusuran kondisi industri sandang nasional, film ini mengangkat berbagai persoalan yang muncul dibalik industri busana, mulai dari pencemaran lingkungan, mikroplastik dari bahan sintetis, ketergantungan Indonesia terhadap impor kapas, hingga ancaman terhadap praktik produksi dan penggunaan pakaian yang lebih berkelanjutan.
Dedi, perwakilan teman Kebaikan Dompet Umat yang menjadi pemantik diskusi, mengatakan pemutaran film ini bertujuan menghadirkan perspektif baru mengenai persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, film Menolak Punah mengangkat persoalan tingginya konsumsi pakaian di masyarakat yang kemudian menghasilkan limbah tekstil serta berbagai dampak yang menyertainya.
“Kami mendapat informasi dari komunitas juga untuk menonton salah satu video yang kami anggap bisa menginspirasi atau membuat wawasan baru terkait limbah tekstil,” ujarnya.
Menurut Dedi, salah satu temuan yang disorot dalam film adalah tingginya konsumsi pakaian di masyarakat yang menghasilkan limbah tekstil dalam jumlah besar. Selain itu, film juga menunjukkan bagaimana penggunaan bahan polyester dapat menghasilkan mikroplastik yang kemudian mencemari lingkungan. Ia menambahkan bahwa film tersebut turut menyoroti kondisi Indonesia yang masih bergantung pada impor kapas untuk memenuhi kebutuhan industri tekstil nasional.
“Di video sendiri juga menerangkan bahwasannya di Indonesia itu kurang lebih 99,6 persen kita impor kapas,” katanya.
Sementara itu, salah satu penyelenggara kegiatan, Usep Gunawan, menilai film Menolak Punah memiliki keterkaitan yang kuat dengan kondisi masyarakat Pontianak. Menurutnya, tingginya aktivitas belanja daring dan perkembangan tren fesyen membuat isu yang diangkat film tersebut semakin relevan untuk dibicarakan.
“Tujuannya supaya teman-teman, khususnya pemuda di Kota Pontianak, informasi terkait film ini tersampaikan dan pesan film ini tersampaikan,” ujarnya.
Usep mengatakan persoalan limbah tekstil perlu mendapat perhatian lebih karena hingga saat ini Pontianak belum memiliki fasilitas yang memadai untuk mengelola limbah tersebut.
“Pertumbuhan fashion di Pontianak juga cukup tinggi, kemudian belanja online cukup tinggi. Dan yang paling penting itu sebenarnya di Kota Pontianak belum ada tempat yang proper untuk mengolah limbah tekstil ini,” jelasnya.
Menurutnya, jika persoalan tersebut tidak mulai dipikirkan sejak sekarang, dampak negatifnya berpotensi dirasakan masyarakat di masa mendatang. Karena itu, ia berharap pemutaran film serupa dapat dilakukan di berbagai ruang publik lain, termasuk kampus dan instansi pemerintah.
Selain memperluas edukasi, Usep Gunawan juga berharap masyarakat mulai mempertimbangkan kembali pola konsumsi mereka dan tidak hanya mengikuti tren fesyen yang terus berubah.
“Bukan hanya mengikuti tren untuk fast fashion, tapi coba kita kembali lagi ke slow fashion,” katanya.
Pesan tersebut turut dirasakan oleh Rola, salah seorang peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia mengaku mendapatkan pemahaman baru setelah menonton film Menolak Punah. Sebelumnya, ia menganggap persoalan sampah hanya berkaitan dengan plastik sekali pakai atau limbah rumah tangga.
“Setelah menonton film ini saya sadar bahwa pakaian yang kita gunakan sehari-hari juga bisa menjadi sumber masalah bagi lingkungan dan bahkan kesehatan,” tuturnya.
Baca Juga: Gugatan Kemarahan Mahasiswa, Soroti Kebijakan yang Merugikan
Menurut Rola, film tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan membeli pakaian karena tren atau sekadar tergiur harga murah dapat menghasilkan dampak yang tidak selalu terlihat secara langsung. Ia menilai film ini bukan hanya berbicara mengenai lingkungan, tetapi juga tentang tanggung jawab masyarakat sebagai konsumen.
“Film ini bukan hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana mengubah pola pikir dan tanggung jawab kita sebagai konsumen,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak anak muda yang memahami bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan sampah yang tampak di sekitar mereka, tetapi juga berkaitan dengan pola konsumsi sehari-hari, termasuk dalam memilih dan menggunakan pakaian.
Bagi Rola, perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Menggunakan pakaian lebih lama, mengurangi pembelian yang tidak diperlukan, dan lebih bijak dalam berbelanja merupakan bentuk kontribusi sederhana yang dapat dilakukan setiap orang untuk mengurangi dampak lingkungan di masa depan.
Penulis: Ara
Editor: Mia