mimbaruntan.com, Untan – Isu lingkungan tidak lagi dapat dipisahkan dari kehidupan beragama. Di tengah meningkatnya ancaman banjir, kebakaran hutan dan lahan, serta kerusakan ekosistem di Kalimantan Barat, Temu Pemuda Lintas Iman Kalimantan Barat (Tepelima) VII meluncurkan E-Book Refleksi Ekoteologi sebagai ruang dialog yang mempertemukan perspektif lintas agama, komunitas lingkungan, dan kelompok disabilitas dalam memaknai relasi manusia dengan alam.
Selama ini, pembahasan mengenai lingkungan lebih banyak hadir dalam ruang akademik maupun gerakan aktivisme. Sementara itu, ruang-ruang keagamaan masih relatif jarang mengaitkan ajaran agama dengan persoalan krisis iklim dan kerusakan lingkungan. Celah inilah yang ingin dijembatani melalui peluncuran E-Book Refleksi Ekoteologi, sebuah kumpulan tulisan yang menghimpun refleksi berbagai komunitas lintas iman mengenai hubungan manusia dengan alam.
Urgensi pembahasan tersebut semakin terasa jika melihat kondisi Kalimantan Barat. Provinsi ini masih menghadapi banjir di berbagai daerah, sementara kebakaran hutan dan lahan terus menjadi ancaman setiap musim kemarau. Data WALHI Regional Kalimantan menunjukkan sekitar 33,59 persen bentang ekologis Pulau Kalimantan mengalami kerusakan sepanjang 2015–2025, dengan kehilangan rata-rata 412.790 hektare hutan tropis setiap tahun akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, dan perubahan fungsi lahan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa krisis lingkungan bukan lagi persoalan alam semata, melainkan erat kaitannya dengan aktivitas manusia.
Pandangan tersebut juga disampaikan Ilham selaku Ketua Panitia Tepelima VII, menurutnya persoalan lingkungan merupakan isu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Kalimantan Barat karena dampaknya telah dirasakan secara langsung.
“Ekologi itu sangat relevan karena teman-teman di Pontianak yang baru saja mengalami banjir di beberapa titik. Masyarakat juga sudah familiar dengan istilah tiga musim di Pontianak, yaitu musim hujan, musim kemarau, dan musim jerebu. Bahkan, sekarang kita menghadapi karhutla beberapa bulan sekali, bukan lagi sekali setiap tahun,” ujar Ilham.
Persoalan tersebut juga menjadi alasan mengapa Tepelima VII mengangkat ekoteologi sebagai tema utama. Ilham turut menjelaskan bahwa buku ini berisi kumpulan refleksi dari berbagai komunitas mengenai bagaimana agama memandang hubungan manusia dengan lingkungan.
“E-book ini memuat refleksi dari berbagai komunitas mengenai ekoteologi berdasarkan keyakinan dan pengalaman mereka masing-masing. Kami melibatkan komunitas seperti MAPALA, Kepercayaan Baha’i, JAI, Katolik, dan beberapa komunitas lainnya. Sebenarnya kami juga sudah mencoba mengajak teman-teman Konghucu berpartisipasi, tetapi hingga proses penyusunan selesai kami belum menerima tulisan dari mereka,” tambah Ilham.
Keberagaman perspektif tersebut menjadi salah satu kekuatan utama dari e-book ini. Ilham mengungkapkan bawah setiap bab menawarkan sudut pandang yang berbeda mengenai relasi manusia, agama, dan lingkungan sehingga pembaca dapat memilih pembahasan yang paling menarik bagi mereka.
“Semuanya menarik untuk dibaca. Namun, kalau ingin memulai, saya menyarankan dari perspektif Baha’i karena mungkin masih banyak yang belum mengenal agama tersebut. Lewat buku ini, pembaca bisa melihat bagaimana setiap agama memiliki cara pandang terhadap tanggung jawab menjaga lingkungan,” ungkap Ilham.
