Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sarang Semut menggelar pentas tunggal musik etnik bertajuk ReKreasi Bunyi “Tanah Merdeka 3” di Port 99 Pontianak pada Minggu (12/9). Pentas seni ini menghadirkan karya musik yang mengangkat kisah tentang perjuangan nenek moyang untuk merebut tanah mereka yang telah direnggut, serta cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kegiatan ini menjadi salah satu ruang bagi anak muda untuk menunjukkan kreativitas mereka melalui seni musik dan pertunjukan. Aqis yang merupakan salah satu tim produksi ReKreasi Bunyi “Tanah Merdeka 3”, menjelaskan bahwa karya tersebut terinspirasi dari kisah tentang nenek moyang yang kehilangan tanah mereka.
“Tanah Merdeka 3 itu musiknya menceritakan kisah nenek moyang yang bercerita tentang tanah mereka yang dulu direnggut. Jadi, mereka adalah pejuang yang berusaha merebut tanah mereka kembali dan menceritakannya kepada cucu-cucu mereka,” cerita Aqis.
Dalam proses pembuatan karya, Aqis menjelaskan bahwa mereka membutuhkan waktu yang cukup lama, sebab cerita yang diangkat sungguhan berasal dari kisah nyata. Tim produksi perlu melakukan pencarian informasi untuk memahami cerita yang menjadi dasar dari pembuatan karya.
“Musik ini dibuat, diambil dari kisah nyata, orang-orangnya sungguhan ada. Jadi kami memang harus cari informasi lebih banyak, sehingga pembuatannya cukup lama ya,” jelasnya.
Baca Juga: Menjaring Tutur: Menghidupkan Kembali Sejarah Lewat Seni Tutur
Sukses menyelesaikan pentas seni tunggal musik bersama Sarang Semut, Aqis menambahkan harapannya terkait pentas seni di Kalimantan Barat, dirinya berharap akan lebih banyak lagi pentas baik itu musik hingga teater.
“Harapan aku yang pasti lebih banyak lagi pentas seni, karena seperti yang kita tahu di Kalbar ni jarang ada pentas, baik itu pentas musik, teater dan lain-lain. Kalaupun ada pentas seni, semoga lebih banyak menarik orang untuk hadir,” tambahnya.
Pentas seni tunggal musik ReKreasi Bunyi “Tanah Merdeka 3” mendapat tanggapan dari Ratna, salah satu orang tua dari pemain musik yang terlibat. Ratna mengapresiasi adanya kegiatan seni yang menjadi ruang anak-anak untuk berkarya dan mengembangkan kreativitas.
“Sangat senang, saya menikmati acara ini karena ini sesuatu yang baru untuk saya. Terus berkarya, ini adalah ruang untuk berkarya dan mengembangkan kreativitas musik lebih baik lagi,” ujar Ratna.
Ratna menambahkan bahwa kegiatan seni ini harusnya dapat terus dilaksanakan, dan lebih banyak melibatkan anak yang memiliki minat di bidang seni. Dirinya juga berharap kegiatan seperti ini tidak hanya berkembang di Pontianak, namun juga menjangkau daerah lain di Kalimantan Barat.
Baca Juga: Pakaian Bekas hingga Lukisan, Narasi Ekologi Sosial di Art Borneo 2026
“Acara seperti ini masih kurang, harusnya kegiatan ini lebih banyak dan terus bisa diadakan. Bisa melibatkan anak-anak yang minat menjalani seni, baik seni musik maupun seni peran. Harapannya lebih baik lagi, bukan cuma di Pontianak namun daerah lain juga,” tambah Ratna.
Dengan sukses terselenggaranya Pentas Tunggal Musik Etnik Progresif Sarang Semut, bertajuk ReKreasi Bunyi “Tanah Merdeka 3”. UKM Sarang Semut tidak hanya sebatas menampilkan karya seni, tetapi juga menegaskan peran mahasiswa dan seniman dalam merawat memori kolektif tentang tanah, sejarah dan identitas. Di tengah minim dan terbatasnya ruang ekspresi seni, pentas ini menjadi salah satu bukti bahwa kreativitas tetap menjadi jalan untuk terus bersuara.
Penulis: Anjani
Editor: Mia