Tumpukan pakaian bekas, televisi tabung, hingga lukisan bergambar dua gunung dan aliran sungai menjadi bagian dari karya yang hadir di Art Borneo 2026. Benda-benda yang dekat dengan kehidupan sehari-hari tersebut tidak sekadar dipajang, tetapi membawa cerita tentang lingkungan, ekonomi, dan ingatan masyarakat.
Art Borneo 2026 berlangsung pada 5-16 September 2026 di Aula Dekranasda, Kalimantan Barat. Memasuki penyelenggaraan kedua, Art Borneo mengangkat tema “Ekologi Sosial, Memori, dan Identitas” melalui “Khalayak: Arketipal Primordial”.
Direktur Artistik Art Borneo, Zakaria, mengatakan pembahasan tahun ini masih berfokus pada ekologi, lokalitas, dan identitas. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui diskusi antara kurator dan para seniman.
“Fokusnya memang bersama kuratornya, Faozi Yunanda. Jadi kita fokusnya memang ngebahas tentang ekologi, lokalitas, dan identitas. Jadi akhirnya keluarlah kuratorialnya yang tadi Khalayak Arketipal Primordial. Nah pada tahun kemarin kita memang berbicara tentang baladingan juga. Jadi memang ketika tema itu keluar, jadi kuratornya berdiskusi dengan beberapa seniman. Akhirnya menjahit pameran ini dengan keluaran Khalayak Arketipal Primordial,” ujar Zakaria.
Baca Juga: Representatif Seniman Perempuan Melalui Pameran Wajah Kartini
Sekitar 32 hingga 35 seniman terlibat dalam Art Borneo tahun ini. Sebagian besar karya yang dihadirkan berupa instalasi. Pameran juga menghadirkan enam seniman dari luar Indonesia, yakni tiga orang dari Malaysia dan tiga orang dari Brunei Darussalam.
Salah satu karya yang mengangkat persoalan yang dekat dengan masyarakat Kalimantan Barat adalah karya Peter Andas Parinata. Ia menggunakan pakaian bekas atau lelong sebagai bagian dari instalasi yang dibuatnya.
“Ya, jadi pada dasarnya saya mau membawa nilai dari lelong (pakaian bekas) ini, dari pakaian bekas itu bukan hanya jadi limbah dari luar negeri, tapi dia ternyata punya nilai yang cukup penting bagi masyarakat yang ada di Pontianak dan mungkin di Kalimantan Barat,” kata Andas.
Bagi Andas, pakaian lelong dapat dilihat dari sisi ekologi, ekonomi, sekaligus estetika. Ia melihat pakaian tersebut sebagai limbah dari luar negeri, tetapi di sisi lain keberadaannya membantu masyarakat memperoleh kebutuhan sandang dengan harga yang lebih murah.
“Ide nya itu saya mencoba mencari apa yang dekat dengan, isu apa yang dekat dengan masyarakat kita, yang menggabungkan antara isu ekologi, ada ekonominya juga, dan ada nilai estetikanya,” jelas Andas.
Instalasi tersebut juga membawa unsur ingatan masa kecil melalui gambaran dua gunung, matahari, dan aliran sungai. Pakaian yang digunakan bahkan berasal langsung dari bal lelong dan merupakan pakaian anak-anak. Karya itu dilengkapi video yang menggambarkan bagaimana masyarakat merespons keberadaan pakaian lelong.
Bagi Andas, seni tidak hanya berbicara mengenai keindahan visual. Karya juga dapat menjadi cara bagi seniman untuk menyampaikan persoalan yang ada di masyarakat.
“Semoga Art Borneo bisa terus menjadi tempat untuk seniman-seniman bisa menyalurkan tersahannya lewat ekspresi-ekspresi dari berbagai bidang. Dan masyarakat Pontianak itu juga dengan adanya pameran seperti ini, semakin bisa melek dengan kesenian, bukan hanya dari estetikanya, tapi juga dari isu-isu yang coba diangkat sama teman-teman seniman. Karena kita pakai karya seni itu untuk bersuara, itu adalah senjatanya teman-teman seniman,” tuturnya.
Baca Juga: Suara Terakhir Borneo: Sebuah Pesan dari Hutan yang Merintih
Karya tersebut turut menarik perhatian pengunjung. Rara Amyani, mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, mengetahui Art Borneo melalui TikTok. Dari sejumlah karya yang dilihat, instalasi dengan televisi tabung dan tumpukan pakaian menjadi yang paling membekas baginya.
“Yang paling aku ingat itu yang di depan warna biru, yang TV sama ada kayak tumpukan baju gitu, yang ada tulisan obral disitu tuh kayak, apa ya, dia tuh warnanya tuh kayak mencolok gitu, terus banyak tumpukan baju tuh ingetin tentang lingkungan sekitar juga. Terus tabung TV itu, aku dulu sering nonton pake TV tabung gitu, jadi keingat masa kecil sih,” kata Rara.
Bagi Rara, pameran seperti Art Borneo layak untuk terus diadakan dan dikembangkan. Ia berharap kedepannya semakin banyak karya yang dapat dinikmati dan diinteraksikan oleh pengunjung
“Semoga ini bakal diadain terus, terus semoga ini makin sukses, makin besar acaranya makin gede, eventnya makin lama, terus makin banyak karya-karya yang bisa kita interaksi gitu di dalamnya. Memang udah banyak sih disini, cuman semoga nanti kedepannya lebih banyak lagi, gitu aja sih,” ujarnya.
Harapan untuk keberlanjutan juga disampaikan Zakaria. Menurutnya, kehadiran Art Borneo menjadi salah satu bentuk semangat untuk menghadirkan kegiatan seni rupa berskala lebih besar di Kalimantan Barat, yang selama ini lebih sering ditemukan di kota seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bali.
“Tidak hanya Art Borneo mungkin nanti akan ada festival-festival seni rupa lainnya. Jadi ini suatu hal yang saya rasa penting untuk sebuah kegiatan kesenian lah di Kalimantan Barat,” ungkap Zakaria.
Art Borneo baru memasuki penyelenggaraan keduanya. Namun, dari karya yang membawa pakaian lelong, ingatan masa kecil, hingga persoalan lingkungan, pameran ini menunjukkan bahwa seni dapat berangkat dari hal-hal yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Penulis: Ara
Editor: Mia