Menurut Ilham dan teman teman panitia lainnya, lahirnya e-book ini berangkat dari keresahan panitia yang melihat masih adanya jarak antara gerakan pelestarian lingkungan dengan forum-forum keagamaan. Dirinya menilai isu lingkungan belum banyak dibahas dalam kegiatan ceramah maupun kegiatan keagamaan, di sisi lain komunitas lingkungan juga masih jarang melibatkan tokoh atau organisasi keagamaan dalam gerakannya. Ilham berharap hadirnya e-book tersebut dapat menjadi ruang temu antara komunitas keagamaan dan pegiat lingkungan agar kesadaran menjaga alam tumbuh dari berbagai lapisan masyarakat.
Baca Juga: Pesta Babi dan Perjuangan Agraria: Refleksi Kolonialisme yang Berulang di Tanah Adat
“Kami melihat ada kesenjangan antara isu lingkungan dan forum keagamaan. Padahal, kedua isu ini sangat berkaitan dan seharusnya bisa berjalan beriringan, semoga tulisan ini dapat membuka pola kesadaran masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat. Kita diajak untuk berpikir lebih lanjut dalam terkait solusi dari krisis isu lingkungan yang merajalela,” ujar Ilham.
Pandangan tersebut sejalan dengan laporan United Nations Environment Programme (UNEP) melalui program Faith for Earth yang menyebut komunitas keagamaan memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku masyarakat terhadap lingkungan. Dengan lebih dari 80 persen penduduk dunia menganut agama, nilai-nilai spiritual dinilai mampu menjadi kekuatan sosial dalam mendorong gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Selain mengangkat isu lingkungan, Tepelima VII juga menaruh perhatian pada aspek inklusivitas. E-book diterbitkan dalam format digital yang dilengkapi alt text, deskripsi gambar, dan dapat diakses menggunakan screen reader sehingga ramah bagi penyandang disabilitas netra. Menurut panitia, pemilihan format digital juga mempertimbangkan penyebaran yang lebih luas sekaligus mengurangi penggunaan kertas.
“Kami mengusahakan supaya teman-teman netra bisa membaca e-book ini menggunakan screen reader. Bahkan gambar-gambarnya juga sudah diberi alt text dan deskripsi,” tambah Ilham.
Gagasan tersebut turut dirasakan oleh salah satu peserta peluncuran, Carla Angelica. Ia mengaku awalnya hanya memenuhi ajakan temannya untuk datang ke acara tersebut, namun setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan terutama pada penampilan teater dari teman-teman tuli, pandangannya mengenai hubungan antara manusia, iman, dan lingkungan berubah.
“Saya baru sadar, ternyata kalau terjadi banjir atau kerusakan lingkungan, dampaknya tidak cuma ke kita saja. Teman-teman disabilitas justru punya risiko yang lebih besar karena aksesibilitas kita masih sangat kurang,” ungkap Carla.
Menurut Carla, pendekatan keagamaan menjadi cara yang efektif untuk membangun kesadaran masyarakat Indonesia yang religius terhadap persoalan lingkungan.
“Kalau bisa disangkutkan dengan kerohanian mereka, manusia-manusia religius yang awalnya tidak terlalu peduli bisa lebih sadar untuk menjaga alam. Menurut aku, buku ini bisa jadi awalan bagi kita buat mulai menjaga lingkungan,” katanya.
Penyusunan e-book berlangsung selama beberapa bulan melalui tahapan penulisan refleksi, penyuntingan substansi, penyuntingan editorial, hingga tata letak. Meski menghadapi tantangan koordinasi antar penulis yang berasal dari berbagai komunitas, proses kolaboratif tersebut justru memperkaya isi buku karena menghadirkan beragam pengalaman mengenai hubungan manusia, agama, dan lingkungan. Menutup kegiatan peluncuran e-book, panitia berharap e-book tersebut tidak hanya berhenti sebagai dokumentasi hasil kegiatan, tetapi benar-benar menjadi bahan diskusi di berbagai komunitas.
Penulis: Delta dan Wahyu
Editor: Mia