Sudah lebih dari setengah abad Kartini dikenal sebagai perempuan yang menghantar kaumnya pada gerbang kebebasan menentukan pilihan hidup sendiri. Nilai-nilai yang ia perjuangkan katanya menjadi pondasi penting dalam kehidupan perempuan masa kini. Hingga zaman berganti, muncul istilah yang lebih adaptif untuk merayakan semangatnya. “Kartini masa kini” tidak lagi dikenang melalui kajian intensif perempuan dan kesetaraan, tapi sekiranya sudah cukup bila dengan berkebaya saja.
Setidaknya begitulah dilema mengenai seperti apa Kartini seharusnya dikenang. Hampir di banyak sekolah atau tempat bekerja, peringatan seremonial dengan parade kebaya dan lomba-lomba bertema tradisional tampak lebih menarik dibanding semangat kesetaraan yang diimpikan Kartini lewat tulisannya. Kebiasaan ini kemudian menjadi semacam tradisi, bahwa perempuan boleh mencontoh kartini tanpa harus menjadi kartini di masanya, yang resah akan pembatasan pendidikan bagi perempuan Jawa. Bahkan kala itu, Kartini dianggap sebagai serangga berisik melalui surat-suratnya, karena menyentil belenggu tradisi tentang anak perempuan yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena dipingit untuk kemudian dipersiapkan menikah.
Di banyak artikel, berkebaya dimaknai sebagai simbol keanggunan dan kesopanan bagi perempuan, lalu tidak lepas pula pada sejarah mengenai bagaimana mekanisme orde baru yang berusaha mereduksi perempuan atas nama pembangunan. Perempuan pada masa itu memang diberdayakan, namun tidak lepas dari fungsi domestik untuk mendampingi kaum laki-laki. Kerjanya tidak jauh pada peran mengurus keluarga, mengelola rumah tangga, dan menjadi pendamping yang setia bagi suami, namun dikemas dalam program mulia yang saat ini kita kenal dengan istilah PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga). Pada praktiknya, perempuan yang tergabung dalam PKK tidak hanya mengemban tugas pada keterampilan rumah tangga saja, melainkan juga misi politik negara yang disuntikkan melalui program P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), di mana Ibu rumah tangga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme ala orde baru. Melalui program ini terjadilah kontrol negara akan perempuan pada tingkat yang paling krusial, yaitu jantung rumah tangga. Bermula dari sana, perempuan pelan-pelan ditempatkan pada sosok Ibu pasif, dengan segala urusan domestik, lalu menjadi simbol estetika dengan berdandan cantik, salah satunya melalui memakai kebaya.
Baca Juga: Menjadi Kartini Masa Kini, Bersuara Lewat Karya
Lalu muncul pemahaman baru, bahwa di masa modern ini tradisi berkebaya merupakan penghormatan akan esensi kartini dalam simbol visual. Padahal jika direnungi lebih dalam, perayaan Hari Kartini dengan hanya melihat dari pakaian telah menggambarkan bahwa hampir tiga dekade berjalan pun, kita masih belum lepas dalam bayang-bayang setir Soeharto. Merawat semangat Kartini melalui pakaian menjadi salah kaprah sebab distorsi makna yang merepresentasikan perempuan hanya dari objek serta sistem patriarki di masa kolonial.
Maka dari itu, Kartini masa kini bukan lagi tentang seberapa bercorak atau modern kebaya yang perempuan kenakan dengan bangga, tetapi juga keberanian untuk keluar dari belenggu nostalgia atas nama budaya atau tradisi. Setiap langkah pertama yang perempuan ambil karena mimpinya, itulah kartini masa kini. Sebab Kartini tidak menjadi “putri sejati” hanya karena keanggunan, melainkan juga semangat kepedulian akan kesetaraan hak perempuan.
Penulis: Fitri
Referensi
Ibuisme Negara dan Penertiban Perempuan di Indonesia: Sejarah dan Kontinuitas | JalaStoria.id
Nina, Bela Sabila, dan Mahfud. “Kebijakan Pemerintah terhadap Gerakan Perempuan Indonesia pada Masa Orde Baru.” Jurnal Sangkala 4, no. 2 (2025): 61–70.