mimbaruntan.com, Untan – Dua puluh enam tahun setelah tewas dalam aksi demonstrasi di Pontianak pada 14 Juni 2000, kasus kematian mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak, Syafaruddin Usman, masih belum menemukan keadilan. Meski penyelidikan dihentikan karena dianggap telah kadaluwarsa, namanya terus dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap impunitas, termasuk dalam Aksi Kamisan Pontianak ke-75 bertema Belajar Sejajar yang digelar di Taman Beriman, Politeknik Negeri Pontianak (Polnep), Kamis (25/6).
Markus, Menteri Sosial dan Politik Badan Eksekutif Mahasiswa Polnep, mengungkapkan bahwa tujuan mereka kali ini bukan lagi menuntut penyelesaian kasus kematian Syafaruddin. Menurutnya, fokus aksi adalah terus menggaungkan sosok Syafaruddin kepada masyarakat agar kisahnya tidak dilupakan. Ia juga menekankan harapannya agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
“Kami tidak mau ada korban-korban lagi saat aksi, dan goals yang ingin kami capai saat ini bukanlah penyelesaian kasus, tapi untuk terus menggaungkan siapa Syafaruddin, pengen semua orang khususnya mahasiswa pontianak tahu bahwa ada mahasiswa yang pernah mati di tangan negara,” ungkap Markus.
Baca Juga: September Hitam: 20 Tahun Mengenang Kematian Munir
Kematian Syafaruddin Usman masih dikenang oleh para aktivis dan mahasiswa sebagai penembakan oleh aparat bersenjata saat aksi demonstrasi berlangsung. Bukti dan arsip peristiwa tersebut sangat terbatas karena pada masa itu sebagian besar pemberitaan masih mengandalkan media cetak. Akibatnya, banyak kisah tentang kejadian tersebut bertahan melalui kesaksian lisan dari rekan-rekan seperjuangan Syafaruddin.
Rudi Agus Haryanto, jurnalis lapangan yang meliput peristiwa 14 Juni 2000, membagikan kesaksiannya. Ia mengaku mengikuti proses evakuasi jenazah Syafaruddin hingga dibawa untuk diautopsi di Rumah Sakit Soedarso. Berdasarkan keterangan pihak rumah sakit saat itu, tidak ditemukan tanda-tanda luka tembak pada tubuh Syafaruddin.
“Saya dan teman-teman menjadi jurnalis lapangan pada saat itu, kami ikut hingga ke rumah sakit untuk melihat hasil autopsinya. Saya berkeyakinan pribadi, ini bisa menjadi debat, tidak ada luka tembak yang disampaikan pihak rumah sakit,” cerita Rudi.
Salah seorang peserta diskusi, Riko (nama samaran), menilai bahwa kasus Syafaruddin Usman beserta gerakan yang lahir setelah kematiannya perlu menjadi bahan refleksi bagi pergerakan mahasiswa di kampus. Menurutnya, perdebatan mengenai penyebab kematian dan penuntasan kasus memang penting, tetapi gerakan mahasiswa saat ini juga harus berfokus pada upaya memperkenalkan sosok Syafaruddin agar perjuangannya tidak dilupakan.
“Gerakan yang muncul karena kematian Syafaruddin di kampus ini haruslah menjadi sebuah catatan refleksi, yang sebenarnya adalah bukan bagaimana penuntasan kasus, tapi bagaimana cara orang memandang sosok Syafaruddin ini,” ujarnya.
Pada akhirnya, peringatan 26 tahun kematian Syafaruddin Usman yang dibawa Aksi Kamisan bukan sekedar rutinitas tragedi masa lalu, namun sebagai pengingat abadi bagi gerakan untuk merawat api perlawanan. Semangat perjuangan dan perlawanan diharapkan tetap panjang umur, Syafaruddin menjadi simbol keberanian dan pengingat krusian agar tragedi serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Penulis: Mia Editor: Aga