Terkadang pembalut tidak bisa lepas dari identitas perempuan. Meskipun tidak semua perempuan memerlukan pembalut, tapi kehadiran wajib barang ini di daftar belanja bulanan bukanlah sesuatu yang bebas kita pilih. Yes, menstruasi is not a choice. Hal tersebut hanya terjadi begitu saja dan menjadi bagian dari hidup sebagian perempuan. Akan tetapi menstruasi tidak dilihat sebagai bagian dari kehidupan yang perlu diakomodasi, hal itu bukan bagian dari permasalahan politik atau publik.
Menstruasi merupakan keadaan yang disudutkan dari segala penjuru. Bagi masyarakat, hal tersebut adalah sesuatu yang menjijikan, sesuatu yang mengundang kejahatan dan setan, dan sesuatu yang menyatakan bahwa anak Sekolah Dasar sudah siap menikah dan beranak pinak. Dalam diskusi politik, menstruasi jarang dikaitkan dengan hak asasi perempuan, kerap jadi satu dari seribu alasan kenapa perempuan tidak pantas berpolitik atau memegang kendali kepemimpinan, dan luput dari daftar bantuan yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Taboo soal menstruasi ini sangat mendarah daging, dari kondisi hingga produk-produk yang membantu perempuan saat menstruasi. Saya masih kesal karena tidak menemukan roti jepang saat membuka bungkus pembalut, dan saya pun makin kesal karena harus menyembunyikan bungkus pembalut agar tidak menodai mata orang-orang. Bahkan membicarakan menstruasi dan pembalut pun akan dianggap tak beradab, saya tidak suka ketika ibu saya menjulingkan matanya kepada saya saat saya menyebut pembalut di depan bapak dan laki-laki lain. I mean, it’s not like they can see the blood inside my underwear.
Baca Juga: Perempuan dalam Bingkai Akun Kampus Cantik
Rasa malu serta demonisasi yang disematkan pada menstruasi dan pembalut ini menurut saya mempunyai kontribusi yang kuat atas ketidakpedulian negara dan pemikiran bahwa menstruasi adalah permasalahan privat yang tidak perlu diusik sedikit oleh negara. Oleh sebab itu lahir lah masalah lingkungan dan dilema perempuan soal “Cuci atau tidak dicuci?” ketika membicarakan pembalut. Tahun lalu sempat viral adanya komunitas sosial independen yang menemukan pembalut yang tidak dicuci saat membersihkan sungai. Orang-orang ribut soal “Cewek jorok” dan “Fokusnya ada di cewek yang buang pembalut di sungai” tanpa mau melihat kemungkinan lain soal kenapa pembalut tersebut sampai di sungai. Asumsi yang pertama datang adalah soal perempuan yang dengan sengaja membuang pembalut tersebut, tidak tahu malu dan menjijikan.
I mean, yes, ada kemungkinan itu benar. Akan tetapi dengan stigma pada darah menstruasi yang tertanam dalam otak masyarakat, saya pikir kita perlu ruang argumen lain sebelum mengatakan “Permasalahannya ada pada cewek yang buang pembalut sembarangan”. Kita mungkin sudah melakukan berbagai cara terkait “Membuang pembalut dengan benar”, akan tetapi sistem pembuangan sampah di Indonesia tidak menjamin bahwa pembalut tersebut akan berakhir di tempat semestinya. Sama dengan sampah-sampah lain, tidak ada nasib yang jelas terkait pengelolaan mereka.
Pembalut mengandung plastik dan zat yang membutuhkan ratusan tahun untuk terurai dan Indonesia tidak mempunyai kebijakan atau program yang secara spesifik membahas limbah pembalut. Limbah pembalut juga dikategorikan sebagai limbah Bahan Bahaya dan Beracun (B3) karena mengandung bekas cairan tubuh dan zat yang perlu ditangani secara khusus.
