Tidak semua suara terdengar sama kerasnya. Di tengah berbagai keputusan yang dibuat orang dewasa, suara anak kerap menjadi pelengkap, bukan pertimbangan. Padahal, mereka memiliki pendapat, kegelisahan, dan harapan yang layak didengar. Karena itu, Forum Anak Kota Pontianak menghadirkan Festival Hari Anak Nasional 2026 bertema “Sayangi Anak, Lindungi Anak, Bangun Masa Depan” sebagai ruang bagi anak untuk berekspresi, berpartisipasi, dan menyampaikan pendapatnya.
Koordinator kegiatan sekaligus Fasilitator Forum Anak Kota Pontianak, Manda, menjelaskan bahwa peringatan Hari Anak Nasional tahun ini tidak hanya berfokus pada kegiatan seremonial. Berbagai aktivitas disusun untuk memberikan ruang bagi anak mengenali lingkungan, mengekspresikan diri, hingga menyampaikan gagasan mereka.
“Tema tahun ini adalah ‘Sayangi Anak, Lindungi Anak, Bangun Masa Depan’. Jadi harapannya bagaimana anak-anak itu merasa nyaman, disayang. Makanya, dengan tema sayangi anak, kita mencoba mengampanyekannya untuk gerakan sayang anak dan melindungi anak, karena itu juga jadi modal kita untuk masa depan,” ujarnya.
Sebelum festival berlangsung, Forum Anak telah mengadakan kegiatan menonton bersama dan diskusi mengenai pelestarian lingkungan yang mengangkat kearifan lokal Kalimantan Barat. Rangkaian berikutnya menghadirkan kegiatan melukis bersama di kawasan Car Free Day yang diikuti sekitar seratus anak. Lukisan sepanjang tiga meter yang dihasilkan nantinya akan ditandatangani oleh Wali Kota Pontianak sebagai simbol karya anak-anak Kota Pontianak.
Sementara pada festival hari ini, anak-anak disuguhkan berbagai perlombaan, mulai dari flashmob, mewarnai, permainan tradisional, lomba vlog edukasi, hingga lomba Bercerita Lewat Foto. Berbagai stan pelayanan, bazar UMKM, rumah kreatif, serta ruang belajar bahasa isyarat bersama komunitas Teman Tuli juga dihadirkan agar anak dapat memperoleh pengalaman yang beragam dalam satu ruang yang sama.
Baca Juga: Sejak kapan anak kecil mulai memikirkan soal perbedaan?
Meski menghadirkan banyak kegiatan, tujuan utama yang ingin dicapai bukanlah menghibur anak-anak. Menurut Manda, seluruh rangkaian tersebut merupakan upaya memberikan ruang bagi anak untuk bebas berekspresi tanpa dibatasi kemampuan ataupun latar belakang mereka.
“Kami tidak membatasi apakah anak itu memang jago dalam seni lukis ataupun tidak. Itu bagian dari kebebasan. Salah satu hak yang kami perjuangkan juga adalah hak sipil dan kebebasan bagi anak,” jelasnya.
Baginya, anak perlu memiliki ruang untuk menunjukkan minat dan bakatnya sekaligus belajar menyampaikan pendapat. Melalui aktivitas yang menyenangkan, Forum Anak berusaha memperlihatkan bahwa partisipasi anak dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari berkarya, bermain, hingga berdiskusi.
Semangat tersebut juga terlihat di salah satu stan bertajuk Anak Hebat, Bercerita Lewat Foto. Berbeda dengan lomba fotografi pada umumnya, kegiatan ini tidak hanya menilai kualitas gambar, tetapi juga cerita yang disampaikan peserta melalui foto yang mereka ambil.
Panitia sekaligus penjaga booth, Dzaki, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari penelitian yang berupaya mengangkat perspektif anak mengenai mitigasi bencana.
“Sering kali suara anak itu tidak dianggap sebagai suara yang aktif. Kali ini kami mengambil kesempatan bahwa anak-anak punya suara yang bisa dianggap kuat,” katanya.
Sebelum karya dipamerkan, para peserta dari jenjang SMA sederajat terlebih dahulu melakukan observasi di lapangan. Mereka memotret objek yang menurut mereka berkaitan dengan bencana, kemudian menyusun narasi berdasarkan hasil pengamatan tersebut. Selanjutnya, karya itu dipresentasikan di hadapan dewan juri yang terdiri dari tim peneliti dan akademisi.
Melalui proses tersebut, anak-anak diajak memahami mitigasi bencana sekaligus menyampaikan cara pandang mereka terhadap persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar. Bagi Dzaki, pengalaman seperti ini penting karena memberi kesempatan kepada anak untuk berbicara menggunakan perspektif mereka sendiri.
“Harapan saya, anak-anak dapat menjadi peran aktif, bukan lagi sebagai orang yang tidak dianggap suaranya. Setelah ini mereka bisa menyampaikan aspirasi mereka terhadap bencana,” ujarnya.
Dibalik berbagai kegiatan yang telah diselenggarakan, Forum Anak Kota Pontianak mengakui masih terdapat tantangan besar dalam memperjuangkan hak anak. Manda menilai masih banyak pihak yang belum memahami pentingnya perlindungan anak, hak partisipasi, maupun ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat.
“Tantangan terbesar adalah bagaimana memunculkan kesadaran kepada seluruh pihak tentang pentingnya hak anak, suara anak, perlindungan, dan partisipasi anak,” katanya.
Kesadaran tersebut, menurutnya, harus terus dibangun dan dijaga agar tidak berhenti sebagai slogan semata. Sebab, ketika anak benar-benar diberi ruang untuk tumbuh, berekspresi, dan didengar, mereka tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga bagian dari proses membangun lingkungan yang lebih ramah bagi anak.
Harapan itu pula yang ingin terus dibawa Forum Anak Kota Pontianak setelah Festival Hari Anak Nasional usai. Tidak berhenti pada satu perayaan setiap tahun, tetapi menghadirkan lebih banyak ruang yang aman, inklusif, dan terbuka bagi anak untuk berpartisipasi. Sebab, masa depan yang ramah anak tidak hanya dibangun dengan melindungi mereka, melainkan juga dengan mendengarkan apa yang ingin mereka sampaikan.
Penulis: Ara
Editor: Aga