mimbaruntan.com, Untan – Panas terik menemani peliputan reporter mimbaruntan bersama gerombolan Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) menyusuri kota Ale-Ale dari Yayasan IAR Indonesia (YIARI) kecamatan Muara Pawan menuju Desa Sungai Besar Kabupaten Ketapang menjumpai sekelompok ibu-ibu yang kerap dikenal sebagai The Power Of emak-emak. Namun sebelum pembentukan kelompok The Power Of emak-emak mereka bersatu bersama tim YIARI membentuk kelompok penanam mangrove.
Penanaman mangrove merupakan suatu pergerakan penjagaan pesisir pantai Ketapang. Penghijauan hutan yang gundul serta akar tunjangnya dapat memecah gelombang laut yang tinggi. Deri Rahman Selaku staff lapangan YIARI menjelaskan latar belakang pembentukan kelompok mangrove adalah merangkul dan memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian pesisir.
“Pembentukan kelompok agar masyarakat dapat bekerjasama, dan saling memotivasi baik dalam pelaksanaan maupun dalam penyadartahuan mengenai menanam mangrove,” ungkap Deri
Deri menekankan bahwa keterlibatan masyarakat di sini merata tak hanya perempuan saja namun semuanya harus turun langsung untuk berkontribusi dalam penanaman mangrove.
“Sebenarnya tidak hanya ibu-ibu, anggota nya juga ada bapak-bapak, bahkan pemuda. Namun tentu kami juga sudah merencanakan memang keterlibatan laki-laki dan perempuan harus merata,” tuturnya.
Baca Juga: Menumbuhkan Semangat Sumpah Pemuda Lewat Penanaman Mangrove
Ia juga menceritakan bila pohon mangrove di desa Sungai Besar tidak berbuah mereka harus mencari bibit di sekitar pesisir maupun desa terdekat dengan jarak yang cukup lumayan panjang untuk ditempuh.
“Bibit itu hasil mencari di alam di lokasi terdekat, bahkan di beberapa desa sekitar. Kalau pohon mangrove di desa sungai besar tidak berbuah, tentu kelompok akan mencari ke desa-desa sekitar, bahkan ada yg jaraknya 20 km menggunakan motor,” sambung Deri.
Tak lupa ia memaparkan rute lokasi tanam dan jalan yang dilalui saat penanaman bibit mangrove, betapa kondisi jembatan yang harus mereka lalui dengan tanah berlumpur hingga jembatan rusak.
“Ada beberapa lokasi tanam, jadi rutenya menyesuaikan dengan lokasi tanam tersebut . Rutenya tidak panjang paling panjang 400 meter, namun kondisi jalannya yang tidak baik, karena tanahnya berlumpur. Ada yang sudah rabat beton tapi cuma setengah rute saja. Jembatan juga rusak di beberapa rute atau bahkan tidak bisa digunakan. Sebab jembatannya bukan jembatan permanen,“ papar Deri melanjutkan sesi wawancara.
Fungsi fisik kawasan mangrove menurut Arief (2003) Diantaranya:
- menjaga garis pantai agar tetap stabil;
- melindungi pantai dan tebing sungai dari proses erosi, abrasi, tiupan angin kencang dari laut ke darat;
- menahan sedimen secara periodik;
- sebagai kawasan penyangga proses intrusi dan rembesan air laut ke darat, atau sebagai filter air asin menjadi tawar.
Melihat pentingnya fungsi hadirnya mangrove di pesisir, masyarakat tetap melalui medan yang cukup sulit hingga menghantarkan mereka pada kendala-kendala penanaman lainnya. Hama di pesisir pantai Ketapang serta pasang surut air laut turut menjadi faktor penyumbang kegagalan bibit mangrove untuk tumbuh.
Meski melewati kendala pencarian bibit hingga proses penanaman, YIARI bersama kelompok penanam mangrove tetap mengusahakan yang terbaik untuk alam pesisir Ketapang, mulai dari penggunaan ecopolybag ramah lingkungan dari anyaman nipah atau pandan.
Ecopolybag digunakan untuk mengurangi penggunaan sampah di lokasi penanaman mangrove yakni pesisir pantai, ecopolybag akan turut ditanam kemudian dibiarkan hancur sebagai pupuk untuk tanaman mangrove. Ecopolybag kerap digunakan kalangan aktivis lingkungan yang juga memanfaatkan budaya leluhur yang turun temurun dalam penganyaman bakul serta memberikan tunjangan finansial berupa biaya operasional kepada kelompok penanam.