Baca Juga: Relevansi Budaya Feminisme dan Pemberdayaan Kaum Perempuan
Terdapat beberapa alternatif yang lebih ramah lingkungan daripada pembalut sekali pakai, misalnya pembalut organik, pembalut kain, menstrual cup, tampon, atau dalam keadaan darurat bisa menggunakan tisu toilet dan kapas. Lalu hal juga membawa kita pada dilema kedua, yaitu period poverty. Period poverty dikaitkan dengan terbatasnya akses terhadap produk sanitasi, fasilitas kebersihan serta edukasi soal menstruasi. Terbatasnya akses ini dapat dilihat dari sisi ekonomi, di mana masih ada sebagian perempuan yang tidak mampu untuk membeli produk alternatif ramah lingkungan tersebut, bahkan ada sebagian yang harus membeli produk pembalut reject atau repackage yang kualitasnya lebih rendah daripada pembalut biasa.
Selain dari sisi ekonomi, period poverty juga dapat dilihat dari merata atau tidaknya akses air bersih. Alternatif seperti pembalut kain atau menstrual cup perlu dicuci untuk dipakai ulang, akan tetapi fasilitas air bersih masih belum merata. Akses terhadap air bersih bukan hanya soal mencuci produk, tapi juga untuk menjaga kebersihan vagina ketika menstruasi. Hal ini membuat saya teringat soal satu kegiatan di tahun 2024, di mana saya jauh dari rumah dan tempat yang tersedia untuk membersihkan diri hanya toilet di sekolah tempat panitia dan peserta menginap. Hari sudah sore, tapi keran mati, yang tersisa di bak hanya air keruh dan tanah.
Menyoal edukasi menstruasi pun saya jarang (bahkan tidak pernah) melihat hal tersebut dilakukan seperti kita sosialisasi perihal anti-bullying atau “Ayo jaga kebersihan”. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah efek dari cap menjijikan dan privasi yang berkepanjangan. Edukasi soal membuang limbah menstruasi pun masih minim karena kebanyakan hanya diajarkan untuk cuci sampai bersih, masukkan ke kantong hitam, dan buang. Atau bakar dan kubur di dalam tanah. Hal-hal tersebut juga sama efeknya dengan tidak tersedianya sistem pengelolaan limbah yang baik.
Dalam dilema ini kita tidak bisa asal tunjuk soal siapa yang paling bertanggung jawab dan bersalah. Tapi peran pemerintah dalam menghapus stigma-stigma aneh terkait menstruasi tentu sangat dibutuhkan. Hal-hal yang kita tolak untuk bicarakan terkait permasalahan menstruasi selain “kondisi jorok dan menjijikan” telah mereduksi masalah struktural menjadi masalah individu dan melahirkan narasi-narasi misoginis.
Selama masyarakat masih berpikir bahwa topik ini tidak etis, maka kita akan terus berdebat soal siapa yang paling sopan dan tahu diri kepada lingkungan, alam, dan sesama manusia ketika bicara soal pengalaman tubuh perempuan.
Penulis: Bunga Aulia (Kontributor)
Referensi:
Ara, A. (2024, Februari 13). Period Poverty: Sediakan Pembalut, Stop Stigma Sebagai Perempuan Kotor karena Menstruasi. Konde.co. Retrieved August 14, 2026, from https://www.konde.co/2024/02/period-poverty-sediakan-pembalut-stop-stigma-sebagai-perempuan-kotor-karena-menstruasi/
Arfiyana, R. (2024, Maret 13). Apa itu Period Poverty dan Period tax. pajak.go.id. Retrieved Agustus 14, 2026, from https://www.pajak.go.id/index.php/id/artikel/apa-itu-period-poverty-dan-period-tax
Budiman, O. (2025, November 21). Ancaman Senyap Sampah Pembalut, Limbah Plastik Tak Kasat Mata. Tirto.id. Retrieved August 14, 2026, from https://tirto.id/ancaman-senyap-sampah-pembalut-limbah-plastik-tak-kasat-mata-hmjG
Daniel. (2024, November 4). Pengelolaan sampah pembalut masih kalang kabut: Celaka bagi lingkungan dan manusia. The Conversation. Retrieved August 14, 2026, from https://theconversation.com/pengelolaan-sampah-pembalut-masih-kalang-kabut-celaka-bagi-lingkungan-dan-manusia-242029