mimbaruntan.com, Untan – Aliansi Kalbar Revolusi kembali menduduki Taman Digulis sebagai bagian dari aksi demonstrasi yang sudah berjalan selama 3 hari sebelumnya, masyarakat sipil bergabung membentuk aksi damai di Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) pada Rabu (28/10). Konsep yang dibawa kali ini merujuk pada okupasi ruang publik, dengan menghadirkan mimbar bebas, lapak baca, termasuk kotak aspirasi untuk menulis dan memasukkan keresahan yang dirasakan masyarakat.
Herman (nama samaran) sebagai hadirin menilai bahwa aksi kali ini berbeda dengan 3 jilid aksi sebelumnya. Menurutnya, konsep okupasi ruang publik bertujuan mengubah stigma bahwa aksi demonstrasi selalu berakhir ricuh dan ia juga menambahkan bahwa pada aksi sebelumnya disusupi oleh provokator.
“Konsep ini menunjukkan bahwa aksi tidak selalu bakar-bakar, lalu berakhir ricuh. Pada aksi sebelumnya terjadi karena ada provokator, hari ini kita melakukan okupasi ruang publik dengan damai,” jelasnya.
Kalbar Revolusi merupakan bentuk aliansi peleburan massa menjadi satu dengan melepas seluruh embel-embel, Herman menyebutkan bahwa hal itu terjadi karena keresahan yang saat ini dirasakan bersifat menyeluruh, bukan hanya milik mahasiswa, pedagang atau pekerja namun milik masyarakat seluruhnya.
“Kita semua melebur jadi satu, karena ini keresahan masyarakat secara keseluruhan. Bukan cuma mahasiswa, pedagang, pekerja tapi milik keresahan kita semua sebagai masyarakat Indonesia dan Kalimantan Barat. Maka pergerakan kita hari ini harus bersedia melepas embel-embel, di sini semuanya sipil,” ungkapnya.
Baca Selengkapnya: Kekecewaan Rakyat Kalbar Ditanggapi dengan Kekerasan oleh Aparat
Disisi lain Herman menepis anggapan terkait aksi damai yang dinilai sia-sia, menurutnya tujuan aksi mungkin belum tercapai dalam waktu dekat. Namun, dirinya yakin bahwa aksi ini akan membuahkan hasil dalam jangka panjang, termasuk menyadarkan publik bahwa permasalahan yang terjadi saat ini membuktikan bahwa negara sedang tidak baik-baik saja.
“Hari ini yang dilakukan teman-teman tidak akan ada yang sia-sia, mungkin tujuan tidak tidak akan tercapai dalam waktu dekat, namun mungkin akan membuahkan hasil dalam jangka panjang. Salah satu tujuan kita menyadarkan publik, bahwa negara ini khususnya daerah kita sedang tidak baik-baik saja,” kata Herman.
Herman mengakui dirinya mengikuti aksi sejak jilid 1 hingga aksi damai pada Rabu (28/10), dirinya menjelaskan bagaimana respon pemerintah daerah selama rangkaian aksi. Tuntutan yang dibawa oleh masyarakat tidak pernah dijawab, bahkan dari jilid 1 hingga jilid 3.
“Pada jilid 1 kami semua turun, tidak ada respon dari pemerintah provinsi untuk menemui massa bahkan justru dibenturkan dengan preman. Hari kedua kami kembali, tak ada hasil konkret justru beberapa massa diamankan oleh polisi. Hari ketiga baik DPRD ataupun gubernur memang hadir, namun kami tetap tak mendapatkan jawaban,” jelasnya.
Meski demikian dirinya tetap berharap agar pemerintah pusat dan daerah sadar diri serta berbenah atas kritik yang telah disampaikan oleh masyarakat, baik melalui aksi, kajian ataupun media sosial. Herman juga berharap masyarakat yang lebih luas dapat melihat bahwa gerakan ini atas nama rakyat dan tidak selalu berakhir dengan kericuhan.
“Harapan kami, pemerintah pusat atau daerah harus sadar diri terhadap kritik yang dilemparkan oleh masyarakat dan hal-hal yang sudah disuarakan,” tutupnya.
Baca Selengkapnya: Demokrasi Tergadai, Oligarki Berdaulat di Tanah Kalimantan Barat
Lidya, massa aksi lainnya menyampaikan masalah yang paling urgensi untuk diangkat saat ini adalah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Permasalahan ini sangat merugikan dan berdampak ke banyak aspek, tetapi pemerintah belum menangani keadaan ini secara maksimal.
“Yang paling urgensi jelas Karhutla, kita tahu sudah banyak sekali korban seperti ISPA dan lainnya. Kekeringan dimana-mana, seharusnya pemerintah menangani dengan benar. Namun, kita tahu pemerintah kurang gercep, padahal bukan baru kali ini saja terjadi Karhutla,” ungkapnya.
Lidya juga mengapresiasi okupasi ruang publik sebagai aksi mimbar bebas, karena terasa lebih aman dan akan menghasilkan respon positif dari masyarakat. Meski begitu, dirinya tetap mengharapkan massa yang lebih banyak.
“Kalau untuk saya sendiri mengapresiasi aksi hari ini, karena tidak ada kekacauan seperti aksi sebelumnya. Kita menyuarakan aspirasi seperti ini akan dilihat positif oleh masyarakat, tapi meski begitu harusnya masyarakat ikut ya supaya lebih ramai dan lebih didengar,” ucap Lidya.
Lidya berharap seluruh aspirasi yang disampaikan baik lewat orasi maupun kotak aspirasi bisa ditanggapi pemerintah dengan serius.
“Harapan saya untuk semua aspirasi yang ada bisa ditanggapi pemerintah dengan benar, ibarat kata sudah ada input maka perlu adanya ouput. Jangan cuma diam, mau sampai kapan kita begini terus?” tutup Lidya.
Aksi damai Kalbar Revolusi berlangsung hingga malam dan ditutup dengan bernyanyi bersama, kemudian massa membubarkan diri dengan memastikan tidak ada sampah yang tertinggal di lokasi.
Penulis: Munawar, Muti
Editor: Katnis