“Untuk sistem pembayaran ecopolybag dan penanaman mangrove itu tentu dari YIARI yg merupakan hasil Donasi yg sudah dikumpulkan untuk program mangrove. Di program YIARI penggunaan ecopolybag merupakan langkah atau bentuk upaya mengurangi sampah plastik yang disebabkan polybags konvensional,” sambung Deri memaparkan.
Iin Ratnawati (46) salah satu yang tergabung dalam kelompok mangrove menjelaskan bagaimana kekhawatirannya dalam persoalan alam pesisir Ketapang dengan gelombang pasang yang naik ke jalan pada tahun 2018 menjadi latar belakang dan alasannya bergabung, agar anak cucunya tidak merasakan hal serupa.
“Ngeliat air yang sudah pasang sampai ke jalan, nanti kalau jaman-jaman anak cucu, mudah-mudahan nda sampai agik ke jalan gelombangnye, kalau air pasang kan nyampai ke jalan raya. Air pasang naik kalau gelombang udah tinggi jadi kalau ada mangrove mudah-mudahan gelombang bisa dipecah di laut jadi nda sampai ke daratan,” jelas Iin.
Dengan tiga puluh ribu mangrove yang sudah ditanam Iin menjelaskan hutan yang dulu gundul tampak mulai menghijau, akar tunjang yang ada pada tanaman tersebut mengurangi kekhawatiran agar dapat memecah ombak hingga tidak menuju jalan raya saat gelombang tinggi datang.
“Tapi dalam dua tahun ini gelombang ga sampai ke sini, kan sudah ada yang berakar tunjang juga, sudah mulai hijau laut kita. Lautkan dulunya agak gundul nda ada mangrove, nda ada apa udah abis mati yang besarkan mati jadi kami perbaharui lagi hijau lagi, sekarang sudah mulai ada akar tunjang. mudah-mudahan ke depannya insyaAllah ga ada lagi gelombang besar,” sambung Iin.
Baca Juga: Mangrove: Senjata Bumi Melawan Krisis Iklim
Tak hanya Deri, Iin juga memaparkan kendala dalam proses penanaman mangrove dari rute perjalanan, air pasang yang membuat kesulitan untuk menanam. Namun jembatan kayu tersebut kini sudah diperbaiki oleh masyarakat yang bergotong royong.
“Biasanya kalau air pasang tinggi ga bisa menanam, kalau air pasang tinggi jembatannya hanyut ga bisa lewat, jembatan kayu yang sulit dilewati, tapi sekarang masyarakat sudah berbaur digotong royongkan sudah ada jalannya sekarang sampai ke pantai udah bisa. Jalannya udah lumayan bagus, kalau misalnya banjir kami tunggu surut dulu baru menanam,” jelasnya.
Ecopolybag yang diusung YIARI dalam penanaman mangrove juga turut digunakan sebagai pupuk yang ramah lingkungan dan meminimalisir sampah untuk lingkungan, jadi untuk setiap bibit baru maka diperlukan Ecopolybag baru.
“Ramah lingkungan dan tidak mengandung sampah jadi dia langsung ikut musnah saat dikubur ke dalam tanah sekaligus menjadi pupuk karena setiap bibit baru akan menggunakan ecopolybag baru,” sambung Iin.
Ecopolybag yang digunakan juga membantu perekonomiannya. Hasil dari biaya operasional oleh YIARI untuk pembuatan Ecopolybag dan pembibitan juga membantu anaknya membayar uang semester. Penanaman berlangsung dari pukul sepuluh pagi hingga sore itu cukup membantunya.
“Untuk penanaman pagi jam 10 udah selesai kalau sore dari setengah satu sampai jam empat sudah selesai kalau masih ada lanjut besok lagi. Membantu anak saya bayar semester, sebab dalam satu tanam itu dihitung seribu dengan mengangkut tanah di dekat laut yang masih ada kandungan air asinnya, waktu bikin ecopolybag dapat uang dua ribu,” jelas Iin.
Selain ramah lingkungan penerapan ecopolybag nipah serta penanaman mangrove membantu melestarikan lingkungan di pesisir Ketapang
Penulis: Mira Loviana
Editor: Hilda Putri Ghaisani
Referensi:
Arief A. (2003). Hutan mangrove fungsi dan manfaatnya. Yogyakarta: Kanisius