mimbaruntan.com, Untan – Belakangan ini saya terus bertanya kepada diri sendiri. Di tengah situasi politik yang semakin memanas, ketika berbagai kebijakan pemerintah menuai kritik, ketika polemik pembahasan RUU Polri serta menguatnya militerisme memicu penolakan dari berbagai kalangan, nilai mata uang melemah, dan ketika kenaikan harga BBM nonsubsidi secara tiba-tiba kembali menambah beban masyarakat, mengapa gerakan mahasiswa sekarang ini justru terasa bungkam.
Saya sengaja menunggu. Saya pikir akan ada konsolidasi. Akan ada pernyataan sikap. Akan ada ajakan untuk berdiskusi atau menyatukan gerakan. Nyatanya, tidak ada, adapun tapi sudah terlambat. Dari situ saya mulai bertanya, jangan-jangan persoalannya bukan lagi soal siapa yang menjadi Presiden Mahasiswa atau apa pun nama jabatan dalam struktur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Dulu saya percaya Presiden Mahasiswa adalah simbol keberanian. Bukan sekadar ketua organisasi, melainkan orang yang berdiri paling depan ketika ada ketidakadilan, ketika demokrasi sedang dikebiri oleh Prabowo beserta cs nya, dan ketika rakyat membutuhkan suara mahasiswa. Namun hari ini, keyakinan itu mulai saya pertanyakan.
Baca Juga: KKM dan Ketidakadilan Akademik di FISIP Untan
Saya tidak mengatakan bahwa semua BEM telah kehilangan arah. Masih ada organisasi mahasiswa yang tetap konsisten mengawal isu, menyuarakan kritik, dan turun bersama masyarakat. Namun harus diakui, semakin banyak organisasi yang terlihat lebih sibuk mengelola birokrasi internal daripada membangun gerakan.
Selama ini mereka selalu berbicara tentang perjuangan, keberpihakan kepada rakyat, menjaga demokrasi, dan menjadi penyambung aspirasi mahasiswa. Semua terdengar indah. Tetapi setelah itu akan tiba pada waktunya, mengapa janji-janji itu seolah menguap? Mengapa keberanian yang begitu lantang saat berbicara kepada Mahasiswa Baru di agenda PKKMB justru menghilang ketika keadaan benar-benar menuntut sikap?
Kalau akhirnya jabatan seperti itu hanya melahirkan kabinet, rapat kerja, program kerja, dan seremoni tanpa keberanian untuk mengorganisasi mahasiswa, saya rasa sudah saatnya kita mempertanyakan kembali relevansi jabatan itu. Mahasiswa tidak membutuhkan gelar yang terdengar besar. Mahasiswa membutuhkan pengorganisir. Seseorang yang mampu menyatukan keresahan, membangun kesadaran bersama, dan mengubah kegelisahan menjadi gerakan demonstrasi besar-besaran dan masif.
Yang membuat saya semakin khawatir adalah budaya yang perlahan tumbuh di dalam organisasi mahasiswa. Jabatan seolah menjadi tujuan, bukan amanah. Kedekatan dengan pejabat kadang lebih dibanggakan daripada kedekatan dengan mahasiswa yang diwakili. Dokumentasi bersama elite politik lebih cepat memenuhi media sosial dibandingkan pernyataan sikap terhadap persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.
Baca Juga: Kementerian HAM BEM Untan: Perlindungan Hak Asasi Mahasiswa Secara Menyeluruh
Padahal sejak lahirnya Reformasi, mahasiswa dihormati bukan karena memiliki jabatan. Mahasiswa dihormati karena keberaniannya mengoreksi kekuasaan. Karena keberpihakannya kepada mereka yang tidak memiliki ruang untuk didengar. Karena kesediaannya mengambil risiko ketika banyak orang memilih diam.
Saya tidak sedang mengajak mahasiswa membenci organisasi. Organisasi tetap penting sebagai wadah belajar dan ruang membangun kepemimpinan. Tetapi organisasi akan kehilangan makna jika lebih sibuk mempertahankan citra daripada mempertahankan keberanian.
Mungkin yang perlu kita bangun kembali bukan sekadar organisasi yang lebih besar atau jabatan yang lebih bergengsi. Yang lebih mendesak adalah menghidupkan kembali semangat bahwa setiap alat pergerakan mahasiswa bukan miniatur pemerintah. Mahasiswa adalah kekuatan moral yang bertugas mengawasi kekuasaan, menyampaikan kritik, dan berdiri bersama rakyat ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Sebab pada akhirnya, mereka suatu hari tidak akan pernah bertanya siapa yang pernah menjadi Presiden Mahasiswa. Mereka hanya akan mengingat siapa yang memilih tetap bersuara ketika banyak orang memutuskan untuk diam, apatis, dan takut untuk melawan.
Penulis: Halilintar